Tuesday, June 23, 2015 0 komentar

Mengalahkan Ketakutan



Sadar ngga sih, kalau sejak bayi 'baru lahir sampai detik ini, kita mengalahkan banyak sekali ketakutan-ketakutan?

Saat lahir kita menangis keras,selain sedang mengembangkan fungsi paru-paru, tentu seorang bayi merasa takut karena pertama kalinya kehilangan rasa nyaman dan aman berada di dalam kandungan ibu.
Lalu takut jatuh saat belajar merangkak dan belajar berdiri.
Takut teman asing saat masuk sekolah pertama kali .
Dan seterusnya.

Jutaan ketakutan telah kita kalahkan.
Hanya sedikit ketakutan yang tidak bisa kita taklukkan.
Namun yang sedikit itu begitu terasa mencekam, sehingga kadangkala mengurangi keindahan hidup kita.

Saya pernah menuliskan bahwa saya merasa demikian takut terhadap laut. Saat itu laut begitu menyeramkan buat saya. Penuh misteri. Dan saya berusahaan tidak mau berada lebih jauh dari garis pasir pantai. Air laut hanya "saya ijinkan" maksimal menyentuh sedalam lutut saya.
Berlayar?
Boro-boro!

Lalu saya memaksakan diri melaut.
Dan meskipun belum sampai taraf mencintai laut, tapi sekarang saya suka bermain di laut. Walau akibatnya kulit jadi kelam.
Saya tidak takut lagi terhadap laut melainkan menjadi sangat respek.
Laut itu ternyata....
ternyata...
Ah, main aja sendiri ke laut, biar bisa merasakan keagungan Pencipta laut.

Ketakutan lain yang baru beberapa pekan lalu saya kalahkan adalah ....
MOBIL MATIC!!!
Hahaha..
Iya. Mobil Matic.
Januari saya "dapat" mobil matic dari suami, karena katanya kasihan dengan betis saya yang makin "mbecak", gegara Jakarta kian macet.
Sejak sebelum mobil itu ada, saya selalu berkilah : "tough women use 3 pedals". Tapi sejatinya saya ngeri karena mendengar dan membaca berita mobil matic yang ajaib bisa meloncat dan terbang saat dinyalakan. Kalau meloncat dari lantai 3 gedung parkir kan jadi rempeyek hancur saat sampai dibawah.
Ditambah pengalaman pribadi saat menebeng teman. Ketika mobilnya berjalan mundur akan diparkir, mobil matic itu meluncur kencang. Untung masih diselamatkan Allah. Tidak menabrak orang yang kebetulan lewat di belakang mobil.
Maka saya cuek membiarkan tuh mobil ngejogrok di garasi. Saya tetap setia dengan "mobil sejuta umat" yang berkopling itu.
Lalu kebahagiann saya berdampingan dengan si Apanjah berakhir saat ada Sales baru. Dan daripada mengharap diantar kesana-kemari saya pun memberanikan diri menstater si Matt(ic).
Daaannn.. selamatlah saya pergi-pulang
Ke dan dari Indomaret.
Lalu, makin jauh,
makin jauh,
Alhamdulillah, akhir pekan lalu berhasil sampai Taman Mini pergi-pulang tanpa aksi si Matt "terbang dan melompat".

Pekan ini rencana ke Cirebon, kerja sekaligus njajal Cikapali.
Kuncinya adalah belajar.
Belajar supaya tahu
Belajar dari kesalahan.
Dan tentu berdoa
Biar selamat dunia akhirat.
Aamiin.

Monday, June 22, 2015 1 komentar

Mbak Titi vs Mbok Sri



Mbok Sri adalah pedagang kue keliling. Dia menjaja dagangannya hingga ke pelosok gang di sebuah kampung. Cara unik Mbok Sri berjualan adalah menghutangkan kue-kue tersebut dan menerima pembayaran dari konsumennya secara mencicil. Biasanya sebungkus kue seharga 10.000 dicicil dalam waktu 5x bayar. Sehari 2.000 jika yang dihutang hanya 1 bungkus kue.

Mbok Sri si tukang kredit kue cukup terkenal di kampung tersebut, karena sering menjadi penyelamat di saat anak merengek minta jajanan sementara orang tuanya tidak punya duit. Atau jika tiba-tiba datang tamu dan tidak punya panganan untuk disuguhi.

Suatu hari Mbak Titi, salah satu penghuni baru di kontrakan Haji Zulham pusing karena sebentar sore mertua akan datang sowan, sementara ia sedang tidak punya uang untuk membeli penganan.
"Masa mertua datang jauh-jauh di 'anggurin', sih" Begitu pikir Mbak Titi.
Lalu dia teringat pada Mbok Sri yang tenar itu.

Kebetulan siang itu Mbok Sri muncul di deretan rumah-rumah kontrakan Haji Zulham.
"Mbok Sri, sini dong, bawa dagangan apa?" Panggil Mbak Titi.
"Wah, macem-macem, Mbak. Ada Nastar Safira yang terkenal enak itu, (teteup ya, promo), ada kue lupis, banyak nih Mbak. Semuanya 10.000 perbungkus." Mbok Siti dengan semangat menghampiri calon customernya.
"Nastarnya beneran enak nih Mbok? Ngga keras kan?" Tanya Mbak Titi
"Aduh, Mbak. Ini sih udah paten banget deh. Cobain aja, nih" Mbok Sri menawarkan nastar untuk dicicipi.
"Maaf, Mbok. Aku sedang puasa. Aku percaya aja deh ama Mbok Sri kalau Mbok bilang enak. Aku ambil 5 bungkus ya. Tapi, ssttt, aku ngutang dulu ya, Mbok" Kata Mbak Titi.
"Oh, puasa apa tho, ini kan bukan hari Senin atau Kamis. Ramadhan juga masih bulan depan?" Tanya Mbok Sri.
"Justru itu Mbok. Puasa Ramadhan kan bulan depan. Nah, saya masih ada hutang puasa tahun lalu nih. Seminggu." Kata Mbak Titi sambil memilih-milih nastar yang akan dihutanginya.
"Waduh..waduh...Maaf Mbak Titi, ma'aaaaffffff banget. Saya ngga bisa 'ngutangi Mbak Titi." Mbok Sri buru-buru berkemas.
"Loh kenapa? Nanti kalau suamiku gajian dari pabrik hari Sabtu saya bayar lunas kue-kuenya, Mbok"
"Maaf, Mbak Titi. Saya ngga percaya. Lah wong hutang puasa yang wajib dan 'ngutangnya ama Gusti Allah saja sampai 11 bulan baru mau dibayar. Itu juga karena sudah deadline. Lah, bagaimana kalau 'ngutang sama saya? Kapan bisa bayarnya? Nanti tiap saya tagih malah tar-sok-tar-sok melulu. Sudahlah, saya pamit ya Mbak Titi. Permisi. Assalamu'alaikum." Mbok Sri pun buru-buru pergi meninggalkan kontrakan Haji Zulham.
Meninggalkan Mbak Titi yang terbengong-bengong.

*nama dan kejadiaan hanya rekaan semata*
Disadur dari status FB

Friday, June 19, 2015 0 komentar

Strategi Pemasaran Paling Efektif



Menurut ‘Infusionsoft’, 'word-of-mouth” alias getok tular adalah strategi pemasaran yang paling efektif bagi UKM.
Strategi lain yang juga dianggap efektif adalah email (34%), Networking (25%), media sosial (23%), Search Engine Marketing alias SEO/SEM (14%), dan Content Marketing  (13%).
Sedangkan iklan melalui televisi / radio memiliki keefektifan hanya sekitar 2%.
Sumber Gambar : Infusionsoft




















Bagaimana jika produk anda adalah sebuah produk yang benar-benar baru lahir? Bagaimana menciptakan word of  mouth?
Anda bisa menggunakan beberapa cara diantara menyewa seseorang yang memiliki banyak follower serta berpengaruh positip dalam sebuah komunitas sebagai corong bicara untuk produk anda. Atau dengan cara membuat sebuah event di lokasi usaha anda, atau aktif berkampanye di sosial media, dan sebagainya. Untuk menjadi sebuah trend setter baru produk anda harus unik namun bisa diterima masyarakat.

Jika anda ingin menggunakan sarana email sebagai bagian dari alat marketing anda, pastikan bahwa penerima email adalah orang yang sukarela menerima update informasi dari anda secara rutin.
Saya sangat tidak menyarankan anda membeli database alamat email receiver dari penjual database. Adalah sangat penting receiver merasa 'rela' menerima email anda sehingga ia sendiri memberikan datanya pada anda.
Apakah ada orang yang mau memberikan alamat emailnya dengan sukarela?
Banyak.
Asalkan mereka meyakini bahwa setiap email dari anda kelak akan bermanfaat bagi mereka.
Lalu bagaimana membuat konten email yang bermanfaat?
Tulislah isi email berdasarkan kebutuhan penerima. Bukan hanya berisi hal-hal yang penting dari sisi anda. Untuk itu anda bisa bertanya atau melakukan survey. Berdirilah pada posisi penerima email anda.

Strategi berikutnya agar anda dikenal, tidak bisa tidak, anda harus berjejaring. Networking adalah segalanya dalam sebuah bisnis. Dari jejaring, anda bukan hanya akan mendapatkan konsumen tetapi juga supplier, jaringan distribusi, sumber pemodalan dan sebagainya. Makin luas jejaring bisnis anda  maka akan makin luas juga sebaran penyangga bisnis bisa anda dapatkan.
Thursday, June 18, 2015 0 komentar

Pelajaran Dari "The World's Most Authentic Brands"


Saya baru saja membaca sebuah artikel menarik, yang isinya menyatakan McDonald's, Samsung, dan Apple dinyatakan sebagai "The World's Most Authentic Brands".
Diikuti oleh Starbuck, Walmart dan Carrefour.

Setelah membaca dari artikel yang lumayan panjang itu saya mengintisarikan sebagai berikut :
Customer yang disurvey menyatakan bahwa
1. 91% konsumen puas akan 'kejujuran' tentang produk
2. Mengakui bahwa telah dilakukan inovasi yang terus menerus
3 Produk dirasa bermanfaat bagi konsumen
4. Produk lebih unggul dibanding kompetitor
5. Produk lebih populer dibanding kompetitor.

Yang bisa dipelajari dari "Brand-brand" tersebut adalah :
1. Be clear from the start about your business practices (terjemahin aja sendiri, yak).
Transparansi.
Dalam hal kebijakan perusahaan, administrasi dan keuangan terutama yang berhubungan dengan pajak,
Biar ngga puyeng nanti-nanti.

2. Stick to what you know.
Starbucks biarpun berjualan kopi, sampai saat ini belum membeli perkebunan kopi sendiri.
Apple dalam membuat dan merakit produknya masih 'makloon'. Padahal kalau mau beli pabrik sendiri , bisa banget.
Mereka terus dan makin mempertajam keahlian mereka sebelum expand ke bidang lain (Plak! tampar pipi sendiri)

3. Give customers a voice
Saat ada sebuah film dokumenter berjudul "Supersize Me" yang berpotensi memporakporandakan bisnisnya, cara McD "melawan" bukannya dengan mati-matian menyangkal film dokumenter tersebut, melainkan dengan membuat sebuah program "Our Food Your Questions" yang membebaskan konsumen bertanya apapun tentang 'jerohan' produk mereka, termasuk pertanyaan-pertanyaan ngaco pun mereka jawab dengan baik. Saya sudah buka website nya. Ada sebuah pertanyaan unik : "Benar ngga sih French Fries dibuat dari kentang asli?"

4. Learn to turn PR disasters into opportunities
saat Greenpeace menyerang McD dengan isu bahwa kemasan stirofoam akan merusak bumi, McD malah bergabung dengan Greenpeace untuk mendukung program mereka dan mengubah kemasan menjadi karton yang lebih mudah terurai. Lalu ikutan kampanye "Planet Champion Programme"

5. Be consistent
Yah, konsistenlah. Jangan berbisnis kalau pas lagi mood aja. Jatuh-bangun-jatuh-bangun, sudah biasa dalam mebesarkan bisnis.

Tuesday, June 16, 2015 0 komentar

Broadcast Mesage Jangan Bikin Kesal

Booosseeeeennnnn tau isi broadcast messagemu itu-itu aja!
"Kami menjual baju dengan kualitas paling ok, harga paling murah, stok model berlimpah ruah, ukuran lengkap blablabala...."

Hadeughhh...
Berapa juta orang pedagang yang broadcast message mirip-mirip begitu.
Penerima  'aware' ama produkmu kalau emang pas butuh ,pas kamu broadcast.
Kalau pas ngga butuh yang ada mereka keseeell. Ponselnya tang-tung berkali-kali ternyata pesan yang diterima isinya  hal yang ngga penting.

Saya ngga pernah kirim pesan massal yang sama plek ke titik koma, harus berbeda. Harus ada "personal touch"-nya, walau isi pesan sama ke tiap customer/supplier , saya jarang lupa mengisi nama penerima pesan.
Capek?
Yaiyalaaaahhh...
Karena saya masih yakin bahwa yang saya kirimi dan yang akan membaca broadcast saya adalah manusia. Bukannya mesin.
Dan selama ia masih manusia dan belum berwatak mesin, pasti masih seneng di-manusia-kan.
Kalau ia beragama, setidaknya mengucapkan 'Aamiiin' saat membaca contoh broadcast ini:

Selamat Pagi, Bapak XXXX / Ibu YYYY
Saya Rinny dari Harvest Chemical.
Saya sekedar menyapa Bapak/Ibu pagi ini serasa mendoakan agar Bapak /Ibu sekeluarga sehat selalu, murah rezeki dan selalu dalam perlindungan yang Maha Kuasa. Semoga hari ini dan hari-hari selanjutnya keberkahan dan kesuksesan dapat kita raih bersama.
Salam Hormat,
Rinny Ermiyanti.



0 komentar

Pentingnya Izin Suami



Menikmati sore di akhir pekan, saya leha-leha membaca artikel-artikel di K. Dan seperti biasa artikel yang paling dulu saya baca biasanya artikel Headline.
Selain isi artikel, saya membaca juga komentar-komentar yang masuk karena kadang kala lucu, inspiratif atau memberi persfektif yang berbeda. Maklum 'isi kepalanya' tiap orang kan berbeda.
Nah, di artikel yang saya baca, ada salah satu komentar bernada hujatan yang membuat saya terkejut. Lalu ternyata hujatan-hujatan tersebut ada disetiap artikel yang ditulis oleh penulis itu. Intinya tentang ' Si Penulis tidak mendapat izin suami'. (mungkin suaminya terlalu baper sampai ngejam setiap tulisannya.

Saya tidak akan menulis tentang 'komentar negatip' tersebut, tapi lebih kepada izin pasangan pada setiap kegiatan yang dilakukan .  Karena saya seorang istri, lebih tepatnya izin suami.

Saya memahami, hobi yang ditekuni terlalu getol juga menyebabkan pengabaian terhadap hal lain. Dalam diri saya adalah hobi membaca. Saat saya sudah membuka sampul sebuah novel, majalah atau buku apapun, kebiasaan saya adalah selalu berusaha menuntaskan bacaan dalam 'sekali duduk'. Yang berarti bisa berjam-jam. Jika dilakukan saat senggang tidak masalah. Tapi kadang-kadang saya 'iseng' memulai kegiatan membaca diantara kegiatan lain. Akibatnya kemudian, beberapa pekerjaan terbengkalai atau suami dan anak-anak terabaikan karena saya jadi 'terlena' untuk terus membaca. Susah berhenti. Lebih tepatnya sih ngga mau berhenti karena penasaran dengan isi bacaan tersebut.

Lalu mulailah suami komplain. Kadangkala pakai bumbu ngomel.
Karena yang paling sering merasa diabaikan atau merasa akibat dari 'saya tidak tahu waktu' adalah suami.
Sering merasa aneh sih, untuk membaca sebuah novel saja, saya harus izin suami.
"Besok Minggu saya mau baca novel ini sampai tuntas ya, soalnya kalau baca sepotong-sepotong feel nya ngga nyeresep."
Jawaban suami memang lebih banyak “Hhmmm..” yang berarti setuju. Tapi tidak jarang juga ia meminta saya menunda. Karena jika sampul novel terlah dibuka berarti dari pagi, mungkin sampai siang, -bahkan menjelang malam jika novel setebal Harry Potter jilid 7- saya minta jangan diganggu gugat dari keasikan membaca.
 
Jika sudah begitu, berarti beberapa urusan harus dihandle suami sendiri.
Dan suami harus legawa jika mendapati istrinya seperti hilang meskipun ada.

Begitupun dalam kegiatan lain, seperti menulis cerita, berbisnis, ikut seminar atau workshop. Bahkan ke pasar pun saya butuh izin suami (kalau ini sih, kali aja dianter, lumayan irit ongkos ojek)
Tanpa izin suami sebenarnya semua bisa saya kerjakan. Tapi yah gitu, Suami pasti akan merasa terabaikan. Ujung-ujungnya kesal bahkan bisa marah.

Rasa kesal dan marah pada pasangan hidup sering terjadi jika komunikasi suami-istri mampet. Tak jarang komunikasi yang tersumbat total menjadikan dunia maya sebagai jalan penyalurannya. Namun akibatnya sekian ribu orang teman dunia maya tahu sedang pecah perang dunia ketiga di rumah tangga kita.

Sunday, June 7, 2015 0 komentar

Trip Ke Belitung (Tamat)

Selasa 2 Juni 2015

Hari ini adalah hari terakhir Trip di Belitung ini. Pesawat Sriwijaya Air yang akan kami tumpangi akan mengudara pada pukul 12.05. Maka kami memanfaatkan waktu yang terbatas ini untuk mengunjungi beberapa obyek wisata yang dekat dan berada di dalam kota Belitung. Hari ini saya menyewa mobil lengkap dengan supirnya agar bisa sekalian mengantar kami nanti ke Bandara.
Destinasi wisata yang pertama kami kunjungi pagi itu adalah Pantai Tanjung Tinggi. Kami tiba di tempat ini sekitar pukul 07.30 sehingga pantai masih sepi dari pengunjung.
Pantai yang berjarak sekitar 30 km dari pusat kota Belitung ini memiliki pemandangan alam yang luar biasa. Pantai yang bersih, berpasir putih dengan air laut yang jernih membuat Jasmine dan Safira berkali-kali merengek ingin bermain pasir dan berenang. Tapi tentu saja Mama galak  ini melarang. Wong  sebentar lagi mau pulang. Malas saja jika harus memandikan ulang dan menggantikan pakaian mereka. (Huh! Mama pemalas! Plak!). Pantai ini juga dijadikan salah satu lokasi scene syuting film Laskar Pelangi.
Bukti kami pernah berada di lokasi ini. Hehehe
Mengintip aktifitas anak-anak diantara sela batu
Air dan Batu, bersisian walau berbeda.
Pantai yang diapit oleh dua semenanjung ini, menjadikan air laut di pantai ini begitu tenang sehingga seringkali pengunjung berkano dan berenang di sini. Keunikan lain dari pantai Tanjung Tinggi adalah pantai yang dihiasi oleh puluhan batu-batu granit dengan berbagai ukuran. Dari yang kecil hingga raksasa .Letak batu-batu granit ini pun seperti disusun sehingga kita bisa melompat-lompat diantara batu.

Laut yang tenang menjadikannya spot yang oke berkano
Batu-batu di sisi selatan pantai (kalau ngga salah arah mata angin), adalah sekumpulan batu-batu granit raksasa yang berdiri bergerombol dan beberapa saling menumpuk sehingga seolah membentuk dinding batu kokoh dengan labirin dan goa-goa mini.

Anak-anak, dimanapun menjadi area bermain mereka
Bermain diantara batu raksasa
Mengorek-ngorek pasir, berharap menemukan harta karun..hehe
Anak-anak tak mengenal takut, bahkan hingga ke "goa" dan dihimpit batu raksasa


Puas mengeksplorasi pantai ini, kami melanjutkan perjalanan ke spot wisata berikutnya, yaitu Rumah Adat Belitung. Rumah adat yang kami kunjungi adalah replika. Rumah adat yang berada di sebelah gedung rumah dinas Bupati Belitung ini, terbuat dari kayu dengan interior bergaya lama.
Rumah ini disekat menjadi 3 ruang. Ruang paling belakang adalah (seolah) ruang dapur dan ruang keluarga Di ruang ini kita akan menemui berbagai peralatan masak dan makan dari tembikar dan anyaman, ayunan bayi dari kain, serta lemari-lemari jati yang  penuh dengan barang-barang jadul, seperti alat musik tradisional, radio transistor dan lain-lain.


Di rumah adat Belitung

Ngga kayak gitar Papa ya, Ma?
Ruang kedua adalah ruang tidur. Di ruang ini terdapat pelaminan dan tempat tidur bagi pengantin adat Belitung. Lengkap dengan sepasang patung pengantin berbaju adat dan belasan tanda seserahan.

Ruang terdepan adalah ruang tamu. Dan terdapat pula teras terbuka yang luas. Di teras ini rasanya nyaman banget buat duduk-duduk ngobrol dan bersilaturahim dengan kerabat .

Duh,jadi kepingin punya rumah model begini. (Hehe, banyak maunya. Tapi tolong di ‘Aamiiin –kan ya)

Spot destinasi wisata terakhir kami adalah Danau-Biru-Kaolin. Mengunjungi danau ini menyebabkan dilema bagi saya. Pulau ini mengandung Kaolin dalam jumlah besar, sayangnya eksplorasi Kaolin (Clay) terbukti menyebabkan kerusakan lingkungan. Saya akan menambahkan foto-foto lain yang menunjukkan sedihnya bopek-bopeng permukaan bumi karena penambangan ini. 
Namun di sisi lain, danau ini merupakan spot yang cantik untuk fotografi. Baik di saat siang hari terik seperti pada saat saya berada di sana maupun saat senja hari menjelang sunset.

Danau Kaolin Belitung

Danau yang jernih memang oke buat spot foto
Tanpa terasa jam sudah menunjukkan pukul 10.30, saatnya saya segera ke Bandara, agar tidak telat check in.


Sekian ceritanya. 
Yah, gitu aja koq.



Trip Ke Belitung 3
Trip Ke Belitung 4
Trip Ke Belitung 5





Wednesday, May 27, 2015 0 komentar

Always Answer Your Phone Ring

Dulu, ada saat-saat saya begitu takut mendengar bunyi telepon berdering.  Yaitu ketika bisnis saya sedang hancur-hancurnya dan daftar tagihan yang belum bisa saya bayar begitu panjang.
Jujur, saya takut dimarahi.

Tapi kemudian supplier-supplier tersebut malah berdatangan ke rumah, dan daftar malu saya bertambah.
Yang tadinya hanya supplier yang tahu saya punya kredit macet, sekarang dari mulai satpam, Pak RT dan tetangga-tetangga ikutan tahu.

Biarpun demikian, saya tetap ngga bisa ngumpet atau lari terus-terusan. Saya tidak ingin masalah perdata malah menjadi pidana karena dianggap menipu. Jadi mau ngga mau harus dihadapi.

Setelah dihadapi, eaalahhh...walaupun ada juga yang marah-marah, tapi lebih banyak yang mau diajak bernegosiasi.
Dan masalah tagihan bisa selesai dengan cara yang lebih nyaman.

Namun ada akibat lari-lari, mereka jadi kehilangan kepercayaan. Kapok mau mensupply. Seandainya saya saat itu bisa 'gagah berani' menghadapi, mungkin mereka masih ada pertimbangan-pertimbangan. Sebagai pebisnis mereka tentu sudah sering menghadapi kredit macet.

Dari situ saya belajar.

Sekarang tidak takut lagi dengan tagihan, jika belum ada dana untuk membayar, saya akan katakan terus terang. Dan masalah-masalah pembayaran saya handle langsung. Jika ada keterlambatan saya kasihan dengan anak buah jika mereka yang dimarahi supplier.

Namun, Alhamdulillah, saya belum pernah lagi menghadapi debt collector.

Sekarang siapapun mau menelpon saya, pagi-siang-sore-malam, sepanjang ponsel saya tidak sedang off, atau kebetulan saya jauh dari ponsel, Insya Allah akan selalu saya jawab.


Karena tidak jarang saya mendapat kesempatan baru justru dari orang-orang/perusahaan-perusahaan yang sebelumnya tidak saya kenal. Dan saya tidak ingin kehilangan kesempatan itu.
0 komentar

MEMILIH

Seringkali sebagai istri dan ibu, kita dihadapkan pada kondisi harus memilih dan membiarkan angan-angan kita surut sejenak.
Kondisi memilih antara berbisnis dan mengurus anak seringkali saya temui. 
Bahkan hingga hari ini.
Saya sudah lupa berapa kali membatalkan janji karena anak sakit atau anak tidak bisa ditinggal saat tidak ada yang menjaga. Bahkan pernah mundur dari sebuah tender karena pada hari tersebut saya tidak bisa meninggalkan anak, sementara dibawa juga tidak memungkinkan.

Tahun 2008, saat bisnis fashion saya mulai jalan cepat, tetiba saya hamil. Meskipun masih dilanjutkan, namun jalannya mulai timik-timik. Akhirnya di hand-over saat hamil lagi (Ih, hobi!).

Dengan mengurus bayi dan batita cukup membuat saya langsing. Sehingga tidak perlu lebih langsing dengan mengeluarkan energi tambahan buat berbisnis.
Saat itu saya 'lupakan' soal target, omset dan sebagainya. Urusan beralih ke popok, masak bubur dan sejenisnya. 
Padahal kondisi bisnis sudah dipersiapkan sedemikian rupa dan 'siap masuk medan tempur'. Website, kemasan dan segala persiapan branding sudah mulai dilakukan.

Tapi, yah itulah namanya qadar saya. Harus saya terima.

Saya simpan sementara rencana dan mimpi saya. Kadang-kadang kalau lagi jenuh muter aja di rumah ngurus susu dan ompol anak, rasanya 'gatal' kangen merasakan hebohnya dikejar deadline dan target, chit-chat dengan berbagai orang, Customer atau supplier.
Tapi, ya sudahlah. Saat itu diterima saja pilihan yang tersedia lengkap konsekwensinya.

Hal yang berbeda yang harus dipilih Ibu saya. Adik bungsu saya berusia dua bulan saat Bapak meninggal. Tapi anak lainnya yang berjumlah 7 orang harus diberi makan dan perlu uang sekolah serta biaya hidup lainnya. Tak ada pilihan lain bagi Ibu selain harus menitipkan 3 balitanya kepada nenek dan kakek saya. Jika Ibu mempertahankan ke 8 anak bersamanya saat itu, maka 3 balitanya tidak akan terurus karena Ibu harus bekerja dan kami yang besar-besar bisa seharian di sekolah dan perjalanan, karena jarak kami bersekolah rata-rata jauh dari rumah.

Memilih dan memutuskan mengambil pilihan yang mungkin terasa paling pahit, tapi bisa jadi pilihan tersebut adalah yang terbaik.
Jadi emak-emak yang sekarang sedang galau karena merasa terjebak dengan kondisi, perbanyak istighfar dan shalat istiharoh saja agar ditunjukkan cara dan jalan yang terbaik. 
Seringkali yang terbaik belum tentu sesuai perkiraan kita. Karena Yang Maha Pengatur lah yang tahu skenario hidup kita.
Just enjoy your days, Mommies


0 komentar

Operator Baru

Tanggal-tanggal segini biasanya saatnya bayar-bayar tagihan. Karena saya pun merangkap bagian penagihan (sebut aja bagian apa, saya pasti ada jabatannya di situ. Haha), maka saya langsung searching tagihan customer yang sudah lewat jatuh tempo. Ada beberapa dan kemudian saya telepon mereka satu persatu.
Saat menelpon salah satu perusahaan:
Operator : Selamat sore, PT X, ada yang bisa saya bantu? 
Saya; Selamat sore. Saya Rinny dari Harvest Chemical. Bisa tolong disambungkan ke Finance?
O : Baik Bu Rinny. Mohon tunggu sebentar.
Lalu terdengar alunan nada tunggu.
O : Maaf Bu. Tadi mau bicara dengan siapa? 
Saya : Dengan finance, Mbak.
O : Baik Bu. Mohon tunggu
Lalu terdengar suara alunan nada tunggu lagi. 
O : Maaf Bu. Saya sudah cek beberapa kali, di perusahan kami ngga ada karyawan yang namanya seperti Ibu sebutkan
Saya: Hah! Yang bener Mbak? Saya beberapa kali koq menelpon ke Finance di perusahaan ini.
O : Ibu tidak salah nama perusahaan kan? Mungkin nama perusahaannya mirip Bu?
Saya : Ya ngga salah dong, Mbak. PT. X kan?
O : Iya Bu, benar. Tapi ngga ada yang namanya F A I N E N S di sini. Nih Bu, extension 100 itu Bapak (Bos), 102 Pak Tono, 103 Marketing, 104...(lalu disebut beberapa extension lain). 
Saya : Gini Mbak. Manajer Finance tuh Pak Tono. Tapi biasanya saya bicara ke Mbak Laksmi atau Mbak Tika aja.
O : ooohh... Mbak Laksmi di extensi 116. Sebentar ya Bu saya sambungkan.
*gigit ordner*
Note: 
Hasil bicara dengan 'Fainens': oooh pembayaran tagihan Harvest Chemical kami jadwalkan 12 Juni, Bu.
*makan ordner*


Monday, March 30, 2015 1 komentar

Fenomena Abbot

Andrew Chan dan Myuran Sukumaran adalah dua dari sembilan orang warga Australia yang tertangkap pada 17 April 2005 di Bali, -sehingga kesembilan orang ini disebut ‘Bali Nine’- dalam upaya mereka menyelundupkan heroin seberat 8.2 kg dari Bali ke Australia. Kini Andrew Chan dan Myuran Sukumaran diputuskan oleh pengadilan akan dieksekusi mati dihadapan regu tembak. Menanggapi hal tersebut, Perdana Menteri Australia Tony Abbott meminta agar pemerintah Indonesia meninjau kembali hukuman mati itu. Namun dalam pernyataannya PM ini melakukan slip of tongue dengan mengungkit-ungkit bantuan yang telah diberikan Australia saat musibah tsunami Aceh pada Desember 2004. Ia ingin agar pemerintah Indonesia membalas kebaikan mereka dengan tidak menjatuhkan hukuman mati kepada kedua penyelundup heroin itu. "Australia telah mengirimkan bantuan dalam jumlah besar. Australia juga telah mengirimkan angkatan bersenjata untuk menolong Indonesia sebagai bagian bantuan kemanusia. Bahkan beberapa relawan Australia meninggal kala membantu Indonesia saat itu. Saya ingin katakan kepada rakyat Indonesia dan pemerintah Indonesia, kami Australia selalu membantu Anda dan kami berharap Anda membalasnya saat ini," Kata Abbot.

Pernyataan ini tentu menyakiti dan membuat tersinggung rakyat Indonesia terutama sekali rakyat Aceh sehingga mereka melakukan gerakan “Coin For Abbot

Meskipun saya ikut-ikutan sebel, -koq ya politisi selevel PM nyin nyir gitu- namun cukup sekian saya membahas tentang PM Australia tersebut. Selanjutnya saya ingin menyoroti kelakuan yang mirip-mirip, eh, bukan cuma mirip, tapi memang sama, dengan kelakuan PM Abbot, sehingga kelakuan ini saya sebut Fenomena Abbot. Yaitu kelakuan suka mengungkit apa yang telah dilakukan atau apa yang telah diberikan kepada orang lain. 

“Tahu, ngga , Mbak, kalau bukan saya yang menolongnya dulu, uh, mungkin sekarang dia keblangsak

“Kamu jadi manusia, koq, tidak tahu berterima kasih. Kalau bukan karena saya, ngga tahu deh, jadi apa kamu sekarang. Tahu diri dong”

Kalimat-kalimat diatas sudah beberapa kali saya mendengarnya. 

Bahkan saya sendiri pernah mengalami dibegitukan oleh seseorang.
Apa yang bisa saya lakukan saat itu? Saya cuma bisa diam walau sakit hati, kesal sekaligus tak berdaya. Karena kondisi saat itu saya memang dalam sedang butuh bantuan, dan kebetulan bantuan datang darinya.  Tapi setelah tahu dampaknya seperti itu sekarang, ingin rasanya meminjam pintu kemana saja dari Doraemon, atau meminjam jam pasir Pembalik Waktunya Hermione Granger, sehingga saya bisa kembali ke masa tersebut dan berusaha bertahan  tanpa bersedia menerima bantuan orang tersebut.
Tapi apa daya, hari kemarin tidak mungkin diulang.
Jadi saya lebih memilih menggigit lidah agar tidak mengeluarkan kata-kata yang membuat saya makin disebut ‘orang yang tidak tahu berterima kasih

Kenapa orang bisa terjangkit fenomena Abbot ini?
Saya bukan psikolog, tapi saya mencoba memahami situasinya.
Mungkin orang tersebut sedang membutuhkan bantuan, dan ia berharap bantuan datang dari orang yang dulu pernah ditolongnya, namun karena sesuatu hal bantuan tersebut tidak bisa diberikan.
Mungkin seseorang yang dulu dibantunya terlihat lebih oke dibandingkan dirinya, sehingga ia butuh pengakuan bahwa ia berperan besar bagi orang tersebut.
Dan banyak mungkin lainnya.

Sahabat pernah mengalami kejadian tersebut?
Duh, pasti, sakitnya tuh disini: (pegang dada). Iya'kan?

------
Catatan: saya sebut Fenomena karena bagi saya kelakuan tersebut adalah sesuatu yang luar biasa. Yang bisa menyebabkan perubahan perilaku korbannya menjadi serba salah, tidak pede, marah dan sakit hati. Lihat saja bagaimana reaksi masyarakat Indonesia, Aceh khususnya.


KBBI: fenomena /fe·no·me·na/ /fénoména/ n 1 hal-hal yg dapat disaksikan dng pancaindra dan dapat diterangkan serta dinilai secara ilmiah (spt fenomena alam); gejala: gerhana adalah salah satu -- ilmu pengetahuan; 2 sesuatu yg luar biasa; keajaiban: sementara masyarakat tidak percaya akan adanya pemimpin yg berwibawa, tokoh itu merupakan -- tersendiri; 3 fakta; kenyataan: peristiwa itu merupakan -- sejarah yg tidak dapat diabaikan


Sunday, March 29, 2015 18 komentar

Waspadalah Terhadap Predator Anak

Subuh tadi saya mendapat telepon dari suami salah seorang sahabat, ia meminta agar saya berkunjung ke rumah mereka, karena ada suatu hal yang penting akan mereka bicarakan. Tapi sayangnya hari ini jadwal saya penuh sampai sore, karena hari Rabu sampai Ahad kami berencana keluar kota. Selain itu janji-janji temu yang terlanjur saya buat sulit untuk saya batalkan mendadak.

Setelah beberapa kali saling balas menelpon, akhirnya sahabat saya menyampaikan permasalahan mereka melalui telepon.

Mendengar curhatnya, sebagai sahabat dan seorang ibu saya miris sekaligus ikut merasa marah dengan kejadian yang mereka alami.

Sahabat saya sedang tertimpa musibah, yang sekaligus bisa jadi peringatan bagi kita semua.

Salah seorang anak perempuan teman saya ini, berumur 17 tahun, kelas 2 SMU, sakit panas beberapa hari, semula dikira kedua orang tuanya ia menderita demam biasa, anaknya pun ngga banyak mengeluh. Tapi setelah lebih dari seminggu demam tidak kunjung sembuh, mereka membawa anak tersebut ke dokter. Setelah diperiksa darah ternyata anak tersebut menderita penyakit kelamin. Sipilis, positip , gonorrhoea, positip. Kedua orang tuanya bagai tersambar petir.

Kepada orang tuanya, anak tersebut tidak mau mengakui perbuatannya kenapa ia bisa sampai tertular penyakit - penyakit kotor itu. Ia melakukan aksi tutup mulut. Orang tuanya sempat menuduh pacarnya yang menularkan penyakit tersebut. Kecurigaan mereka menjadi-jadi ketika si Pacar ditelepon, diSMS, dan diBBM tidak mau juga kunjung menjawab. Apalagi menemui mereka.

Akhirnya melalui bantuan seorang psikolog terungkaplah cerita sesungguhnya, yang jauh lebih mengenaskan.

Sambil menangis terisak-isak sahabat saya bercerita semuanya berawal dari Instagram dan Path. (bagi sebagian anak muda Facebook is too old fashioned). Dari kedua jaringan sosmed ini sang anak berkenalan dengan seorang anak muda lelaki. Sekian bulan berkenalan mereka ketemuan lalu pacaran. Beberapa bulan pacaran mereka melakukan hubungan suami-istri, lalu entah alasannya apa, si anak gadis diputuskan oleh pacarnya. Dalam keadaan sedih, anak perempuan tersebut didekati teman mantan pacarnya (yang sekarang menjadi ‘pacar’nya), dihibur dan diajak bergaul dengan kelompok tertentu. Ternyata seluruh anggota perempuan kelompok tersebut adalah gadis yang pernah dinodai oleh pacarnya. Dengan bujuk rayu, anak-anak gadis belasan tahun  ini dijadikan “ayam online”.

Kenapa mau, Nak?
“Kan aku sudah ngga perawan, sekalian saja dilanjut, bisa dapat duit lagi” Kalimat ini dikatakan sendiri oleh anak sahabat saya kepada psikolognya.

Anak sahabat saya ini masih bersekolah seperti biasa, berpenampilan wajar layaknya anak sekolahan, namun nyaris tiap sore ia dijemput oleh pacarnya untuk keluar dan kembali pada pukul 10 malam. Tidak pernah lewat dari waktu tersebut.
Sahabat saya menganggap jam keluar anaknya masih wajar, sehingga ia tidak curiga. Beberapa kali ia memang mendapati foto-foto gadis tersebut dengan tampilan bermake-up. Tapi anak gadis itu beralasan bahwa foto tersebut dibuat setelah iseng-iseng mencoba peralatan make-up di rumah temannya.

Pada psikolog, anak tersebut juga mengakui bahwa pacar barunya sebenarnya cuma sahabat yang sering mengantar dia jika mendapat order. Saya pikir, mungkin semacam kurir, ya.

Anak sahabat saya tidak pernah tahu dari mana lelaki pengorderanya, karena jika mendapat ‘job’ ia akan di WA oleh Mbak xxx, salah satu senior di kelompoknya, ia lalu akan dijemput si ‘pacar’. Jika telah selesai, pacarnya juga yang akan mengantar pulang. Setiap kali dapat job, ia akan dibayar 300 ribu dari si pacar. Katanya si Pacar juga dapat uang dari transferan seseorang yang disebutnya Mbak xxxx tadi .
Anak sahabat saya ternyata ikut ‘gerombolan’ ini sejak kelas 1 SMU. Jadi sudah setahun lebih ia jadi ‘ayam online’. Sedangkan kejadian ia ‘kerjain’ oleh pacarnya adalah saat SMP kelas 3.

Sebuah pelajaran yang sangat mahal. Tolong ambil hikmahnya saja. Jangan menghakimi sahabat saya sebagai orang tua yang kurang begini-begitu. Karena sebagai orang tua kita pun tidak sempurna.

Terima kasih untuk sahabat saya dan suaminya mengizinkan saya membagikan cerita ini agar kita, para orang tua, lebih waspada terhadap para predator-predator yang mengintai untuk memangsa anak-anak kita.
Friday, March 20, 2015 0 komentar

*Mimpi dan impian*

Pernah mimpi? Saya tiap kali tidur. Kadang mimpi tersebut begitu indah sampai saat terbangun saya pingin tidur lagi dan melanjutkan mimpi yang tadi. Bisa dikatakan saya selalu bermimpi bahkan ketika saya dipaksa tidur karena dibius saat sedang dioperasi Tapi ada loh orang yang ngga pernah mimpi. Tidurnya blank. Saya ngga tahu rasanya, karena rasanya seumur hidup belum pernah tidur saya blank.

"It's the probability to make a dream come true that make life interesting!"
Adanya kemungkinan untuk mewujudkan impian yang membuat hidup menjadi menarik.

Itulah, tanpa disadari sering kali mimpi-mimpi saya adalah harapan-harapan yang begitu kuat hingga terbawa mimpi. Mimpi yang kuat akan menjadi Impian. Impianlah yang membuat saya bertahan berada di dunia ini, walaupun ada yang bilang hidup ini kejam.

Mungkin teman-teman ada yang pernah mengalami situasi 'dream comes true'? Waaahh, indah banget'kan? Kita akan merasa puas dan bahagia. Apalagi jika untuk mencapai impian tersebut perlu usaha ekstra keras.

Menurut analisis saya (Sentilun mode), salah satu jenis manusia yang paling tidak bahagia adalah individu yang hidupnya mudah, bergelimang fasilitas dan privilege. Misalnya orang tajir seatret-atret, pingin haji langsung jreng! Bayar seratus juta lebih, ngga masalah. Pingin mobil Porche, jreng!, beli. Pingin ke Eropa, makbul!, langsung berangkat. Pingin ngegebet cewek cantik, tuh cewek langsung ngikut, karena termasuk jenis mata duitan.

Tapi, suwer Prenz, ngga enak hidup dengan nyaris semua hal gampang diraih. Bayangkan si Kang Obed yang mimpi meraih hati si Maemunah, bunga desa impiannya. Kang Obed harus bersaing dengan anak Juragan, anak Pak Kades, dan pemuda lainnya. Makanya begitu Maemunah ho-oh ama proposal cintanya, waduh...Kang Obed langsung merasa lebih hensem dari Brad Pitt 

Mak Ijah yang pingin naik haji sampai sinetronnya berpuluh episode, begitu bisa naik haji beneran, wuihhh Mak Ijah langsung berlinang-linang air mata bahagia.

Atau contoh teranyar adalah keponakan suami yang nyaris tiga puluh tahun lebih hidup menjomblo, begitu sukses bersanding dengan lelaki pujaan hati, kelihatan banget bahaaagiiaaa banget. Nyengirrr melulu selama duduk di pelaminan.
Aaaihhh...senangnya.

Begitulah, Prenz. Percaya aja deh, walaupun dalam meraihnya harus berdarah-darah, kita akan merasa bahagia banget jika mimpi menjadi nyata dan impian bisa teraih. Semua luka-luka yang berdarah langsung sembuh, semua kepahitan menjadi semanis madu.


Sunday, March 8, 2015 0 komentar

Kerupuk

Meskipun belum sampai tahap penggila, tapi saya adalah fans berat kerupuk. Buat saya kerupuk itu adalah salah satu temuan kuliner tercerdas bangsa ini. Dari berbagai jenis kerupuk, kerupuk favorit saya adalah kerupuk putih yang dijual di dalam kaleng-kaleng di etalase warung.
Kerupuk adalah panganan ajaib buat saya, bentuknya sederhana, putih polos tanpa perlu kehadiran warna lain. Tapi dengan kesederhanaannya itu, ia akan membuat riuh makan siangku. Sayur hambar jadi nikmat jika dicampur gigitan kerupuk. Sambal yang pedas makin maknyus jika dicocol kerupuk ini.
Dibanding kerupuk udang atau kerupuk ikan tenggiri yang 'wah', kerupuk putih ini terkategori cemilan biasa-biasa aja, tapi ia sudah ratusan kali menunjukkan kedigjaannya tanpa banyak gaya. Setidaknya dalam piring nasiku. Contohnya siang ini. Saya sudah memesan 1 set menu makan siang berupa olahan seafood, saat makan itu dihidangkan, aroma yang menguar, waaaahhh... bikin saya rasanya segera pingsan jika tidak menyantapnya. Karena lapar sejak pagi belum sempat sarapan. 

Tapi begitu suapan pertama menyentuh lidah saya, whuaaahhhh... pedesnya bikin saya berasap. Sempet kesal karena sudah lapar berat dan kini makin terasa berat karena mengira akan gagal makan Untunglah saya selalu cepat menjelajah, Aha! Ada sebuah kaleng mengelantung di tiang warung, penuh berisi kerupuk putih. Tanpa berpikir dua kali, langsung saya ambil dua buah kerupuk.

Siang ini menu makan saya  cukup dengan nasi putih dan kecap.Tapi saya merasa puas. Sure, you saved my life, kerupuk, dari kemungkinan 'masuk angin'. Soal gizinya yang rendah, saya ngga khawatir, karena akan saya tambahkan dengan berbagai cemilan, nanti.


 
;