"Malu adalah pakaian manusia paling primer yang kedudukannya
hanya bisa dikalahkan oleh rasa lapar."
Kata-kata itu pernah saya tulis di dinding Facebook dengan pikiran
polos. Saya lupa bahwa kondisi seperti itu hanya biasa terjadi dalam masyarakat
yg belum tersentuh hedonisme. Karena nyatanya kini banyak sekali yang
menyingkirkan rasa malu cuma demi jabatan atau demi memenuhi nafsu
konsumerismenya.
Sebagai emak dengan anak gadis, saya miris saat membaca berita ada
artis yg bersedia dinikah kontrak demi bisa mendapat uang 1 milyar dan dibiayai
operasi agar payudaranya makin montok.
Dan itu bukan cuma satu cerita.
Ada lagi seseorang yg dulu saya acungi jempol karena kiprahnya yg
berkualitas, eh ternyata masuk golongan cewek
bispak Alias perempuan yang bisa dipakai untuk indehoi. Foto-fotonya
dengan teddy bear beredar kemana-mana. Pesan chatnya
"masuk dari belakang" dibaca ribuan orang.
Meh!
Kalau dulu perempuan berakal pendek akan melacur demi tak sanggup
menahan lapar. Tapi sudah kekinian rupanya menjual kemaluan demi membayar
segala asesoris penampilan.
Di sisi lain, saya banyak sekali melihat para lelaki pengejar
kekuasaan yang tidak lagi malu jadi tenar karena namanya cemar. Entah sebagai
akibat ia mengejar kekuasaan atas tubuh seorang perempuan atau kekuasaan atas
uang-uang milyaran milik rakyat.
Kalau dulu orang menilai tingginya nilai seorang lelaki dari
kata-katanya yang bisa dipercaya. Dan memandang sebelah mata terhadap lelaki comel. Lelaki yang
banyak bicara tanpa bukti. Lelaki comel dilabeli sebagai "tukang
obat".
Tukang obat biasa kita lihat berteriak-teriak di lapangan dengan
menggunakan TOA, lalu menjebreng sejuta khasiat yang tentu saja
dilebih-lebihkan. Ditambah atraksi yang juga berlebihan. Apabila ada pendengar
yang percaya dengan khasiat obat lalu membelinya, ia akan makin bersemangat
mengoceh bahkan khasiat obatnya makin fantastis. Namun ketika ia mendapat
komplain dari pembeli sebelumnya, ia dengan pintarnya mengelak bahwa khasiat
tergantung individu. Bahwa dosis tidak tepat. Dan seterusnya. Dan sebagainya. Pokoknya ia jago ngeles bagai bajaj.
Jika sudah banyak komplain, Tukang Obat tidak lagi merasa malu
ketika perkataannya tidak dipercaya. Ia akan mencari lapangan di kampung lagi.
Baginya yang utama adalah anak dan istrinya tidak lagi lapar. Masa bodoh dengan
malu.
Di sisi lain, lelaki kekinian berjanji menikahi atau melimpahi
kenyamanan demi mendapatkan pemuasan nafsu purba bersama perempuan
kinyis-kinyis. Masalah nanti setelah kerenyahan perempuan tersebut kemudian
lenyap (lah, memang sih para perempuan 'malang' ini cuma dijadikan cemilan.)
janji menikahinya tidak juga terlaksana, yah karena memang dari awal juga
ngga diniatin beneran menikahi perempuan itu, koq. Karena
baginya tidak akan mudah menceraikan istrinya. Tidak ada lagi malu baginya
dikenal sebagai lelaki yang ingkar janji. Karena ia bukan Tukang Obat yang
menjual malu demi perut agar tidak lapar. Ia tukang obat dengan tanda kutip.
Lelaki kekinian menjual
janji akan menyembuhkan berbagai penyakit sosial di masyarakat dengan terapi
yang tidak jelas. Karena sesungguhnya boro-boro mereka tahu apa yang dibutuhkan
masyararakat, lah yang mereka tahu cuma memanfaatkan rakyat untuk keinginannya. Wong,
tujuan utama mereka cuma memuaskan dahaga hedonismenya.
Saya tidak ingat program pemberdayaan masyarakat dari cawabup
gagal X. Yang saya ingat ia bolak-balik mengkonserkan hasrat berkuasanya. Tanpa
malu-malu. Saya juga belum pernah membaca kiprah Wawali XX yang keren dalam
pengabdian untuk masyarakatnya. Kecuali berita tentang ia konser di negeri
jiran. Ia marah-marah ke wartawan. Atau berita tentang sewaan rumahnya yang
milyaran dibayar APBD.
Janji-janji saat kampanye?
Ah, itu kan "obat" yang sudah terjual. Selama belum ada
yang kejang-kejang akibat "over dosis" mereka ngga perlu malu jika
ternyata janji-janji belum terealisasi.
Jadi malu hanya bisa dikalahkan oleh lapar, kini nampaknya sudah
tidak berlaku lagi. Meski malu adalah adab yang paling dasar dalam bertingkah
laku.
Salman Al-Farisi pernah berkata, "Sungguh
jika Allah berkehendak untuk membinasakan seseorang maka akan Allah hilangkan
rasa malu dari diri orang tersebut. Jika rasa malu sudah tercabut dari dirinya
maka tidaklah kau jumpai orang tersebut melainkan orang yang sangat Allah
murkai. Setelah itu akan hilang sifat amanah dari diri orang tersebut. Jika dia
sudah tidak lagi memiliki amanah maka dia akan menjadi orang yang suka
berkhianat dan dikhianati. Setelah itu sifat kasih sayang akan dicabut darinya.
Jika rasa kasih sayang telah dicabut maka dia akan menjadi orang yang terkutuk.
Sesudah itu, ikatan Islam akan dicabut darinya.”
Menyedihkan.
*Note:
Foto adalah patung Hawa yang menutupi tubuhnya dan tertunduk karya
Auguste Rodin ini, menggambarkan rasa malu Hawa setelah berbuat dosa karena
memprovokasi Adam memetik 'buah terlarang'.




- Follow Us on Twitter!
- "Join Us on Facebook!
- RSS
Contact