Friday, April 21, 2017 1 komentar

Apakah Sudah Terkikis Rasa Malunya?

"Malu adalah pakaian manusia paling primer yang kedudukannya hanya bisa dikalahkan oleh rasa lapar."

Kata-kata itu pernah saya tulis di dinding Facebook dengan pikiran polos. Saya lupa bahwa kondisi seperti itu hanya biasa terjadi dalam masyarakat yg belum tersentuh hedonisme. Karena nyatanya kini banyak sekali yang menyingkirkan rasa malu cuma demi jabatan atau demi memenuhi nafsu konsumerismenya.

Sebagai emak dengan anak gadis, saya miris saat membaca berita ada artis yg bersedia dinikah kontrak demi bisa mendapat uang 1 milyar dan dibiayai operasi agar payudaranya makin montok.

Dan itu bukan cuma satu cerita. 

Ada lagi seseorang yg dulu saya acungi jempol karena kiprahnya yg berkualitas, eh ternyata masuk golongan cewek bispak Alias perempuan yang bisa dipakai untuk indehoi. Foto-fotonya dengan teddy bear beredar kemana-mana. Pesan chatnya "masuk dari belakang" dibaca ribuan orang.

Meh!

Kalau dulu perempuan berakal pendek akan melacur demi tak sanggup menahan lapar. Tapi sudah kekinian rupanya menjual kemaluan demi membayar segala asesoris penampilan.


Eva Na de Zondeval,_Patung karya:  Rodin
Di sisi lain, saya banyak sekali melihat para lelaki pengejar kekuasaan yang tidak lagi malu jadi tenar karena namanya cemar. Entah sebagai akibat ia mengejar kekuasaan atas tubuh seorang perempuan atau kekuasaan atas uang-uang milyaran milik rakyat.

Kalau dulu orang menilai tingginya nilai seorang lelaki dari kata-katanya yang bisa dipercaya. Dan memandang sebelah mata terhadap lelaki comel. Lelaki yang banyak bicara tanpa bukti. Lelaki comel dilabeli sebagai "tukang obat".

Tukang obat biasa kita lihat berteriak-teriak di lapangan dengan menggunakan TOA, lalu menjebreng sejuta khasiat yang tentu saja dilebih-lebihkan. Ditambah atraksi yang juga berlebihan. Apabila ada pendengar yang percaya dengan khasiat obat lalu membelinya, ia akan makin bersemangat mengoceh bahkan khasiat obatnya makin fantastis. Namun ketika ia mendapat komplain dari pembeli sebelumnya, ia dengan pintarnya mengelak bahwa khasiat tergantung individu. Bahwa dosis tidak tepat. Dan seterusnya. Dan sebagainya. Pokoknya ia jago ngeles bagai bajaj.

Jika sudah banyak komplain, Tukang Obat tidak lagi merasa malu ketika perkataannya tidak dipercaya. Ia akan mencari lapangan di kampung lagi. Baginya yang utama adalah anak dan istrinya tidak lagi lapar. Masa bodoh dengan malu.

Di sisi lain, lelaki kekinian berjanji menikahi atau melimpahi kenyamanan demi mendapatkan pemuasan nafsu purba bersama perempuan kinyis-kinyis. Masalah nanti setelah kerenyahan perempuan tersebut kemudian lenyap (lah, memang sih para perempuan 'malang' ini cuma dijadikan cemilan.) janji menikahinya tidak juga terlaksana, yah karena memang dari awal juga ngga diniatin beneran menikahi perempuan itu, koq. Karena baginya tidak akan mudah menceraikan istrinya. Tidak ada lagi malu baginya dikenal sebagai lelaki yang ingkar janji. Karena ia bukan Tukang Obat yang menjual malu demi perut agar tidak lapar. Ia tukang obat dengan tanda kutip.

Lelaki kekinian menjual janji akan menyembuhkan berbagai penyakit sosial di masyarakat dengan terapi yang tidak jelas. Karena sesungguhnya boro-boro mereka tahu apa yang dibutuhkan masyararakat, lah yang mereka tahu cuma memanfaatkan rakyat untuk keinginannya.  Wong, tujuan utama mereka cuma memuaskan dahaga hedonismenya. 
Saya tidak ingat program pemberdayaan masyarakat dari cawabup gagal X. Yang saya ingat ia bolak-balik mengkonserkan hasrat berkuasanya. Tanpa malu-malu. Saya juga belum pernah membaca kiprah Wawali XX yang keren dalam pengabdian untuk masyarakatnya. Kecuali berita tentang ia konser di negeri jiran. Ia marah-marah ke wartawan. Atau berita tentang sewaan rumahnya yang milyaran dibayar APBD.
Janji-janji saat kampanye?

Ah, itu kan "obat" yang sudah terjual. Selama belum ada yang kejang-kejang akibat "over dosis" mereka ngga perlu malu jika ternyata janji-janji belum terealisasi.

Jadi malu hanya bisa dikalahkan oleh lapar, kini nampaknya sudah tidak berlaku lagi. Meski malu adalah adab yang paling dasar dalam bertingkah laku.

Salman Al-Farisi pernah berkata, "Sungguh jika Allah berkehendak untuk membinasakan seseorang maka akan Allah hilangkan rasa malu dari diri orang tersebut. Jika rasa malu sudah tercabut dari dirinya maka tidaklah kau jumpai orang tersebut melainkan orang yang sangat Allah murkai. Setelah itu akan hilang sifat amanah dari diri orang tersebut. Jika dia sudah tidak lagi memiliki amanah maka dia akan menjadi orang yang suka berkhianat dan dikhianati. Setelah itu sifat kasih sayang akan dicabut darinya. Jika rasa kasih sayang telah dicabut maka dia akan menjadi orang yang terkutuk. Sesudah itu, ikatan Islam akan dicabut darinya.”

Menyedihkan.

*Note: 
Foto adalah patung Hawa yang menutupi tubuhnya dan tertunduk karya Auguste Rodin ini, menggambarkan rasa malu Hawa setelah berbuat dosa karena memprovokasi Adam memetik 'buah terlarang'.


Thursday, April 20, 2017 0 komentar

Melepaskan

7 April 2015,  hari itu dua tahun lalu, kuberanikan diri menuntaskan mimpi bertahun-tahun tentang lorong-lorong gelap tak berujung dan keputus asaan pencarian.
Terima kasih untuk pengertian dan penerimaanmu yang ramah.
Terima kasih karena telah membiarkanku mencari jawaban atas ketololanku. Butuh waktu berbulan-bulan setelahnya untuk mengembalikan 'kewarasanku'.

Ya, kini telah kugenapi puzzleku. Karena ternyata bagiku, kau tidak pernah pergi.


0 komentar

Tepatkah Keputusanku?


"Tepatkah keputusanku?"
"Bagaimana jika keputusanku salah?"
"Apakah nanti aku tidak akan menyesal?"

Begitulah selalu kebimbangan yang akan kita hadapi disaat harus memutuskan. Merasa takut salah dengan keputusan yang diambil. Dan takut menanggung akibat dari keputusan tersebut.

Padahal, setiap orang SELALU harus membuat keputusan-keputusan baru untuk mencapai impian hidupnya. 

Keputusan itu dirasa tepat jika hasilnya mendekat kepada impian. Di sisi lain, keputusan dianggap salah jika hasilnya malah menjauh dari impiannya. 

Sesungguhnya tidak ada keputusan yang salah. Karena impian juga belum tentu sesuai takdir hidup yang telah ditentukan olehNYA.

Tapi begitulah hidup. 
Pada setiap keputusan, apakah dirasa benar atau salah, tersimpan keindahan.
Karena kita tidak pernah tahu takdir apa yang sedang menunggu kita, maka setiap hari kita 'dipaksa' terus belajar membuat keputusan-keputusan. Dan menikmati hasil dari keputusan tersebut, yang kadang membuat gembira, namun tak jarang terasa begitu pahit.
Thursday, April 6, 2017 2 komentar

Terjebak Dalam Cinta Imajiner

Plato pernah berkata " Bahwa kondisi ideal itu hanya ada di angan-angan."
Dengan teori tersebut, lalu orang-orang mengkategorikan cinta yang disimpan hanya di angan-angan sebagai Cinta Imajiner.

Pelaku cinta imajiner membayangkan bahwa cinta yang dimiliki itu adalah cinta yang paling ideal. Paling sempurna. Dan tak jarang pelaku terjebak dalam angan-angannya bertahun-tahun. Karena dia menghadapi kenyataan di luar angannya tidak ada cinta yang sesempurna itu.



Pagi ini, di aplikasi percakapan Whatsapp salah satu grup alumni saya, sedang dibahas tentang cinta platonis seorang teman yang sudah ditanggungnya selama nyaris 30 tahun. Karena ia tidak mau berpaling dari cinta tersebut, ia memutuskan membujang sampai hari ini.
Hal ini menjadi ‘masalah’ (dengan tanda petik, loh ya.) Karena ternyata obyeknya adalah SAYA. Huuuuaaahhh. Kebayang ngga sih, tiap hari, ada seseorang yang tidak kamu sadari mengkhayalkan tentang dirimu. Dengan entah apa isi khayalannya. Padahal selama nyaris 30 tahun tersebut, saya dan teman tersebut hanya bertemu satu kali dalam sebuah reuni kecil bersama beberapa orang teman sekelas.

Well, saya tahu banget bahwa menyimpan perasaan seperti itu selama bertahun-tahun adalah sebuah penderitaan.  

Karena seorang teman lain -sebut saja Bunga (hehe, kayak nama korban di wartaberita) juga pernah curhat tentang imajinasi cintanya. Dan kemudian dia merasa sudah saatnya keluar dari kondisi tersebut, 
“Aku selama bertahun-tahun sering merindukannya. Kalau sudah begitu, aku cuma bisa bermimpi bertemu dengannya. Karena tidak berani bertemu beneran. Tapi dalam mimpiku malah aku seperti berada di lorong-lorong gelap tak berujung. Dan selalu berakhir kesedihan karena seperti putus asa saat mencarinya”.
Lalu hari itu Bunga memaksa untuk bertemu dengan pencuri cuilan hatinya tersebut.

“Dua tahun lalu aku memutuskan bahwa cukup sampai disitu. Saya memintanya untuk bertemu. Agak sulit karena ia seperti menghindariTapi akhirnya ia setuju." Kata Bunga, mengenang.

"Kami membicarakan segala hal. Tentang anak, keluarga, pekerjaan, tanpa membicarakan masalah perasaan. Tapi pada hari itu, datang sebuah kesadaran baru bagiku. Bahwa ia kini tidak sama lagi dengan seseorang yang ada di anganku. Meskipun begitu, tetap saja butuh waktu berbulan-bulan setelahnya untuk mengembalikan kewarasanku”.

Apakah setelah itu kau tidak lagi mencintainya?

“Tidak seperti itu sih persisnya. Hari pertemuan itu ibaratnya dia mengembalikan cuilan hatiku yang hilang. Tapi ia tetap pemilik cuilan hati itu.”

Jadi?

“Ya sudah. Dengan demikian pertemanan kami menjadi proporsional sebagai mestinya berteman.”

Dan berapa tahun yang dibutuhkan untuk menjadi “teman proporsional” itu?
Nyaris dua windu!

Begitulah penderitaan yang harus ditanggung para Pecinta Imajinee

Nah, mungkinkah saya harus menemui teman alumni ini?
Apakah saling bertemu adalah salah satu jalan keluar, untuk ‘menampar pipi’nya, sehingga ia sadar waktu terus berlalu dan kami ternyata tidak terus menerus berada dalam cangkang waktu yang sama. Dan dalam kurun waktu tersebut telah banyak terjadi perubahan-perubahan pada saya selaku obyek imajinasinya?

Tetapi bagaimana jika setelah bertemu, justru ia makin dalam terperangkap dalam khayalannya. Karena mungkin sekarang saya makin matang, makin keren, makin educated?
*grin*

Yah, Mboohhhh!!!
---
Mencintai adalah kata kerja.
Dicintai adalah kata sifat
Tapi Cinta bukanlah kata benda, Cinta adalah kata hati.
 
;