"Mbak, tolong carikan calon istri buat Saya" Kata Dermawan, (nama Samaran, Saya suka nama ini) teman Saya.
"Memang ngga bisa cari sendiri?"
"Belum ketemu yang cocok. Mbak kan temannya banyak, barangkali ada
jombowati yang sedang mencari suami" Lanjutnya.
"Teman yang
single sih ada
aja. Oke, kamu mau calon istri yang spesifikasinya seperti apa?" Saya pikir ngga ada salahnya mengenalkan satu-dua teman Saya yang masih gadis padanya. Mungkin saja salah satu diantaranya ada yang berjodoh dengannya.
Siapa tahu.
"Memangnya mau beli rumah, Mbak. Pake spesifikasi segala. Pokoknya cantik dan baik."
"Wuih, cari gadis yang cantik saja susah. Apalagi gadis yang cantik dan baik"
Saya jadi ingat sebuah kisah nyata yang bisa diambil pelajaran karena salah memilih istri. kejadian kira-kira tahun lalu.
Ada seseorang lelaki muda menemui Saya minta
dicarikan calon istri juga. Kebetulan saat itu ada 2 karyawati Saya yg masih
jomblo. Singkat kata Saya minta foto seluruh badan dan pas foto serta CV
lelaki muda tersebut.
Ia seorang sarjana, good looking , 32
tahun, sudah bekerja di perusahaan BUMN dengan jabatan setingkat
Supervisor,
sudah punya rumah sendiri, ada usaha sampingan toko kelontong.
Wah, calon suami yang mantap'kan?
Lalu saya membaca ke baris lebih ke bawah....eng..ing...eng... ternyata
Ia sudah punya istri (waktu itu usia istrinya 30 thn) dan 1 anak (usia
3,5 tahun).
Tau dong Saya, xixixi, Saya langsung telepon anak
muda ini, marah-marah : "Jadi maksud,lu, mau cari bini muda gitu? Ogah
gw! Apa-apaan coba!"
Beberapa hari kemudian, anak muda ini dan istrinya datang menemui
Saya untuk menjelaskan alasannya ingin berpoligami. Rupanya selama ini Ia tidak sreg
dengan istrinya karena 'cuma' tamatan SD, kulitnya cokelat gelap, dan
wajahnya terlalu biasa saja.
"Jomplang" katanya.
Lantas kenapa dinikahi?
"Waktu
itu,Saya kadung janji dengan guru Saya, untuk menerima siapapun calon yg
dia tawarkan kepada Saya, asalkan perempuan baik. Sejak awal Saya sebetulnya ingin menolak, tapi Saya kadung janji, itu, Mbak. Daripada mengganjal perasaan Saya terus, makanya sekarang Saya
mau memilih istri yang sesuai pilihan Saya,Mbak".
Ia katakan hal tersebut blak-blakan di depan istrinya, yang cuma bisa tertunduk.
Saya bayangkan jika perempuan ini adalah Saya. Betapa sedihnya.
Merasa simpati dengan istri teman ini, lalu selama beberapa bulan berikutnya saya
mendampinginya untuk lebih berdaya guna. Mengajarinya komputer,
mendorong, memaksa dan memberi les pelajaran agar Ia lulus hingga kejar
paket C. Meskipun akhirnya si Suami tetap menikah lagi, setidaknya
istri mudanya bukan Saya yang mencalonkan.
Nah, jadi benar ada sebuah anjuran yang mengatakan :
Kriteria pertama dalam mencari istri : Carilah calon istri yang indah dipandang matamu,
lalu kriteria selanjutnya carilah calon istri yang shalehah. Karena
jangan sampai Istri yang salehan membuatmu memalingkan wajah darinya
karena kau tidak suka memandangnya.
- Follow Us on Twitter!
- "Join Us on Facebook!
- RSS
Contact