Thursday, March 4, 2010 0 komentar

Mengemis, karena Kemiskinan atau "Hobi" ?



Karena Jasmine demam, maka 2 malam aku nyaris tidak tidur. Rencananya setelah ritual melepas Vania - Rifda berangkat sekolah, aku mau membayar utang tidur. Kepala sudah keliyengan, serasa diatas ombak...(lagi naik kapal dongg...:D ). Baru saja merebahkan badan, tiba-tiba...
"Assalamu'alaikum, Ibu nya ada ngga? "
Aduh, tamu siapa lagi nih....
Terdengar suara Ema menjawab, "Ibu sedang istirahat , abis semalam begadang, anaknya sakit"
"Tolong dong, penting sekali, bilangin ya ibunya Novitasari datang" si Tamu terdengar memaksa.

Kamar tidurku yang terletak didepan, sangat jelas mendengar percakapan Ema vs "Ibu-nya Novitasari". Mau ngga mau saya harus bangun menghadapi Sang Tamu.

"Ibunya Novita Sari" (dia sendiri ngga pernah mau jawab kalau ditanya namanya) kemudian mengeluh panjang lebar, yang intinya meminta bantuan untuk biaya sekolah anaknya sebesar Rp. 150.000,-

Setelah dia pulang, saya telepon ke sekolah Novita sari (si Ibu pernah menjelaskan bahwa anaknya sekolah di X,maka saya cari no telp sekolahnya via 108). untuk mencari informasi mengenai anak tsb.
Pegawai administrasi SMK X menyatakan bahwa memang ada seorang anak bernama Novitasari. Anak yatim dari keluarga tidak mampu. Namun semua biaya sekolah dan kegiatan sekolah sudah ada donatur yang tiap bulan menyantuninya.
Terus, apakah sekarang anak tsb sedang PKL yang mengharuskan membeli seragam dan sepatu hingga Rp. 150.000 ?
Jawaban dari pegawai SMK X tsb ternyata, untuk PKL siswanya hanya cukup memakai baju seragam biasa. (Saya jadi ingat, dulu saya juga PKL hanya memakai baju seragam sekolah juga).
Lalu, uang Rp. 150.000 buat apa dong?
"Mungkin buat biaya makan sehari-hari 'kali Bu" Jawab Pegawai SMK X.

Saya kecewa berat. Saya merasa dibohongi.

Dan ini bukan kali pertama dia datang kepada saya, sudah berkali-kali. Dan karena dia selalu mengatas namakan kebutuhan anaknya yang sekolah, saya usahakan untuk memberi sumbangan ,meskipun karena keterbatasan dana tunai saya saat itu saya kadang tidak memberi sesuai "proposal" si Ibu yang selalu ratusan ribu rupiah.

Disisi lain, ada seorang Ibu (sebut saja Ibu B) yang setiap hari berkeliling berjalan berkilo-kilo meter ,bersama anak gadisnya, menjajakan telur ayam dan rempeyek.
Suatu hari, karena tidak ada uang dengan nominal yang lebih kecil, saya membayar lebih Rp. 5000,-. Keesokannya si Ibu B datang kembali ke rumah mengembalikan kelebihan uang tsb. Saat itulah dia bercerita, bahwa dia juga seorang janda dengan 4 orang anak yang masih sekolah. Salah satunya adalah anak gadisnya yang selalu ikut berjualan dengannya.

Bunda saya juga, ketika Bapak saya meninggal, kami 7 bersaudara semua masih bersekolah. Namun, tidak pernah terbersit sedikitpun dibenak Bunda untuk mengemis. (Kalaupun terpaksa berhutang ke sanak saudara, tetap diusahakan membayar sampai rupiah terakhir.)
Bunda dengan segala daya upayanya bekerja keras, segala macam profesi dicobanya, dari pedagang kelontong sampai makelar TKI, demi mendapatkan uang untuk menghidupi anak-anaknya.

Jadi, apakah kemiskinan bisa dijadikan alasan untuk mengemis?
0 komentar

KEDONDONG ATAU DUREN ???


Financial Planning:
Ditulis Oleh Freddy P
========


Saya memakai Kedondong untuk istilah Berondong (bujang) dan Duren untuk Duda , -Keren atau tidak, itu urusan Anda-.
Mana yang lebih baik? Menikah dengan Kedondong atau dengan Duren?
Tidak ada jawaban yang benar untuk segala kondisi, sehingga harus Anda pelajari dan kaji lebih dalam, dan setelah itu baru dapat Anda tentukan mana yang terbaik bagi Anda.
Saya tidak akan membahas dari sudut kesehatan, kekuatan dan stamina sex; atau pengalaman hidup atau tidak.
Saya hanya akan mengupas dari sudut keuangan, sesuai dengan profesi saya sebagai Financial Planner.
Mari kita mulai untuk mengkajinya:

1. Kedondong A (usia di bawah 30 tahun)
Biasanya baru mulai menata karir, sehingga belum memiliki aset (kecuali dia anak konglomerat) .
Bila Anda seorang perawan yang "ber-orientasi Asset", maka tipe Kedondong A, bukanlah sasaran target Anda.
Secara Financial Character  dan Attitude, Kedondong A ini belum matang, namun masih bisa dibentuk. Kedondong A, sangat sesuai dengan "Pepaya A" (Perawan ingin Kayadi bawah usia 30 tahun).
Bangunlah bersama dari awal, jauh lebih nikmat.

2. Kedondong B (usia 30 - 40 tahun)
Karir sudah nampak cerah (atau sebaliknya),dan sudah memiliki Asset (walau belum banyak).
Dalam rentang usia 30 - 40 tahun ini, sudah terlihat apakah karir Kedondong B ini akan meningkat atau mendatar saja sepanjang Zaman.
Dia sudah mulai menabung dan memiliki beberapa asset sebagai akumulasi selama 5 - 10 tahun terakhir dia bekerja, atau malah sebaliknyadia juga belum memiliki asset apapun dan bahkan menabung Liability segunung.
Sehingga Kedondong B terbagi 2 golongan yaitu:
- Kedondong B+ (artinya Kedondong Bright)
- Kedondong B- (artinya Kedondong Bloon)
Hati2lah Pepaya tipe B, karena bila Anda salah memilih maka Anda akan mendapatkan Kedondong Bloon.
WASPADALAH!! !


3. Kedondong C (usia 40 - 50 tahun)
Kedondong tipe C ini, sudah matang dalam emosi dan karir,serta mapan dalam ekonomi dan keuangan.
Dia sudah memiliki asset yang memadai sebagai bekal masa depan,rencana sudah tertata sejak awal, dan terus menggalang dana.
Dia sudah memiliki "Platform" & "requirement" cukup tinggiakan perawan macam apa yang dia inginkan.
Kedondong C akan menyukai Perempuan B (Bright) atau Perempuan C (Cantik).
Kedondong C inipun ada 2 jenis, seperti Kedondong B, yaitu:
- Kedondong C+ (Kedondong Carrat) 24 karat seperti Logam Mulia.
- Kedondong C- (Kedondong Culun), masih bloon aja dari dulu.


------------ ---
Kelebihan:
Kedondong A, B dan C: tidak memiliki liability atas keluarga lama dari istri pertama atau ke dua atau ke tiga dan seterusnya.
Namanya aja bujang (kalo anak asuh mungkin dia miliki, tapi bukan istri asuh)
------------ ---

4. Duren A (Duda Keren atau tidak keren terserah elo aja)
usia dibawah 30 tahun:
Tidak memiliki tanggungan istri, karena istri meninggal dan tidak memiliki anak.
Duren A dibagi 2 juga:
- Duren A+ (memiliki pekerjaan mapan & asset nil)
- Duren A- (pengangguran dan banyak hutang)

Ayo, mau pilih yang mana?
Bisa memilih yang baik 'kan, seperti kala Anda milih buah atau sayur?

5. Duren B (usia 30 - 40 tahun)

Duren B ini bercerai dengan istri-nya, namun tidak memiliki anak. D
Duren ini masih menafkahi istrinya, selama menjanda.
Duren B dibagi 2 juga:
- Duren B+ (memiliki jabatan/posisi tinggi & asset cukup)
- Duren B- (pekerjaan seadanya & asset nil)

6. Duren C (usia 40 - 50 tahun)
Duren C ini bercerai dengan istrinya dan memiliki anak-anak dari istri terdahulu.
Dia memiliki tanggungan yang segunung, harus menafkahi istri dan anak-anaknya, termasuk biaya pendi-dikan hingga Sarjana (S1).
Duren C ini dibagi beberapa:
- Duren C+ (jabatan puncak, gaji masih cukup bayar tanggungankeluarga lama + keluarga baru, asset memadai)
- Duren C nol (jabatan puncak, gaji ngepas dan cenderung kuranguntuk membayar dua keluarga yang menjadi tanggungannya, assettidak ada)
- Duren C- (jabatan pas-pasan, gaji tidak cukup untuk membayar2 keluarga, asset nil)
Mestinya Duda C ini, sebelum memutuskan untuk "membuka cabang"ataupun "kantor perwakilan" harus menghitung dahulu "Cash Flow"serta "Asset & Liability"-nya.

Jangan sampai berani buka cabang, kemudian Kantor Pusat malah tutup.
Berani berbuat, berani bertanggung jawab, itu namanya LELAKI SEJATI.
Yang lain, pasti "Lelaki Hidung ...." (silahkan teruskan sendiri).

------------ ---

So bagi Anda kaum PEPAYA, silahkan pelajari "Risk Profile"dari masing-masing Kedondong atau Duren yang ingin Anda pilih.
Anda harus hati-hati, kadang dari luar terlihat "Ranum" dan"Matang", tetapi sebenarnya menyimpan buah "Asam" atau "Busuk".
Jangan salah pilih, jangan sampai Anda menyesal.
Sekali Anda melangkah, kemudian gagal, maka Anda akan menjadi"JAMBU" A atau B atau C (Janda Kelambu), dan bukan "Pepaya" lagi.

------------ --

Semoga bermanfaat.




 
;