Fenomena latah di
dunia bisnis bukan hal aneh. Bahkan, sulit memisahkan antara bisnis dan latah.
Seperi halnya ketika dua tahun lalu dunia
kuliner tanah air dimarakkan oleh kemunculan rainbow cake yang kemudian
menjadi fenomena, seolah tak ingin ketinggalan tren, hampir semua bakery
di kota-kota besar berlomba-lomba menciptakan kudapan berwarna pelangi itu
dalam berbagai macam bentuk. Fenomena latah di dunia bisnis bukan hal aneh.
Bahkan, sulit memisahkan antara bisnis dan latah.
Dalam memulai
bisnis, seorang pengusaha sebaiknya memilih bidang yang sesuai dengan
ketertarikan. Hal itu penting, karena bisnis yang dilakukan berdasarkan passion
hasilnya akan lebih optimal.
Saat ini ada istilah
happynomics, yang berarti melakukan bisnis sesuai passion tapi
tetap memiliki nilai ekonomis. Sebab, bila perasaan senang sudah didapat,
keuntungan dan kesuksesan pun akan mengikuti dengan sendirinya. Kare berbisnis
yang didasari oleh rasa happy akan dikerjakan dengan lebih total
sehingga dapat menghasilkan nilai ekonomis yang sepadan
Rasa happy biasanya memengaruhi
kesuksesan berbisnis. Sayangnya, pelaku bisnis yang merasa sudah berada di puncak
keberhasilan cenderung berpuas diri dan berhenti melakukan inovasi. Kalaupun
ada keinginan berinovasi, hal tersebut tak segera dilakukan
Padahal,
melakukan inovasi di saat grafik penjualan berada di atas adalah lebih tepat
dibanding menunggu penjualan sedang menurun.Sehingga membangkitkan minat
pelanggan untuk membeli lebih banyak lagi.
Sebaliknya,
apabila ide inovasi tak segera diwujudkan, maka bisa menyebabkan kegagalan
berbisnis. Hal itu terjadi pada perusahaan kamera film Kodak, yang akhirnya
jatuh karena kalah dengan eksistensi kamera digital. Padahal, Kodak-lah yang
sesungguhnya menciptakan kamera digital pertama di dunia. Karena khawatir
mengganggu penjualan kamera film yang saat itu sedang berada di puncak, Kodak
malah menghentikan produksi kamera digital. Ironisnya, tak lama setelah itu,
kamera digital produksi kompetitor justru meledak. Masyarakat juga mulai
beralih dari kamera film ke kamera digital. Kondisi itu membuat Kodak tak
bisa berkutik, hingga akhirnya mengalami kemerosotan bisnis.
Lalu, bila ide
berinovasi sudah ada di kepala, hal apa lagi yang harus dilakukan agar
pelaksanaannya lebih total? Dalam berinovasi yang penting adalah menentukan functional
value. Hal inilah menjadi fondasi, baru kemudian dibarengi dengan emotional
value. Agar bisnis bertahan lama, kedua nilai tersebut harus saling
menunjang.
Starbucks misalnya, kedai
kopi asal Seattle,
Amerika Serikat, ini sebagai salah satu produk yang sukses menyeimbangkan nilai
fungsional dan emosional, yakni rasa kopinya yang lezat. Hal itu dibarengi
dengan emotional value lewat konsep kafetaria yang nyaman. Sehingga,
pelanggan yang mengunjungi Starbucks tak hanya untuk menikmati kopinya, tapi
juga untuk hang-outg sekaligus
bergaya
Produk yang
dijual dengan nilai fungsional dan emosional yang tepat terbilang lebih dapat bertahan
lama daripada produk yang hanya memenuhi nilai fungsionalnya saja. Karena
produk tersebut dapat lebih diingat pelanggan
Nah, tunggu apa
lagi? Segera wujudkan ide inovasi bisnis sekarang juga, sebelum para pesaing di
luar sana
‘merampas’ ide Anda.
0 komentar:
Post a Comment