Monday, February 23, 2015 0 komentar

Kurang Kasih Sayang


Hari Senin ini rencana saya adalah rehat sejenak setelah beberapa pekan sebelumnya jadwal pekerjaan di dalam dan di luar kota cukup padat, bahkan hingga Sabtu-Minggu. 
Namun setelah mengantar suami ke kantornya, saya koq tiba-tiba ingin mengunjungi salah satu agen di daerah Senen, Jakarta Pusat. 

Dalam kunjungan kali ini saya tidak bertemu dengan enci pemilik toko, namun saya bisa mengobrol panjang lebar dengan beberapa karyawannya.

Sambil ngobrol, saya melakukan survey kecil-kecilan. Baik tentang produk saya sendiri maupun tentang produk kompetitor. 

Lalu terjadilah percakapan sebagai berikut, "Bu, punya kue yang model begini ngga?" Tanya supervisor toko ke saya sambil menunjukkan sebuah kue kering.
"Wah, belum ada, Mbak" jawab saya.
"Bisa bikin ngga, Bu? Kalau Ibu bisa bikin,  masukkin kue ini juga dong, Bu" Lanjut si Supervisor.
"Ya, bisa sih. Tapi mesti setel mesin lagi.  Jadi agak ribet."
"Bikin deh, Bu. Nanti kita ambil ke Ibu aja. Malas saya berhubungan ama bos kue ini" kata Supervisor, yang diamini anak buahnya.
"Kenapa? Kan dia udah lama ngisi kue kering ke sini?" Tanya saya.
"Iya. Tapi dia sih kurang kasih sayang. Kalau abis taruh kue, ya udah, lempeng aja langsung pulang. Abis ambil tagihan, ngga pernah tuh kami dibeliin teh botol. Bahkan tester dikasih waktu pertama kali datang aja. Beda deh ama Ibu yang perhatian ke kita-kita" lanjut si Supervisor Toko.
Maksud lempeng aja di sini adalah hanya mengurus hal pokok saja lalu langsung meninggalkan toko, tanpa  menyempatkan buang waktu sejenak untuk berbincang-bincang dengan karyawan toko. 

Saya hanya mengangguk-angguk.

Bagi saya, selain customer pengguna produk saya (end-user), karyawan toko agen juga merupakan partner kerja yang penting. Karena justru merekalah yang berinteraksi dengan end-user, sehingga dari merekalah saya bisa mendapat berbagai informasi penting mengenai perilaku konsumen, penerimaan konsumen terhadap produk saya dan juga sepak terjang kompetitor. Dan dengan seringnya saya berinteraksi dengan mereka tentu mereka tidak merasa segan untuk membagi informasi tersebut kepada saya. 

Dan saya juga sangat menyadari bahwa Ini adalah BIsnis, sehingga ada nilai uang dan penghargaan di dalamnya. Maka saya mengalokasikan sekian persen dari budget pemasaran saya untuk informasi yang mereka bagikan, juga untuk antusiasme mereka menawarkan produk saya kepada (calon) pembeli di toko. 
Bentuk terima kasih saya tidak selalu berupa uang, tapi lebih sering dalam berupa barang, misalnya kaos, buah tangan saat saya kembali dari perjalanan luar kota, voucher makan dan lain-lain.

Yang jelas saya menyadari bahwa mereka membantu kesuksesan bisnis saya dan saya menghargainya. Dengan demikian mereka pun merasa saya berterima kasih dan menunjukkan perhatian agar mereka tidak merasa saya tidak sayang pada mereka.
Monday, February 16, 2015 0 komentar

Bagaimana Menverifikasi Blog Anda ke Alexa

Pada Maret 2014, Alexa mengubah tampilan websitenya. Dan nampaknya untuk meningkatkan pendapatan dari pengguna Alexa berbayar, untuk mengklaim sebuah situs web atau blog, kita langsung diarahkan menuju laman berbayar.
Setelah saya telusuri, ternyata kita bisa menklaim atau memverifikasi blog kita secara gratis.

Adapun yang harus kita lakukan adalah :
  1. Masuk ke web www.alexa.com , lakukan sign-in jika sudah memiliki akun disitus tersebut, jika belum lakukan pendaftaran lebih dahulu dengan cara mengklik “create account”. Lebih mudah kita mendaftar dengan akun facebook.
  2. Setelah memiliki akun di Alexa, maka ketikkan di browser anda http://www.alexa.com/siteowners/claim
  3. Ketikkan URL website atau blog anda dikotak dialog yang tersedia. Klik “Continue”
  4. Klik Methode 2
  5. Kemudian anda menuju ‘back-end blog anda. Klik “Template
  6. Klik “Edit HTML
  7. Lalu cari kode HTML  :   copas kode HTML Alexa tersebut tepat SETELAH
  8. SIMPAN Perubahan Blog anda.
  9. Tunggu 2-3 detik
  10. Lalu klik Verify My ID pada situs Verifikasi Alexa tadi.
  11. Proses verifikasi biasanya hanya berlangsung beberapa detik tergantung kecepatan internet anda.


Klaim website anda

Pilih no 2 jika anda tidak punya akses ke cPanel


Copas kode HTML tersebut


Semoga bermanfaat


0 komentar

Bagaimana Melihat Ranking Alexa Web/Blog Anda

Alexa adalah situs pemeringkat sebuah website atau blog berdasarkan tolok ukur tertentu, diantaranya rata-rata banyaknya kunjungan perhari, rata-rata jumlah halaman yang dikunjungi oleh setiap visitor, lamanya visitor berada diblog/ atau website ada, dan prosentasi bounching (pengunjung yang hanya mengunjungi satu halaman lalu keluar blog atau website anda).

Semakin kecil angka peringkat Alexa maka faktor-faktor diatas tadi semakin baik. Sebagai contoh saat ini Google memiliki peringkat Alexa: 1, Facebook memiliki peringkat Alexa: 2, sedangkan blog saya , saat artikel ini ditulis, memiliki peringkat Alexa 800.000-an (hiks).

Bagaimana cara melihat ranking Alexa situs anda?   

  1. Klik www.alexa.com
  2. Ketikkan URL website atau Blog anda
  3. Klik Go
  4. Maka akan terbaca berapa Rank Alexa website anda secara global maupun di wilayah negara anda
  5. Anda juga bisa melihat kualitas website atau blog anda. Berapa persentase bounching rate, berapa rata-rata jumlah halaman yang di kunjungan oleh visitor, lamanya waktu visitor berada di blog anda.
  6. Bahkan kita bisa melihat demografi pengunjung blog/website 

Angka Rangking Alexa Blog ini per 16/02/2015

Beberapa Faktor yang Dinilai oleh Alexa

Demografi Pengunjung Blog

Monday, February 9, 2015 2 komentar

Menambahkan Gadget Facebook ke Blog

Memasang lencana Facebook di Blog  selain menambah asesoris tampilan blog anda, juga mengundang pembaca  agar terhubung dengan akun Facebook anda.


Adapun langkah-langkah yang harus anda kerjakan adalah sebagai berikut: 

1.  Login ke akun Facebook anda Lalu Klik "Nama Anda" , Lalu klik tanda "---" di sudut kanan dibawah foto cover anda (lihat tanda panah 1). Lalu Klik "Add A Badge to Your Site" 

2.  Login ke akun blogspot anda,
3. Lalu pilih tempat badge tersebut akan diletakkan , Klik Lambang Blogspot (Lihat Panah)
4. Lalu 

5. Atau Klik "Edit Konten" dan di copy semua kode HTML, yang tertulis dalam kota dialog 

6. Kita berpindah ke halaman blog anda. Klik "Tata Letak/ Layout"


7. Klik Tambah Gadget/ Add Gadget 


8. Klik "HTML/ Java Script

9. Lalu di "paste" semua kode-kode yang telah kita copy di langkah nomor 5


10. Klik "Save/Simpan"
Maka Gadget Facebook Pun akan terpasang di Blog anda.

Selamat mencoba.
Semoga bermanfaat.



Wednesday, February 4, 2015 4 komentar

Menjelajah Pulau Sebuku dan Pulau Umang-Umang di Lampung

Saya bergabung dengan beberapa grup di Facebook. Salah satunya adalah grup Backpacker Indonesia. 
Salah satu anggota grup tersebut merencanakan untuk mengadakan trip ke Gunung Anak Krakatau pada tanggal 30 Januari – 1 Februari 2015. Karena perkiraan biaya yang terjangkau (sekitar 500 ribu rupiah) maka Kami -Saya dan Suami- memutuskan untuk ikut. Kami janjian bertemu di Pelabuhan Merak.

Maka pada Jum'at 30 Januari 2015 pukul 20.00, Kami berangkat dari Pool Arimbi di Kebon Nanas- Tangerang. Kami yang kurang tidur sejak beberapa malam sebelumnya, begitu mendapat tempat duduk dengan posisi pe-we, segera tertidur. Terbangun sebentar ketika bis berhenti di Terminal Serang. Terbangun lagi karena kaget mendengar teriakan kondektur bis,
"Merak..Merak..Siap-siap. Awas barang ketingggalan" Katanya.
Jam tangan menunjukkan pukul 23.05.

Saya lalu mengirim pesan singkat ke Group Leader "Kami sudah di Merak. Kumpul di mana?"
"Di dekat loket masuk" Jawabnya. 
Oke lah kalau begitu.
Bergegas Kami menuju ke area loket masuk. Ternyata di situ telah menunggu anggota rombongan sebanyak 10 orang. Sedangkan total peserta 20 orang termasuk Kami. Jadi masih harus menunggu 8 orang lainnya
"Mereka dari Bandung dan Pelabuhan Ratu. Jadi mungkin tiba di sini 1 jam lagi." Kata Leader

Kami berangkat dari Pelabuhan Merak dengan kapal feri sekitar pukul satu pagi dan tiba di Pelabuhan Bakauheuni pukul empat. Kami beristirahat sejenak di pelataran ruang tunggu Pelabuhan Bakauheni untuk menunggu subuh tiba.

Ngampar di Terminal.
Kaleng kencreng Saya koq ngilang?

Setelah shalat subuh, kami bergerak menuju ke Dermaga Canti dengan menyewa angkot. Dermaga Canti adalah sebuah Dermaga kecil yang terletak di Kalianda - Lampung Selatan. Disini rombongan kami menyewa sebuah kapal kayu untuk menuju Pulau Sebesi.

Dermaga Canti

Sebelum berlayar Kami memutuskan untuk sarapan dulu di warung di tepi dermaga. Menu Saya pagi itu adalah setengah piring nasi, telor dadar dan sayur oseng plus segelas susu jahe hangat. Lumayan sebagai pengganjal perut yang memang belum diisi sejak semalam. 
Hiks.. 
Semoga tidak masuk angin dan hoek-hoek kena gelombang laut nanti.

Beruntung, sesaat sebelum kapal bertolak, hujan berhenti turun. Dan angin pun berhembus sepoi-sepoi saja sehingga tidak menimbulakn gelombang laut yang tinggi. Didukung matahari yang bersinar tidak terlalu terik, maka duduk di atap kapal lebih menjadi pilihan ditimbang duduk dibagian dalam kapal yang berisik karena suara mesin. 

Kapal yang kami sewa.
foto by Langlang Bhuawa
Perjalanan Dermaga Canti- Pulau Sebesi memakan waktu kurang lebih dua jam. Saat melalui gugusan pulau- pulau sekitar Gunung Krakatau - Gunung Anak Krakatau dan Gunung Sebesi pemandangan yang kami dapatkan begitu indah. 

Gugusan pulau dan Gunung-gunung tersebut dalam kabut pagi yang mendung hari itu terlihat seperti pemandangan pada film Lord of The Ring. 
Menimbulkan rasa magis. 
Membuat jiwaku ingin merunduk sedalam-dalamnya, namun sekaligus takjub.

Selamat Datang di Pulau Sebesi

Setiba di Pulau Sebesi, kami di briefing oleh Leader sekaligus dibagikan peralatan sepatu katak, pelampung dan snorkel. Setelah itu kami berganti pakaian renang di guest house.
Tanpa mandi pagi, hihi.

Suasana perkampungan Pulau Sebesi.


(Keterangan Foto: Suasana perkampungan Pulau Sebesi. Rumah hijau di sebelah kiri adalah guest house yang Kami sewa)

Selesai berganti pakaian, Kami kembali ke kapal untuk menuju spot snorkeling di Pulau Sebuku. Dan pada sorenya kami menuju Pulau Umang-umang untuk memotret sunset


Walau ke Laut , Tongsis teteup kudu dibawa




Sayangnya sebelum matahari terbenam, hujan lebat mulai turun lagi disertai petir, makakami memutuskan untuk segera kembali ke kapal untuk pulang ke guest house.

Dan petualangan akan dilanjutkan esok pagi. : Mendaki Anak Krakatau

Kisah lain yang kubawa sebagai oleh-oleh dari perjalanan ini :

Catatan: Penyelenggara perjalanan adalah Langlang Bhuwana.  Leader : Om Hendra, Co Leader : Om Akbar.

Artikel Wisata Lain:


Monday, February 2, 2015 0 komentar

Mengalahkan Diri Sendiri (Bagian II)

Saya pernah menuliskan kekhawatiran dan ketakutan Saya tentang laut di sini

Lalu, Hari Sabtu dan Ahad tanggal 31 Januari dan 1 Februai 2015, Saya membongkar ketakutan yang terendap di mental Saya, dengan langsung nyempung ke laut.
Bukan sekedar nyemplung, tapi Saya snorkeling dan menyelam ke dasar laut.
Menyapa ikan-ikan.

Meski bagi Pasukan Katak TNI kita yang gagah-gagah itu,  apa yang Saya lakukan ini hanya seujung kuku dari kemampuan mereka, tapi untuk Saya, hal ini adalah sebuah prestasi karena Saya berhasil menaklukan ketakutan sendiri.

Ah, ada sebuah pepatah yang mengatakan : Sesungguhnya tidak ada keberanian tanpa pernah merasa ketakutan.


Eureka!!!

4 komentar

Mengalahkan Diri Sendiri

Bagian I

Sering kali Kita mendengar pepatah “Musuh terbesar kita adalah diri kita sendiri”.
Mengapa begitu?

Kita bisa mengatakan tidak pada ajakan orang lain.
Kita bisa merasa tersinggung dan marah bila ada seseorang berani melemahkan semangat Kita.
Kita bisa kesal bila seseorang meremehkan kemampuan Kita.

Tapi bagaimana jika pikiran Kita sendiri yang mengatakan: Ah, Aku tidak mampu mengerjakannya?
Atau “Aku cuma seperti ini, mana mungkin bisa melakukan hal tersebut?” 
Bila kalimat negatif tersebut keluar dari pikiran Kita, tanpa banyak bantahan Kita langsung mempercayainya.

Padahal bisa jadi perasaan tidak mampu tersebut berasal dari rasa rendah diri atau ketidaktahuan. Bahkan kemungkinan terbesar berasal dari kemalasan.

Berikut ini Saya bagikan kisah nyata penaklukan diri sendiri melawan rasa tidak mampu.

Beberapa bulan lalu,. Seorang Ibu tertarik mengunjungi salah satu artikel di blog ini yang tautannya Saya bagikan di status Facebook Saya. Tertarik melihat tampilan blog ini, Ia mengirim pesan melalui layanan pesan Facebook yang isinya meminta diajarkan cara membuat blog. 
“Tapi Saya buta ilmu komputer, Mbak.” Tulisnya. “
“Ngga apa-apa, Bu. Kita belajar pelan-pelan.” Kata Saya menyemangatinya.
Kami selanjutnya mengatur waktu dan tempat pertemuan.

Di hari pertama belajar, Saya jadi tahu bahwa ibu tersebut bukan hanya buta terhadap cara pengoperasian komputer saja, bahkan bagaimana menggerakkan mouse pun, ibu yang berusia nyaris 60 tahun ini,  belum terbiasa.

Lalu, tarrraaa….
Dalam 10 kali pertemuan, blog yang diimpikan ibu tersebut telah selesai Kami bangun bersama-sama. Dan sekarang, Saya lihat beliau aktif menulis di blog tersebut serta rajin berbagi tautan artikel-artikel yang ditulisnya melalui akun Facebook dan Twitternya

Saya salut pada Beliau.

Setiap datang belajar, Ia selalu membawa semangat dan keinginan untuk bisa. Padahal saat itu, jika Ia merasa malas mengunjungi Saya, Ia punya alasan tepat, yaitu sering turun hujan yang membuat jalanan yang dilaluinya menjadi banjir dan macet
Tapi si Ibu berhasil melawan segala alasan dan hambatan yang merintangi keinginannya untuk bisa membuat dan mengelola sebuah blog.
  
Kisah kedua adalah pengalaman diri Saya sendiri.
Pada Hari Minggu 1 Februari 2015 lalu di subuh hari pukul 03.00, Saya beserta rombongan melakukan pendakian ke Gunung Anak Krakatau. Saat berangkat sebenarnya kondisi tubuh Saya sedang tidak terlalu fit. Saya kelelahan setelah snorkeling dan diving sehari sebelumnya. Saya kecapekan. 
Untuk bangun dari tidur di subuh itu saja terasa berat. 

Lalu Saya teringat, bahwa tujuan utama trip Saya kali ini adalah mendaki Gunung Anak Krakatau. Justru snorkeling dan diving yang kami lakukan kemarin hanyalah extra menu. Ingatan ini memaksa Saya bangun dari tidur dan melangkahkan kaki bersama rombongan subuh itu.

Singkat cerita, saat di tengah pendakian nafas Saya mulai ngos-ngosan.
Kepala Saya pun terasa pusing.

Namun, Alhamdulillah, Saya bersama Suami yang selalu menyemangati.
“Sedikit lagi sampai. Kita naik sampai batu itu, ya, nanti istirahat di sana" Katanya.
Setelah istirahat beberapa menit dia akan menarik tangan Saya agar bangkit lagi.  “Ayo, sudah makin siang. Nanti ngga dapat sunrise

Kecapekan, pusing dan kemudian turun hujan deras,  sebenarnya bisa menjadi alasan tepat bagi Saya untuk berhenti dan memilih turun saja. 
Tapi Saya memutuskan mengikuti ajakan Suami. 
Terus melangkah ke atas.

Dan, Alhamdulillah, meskipun tidak mendapat sunrise karena turun hujan, tapi Saya merasa puas karena bisa menaklukan berbagai alasan yang menggagalkan Saya mencapai batas tertinggi Gunung Anak Krakatau.

EUREKA!!! 



Info Foto : 
Atas : Saya tepar. Terlentang pasrah dengan nafas ngos-ngosan. 
Bawah : Keep on moving...


PS : Terima kasih buat Belahan Jiwa yang selalu hadir untuk menyemangati, membimbing dikala perjalanan terasa berat, mendorong dikala Saya berhenti dan mengangkat dikala kuterjatuh.

Silakan baca juga artikel lainnya :

Mengalahkan Diri Sendiri (Bagian II)

0 komentar

Membangun Bisnis Dengan Modal Terbatas.

Bagian I


Sungguh, Saya tidak percaya jika ada bisnis yang benar-benar tanpa modal.
Semua bisnis pasti membutuhkan modal. Entah itu modal uang, modal waktu, modal tenaga bahkan modal akal pikiran. Semua modal tersebut ada nilainya.

Orang yang memiliki uang bisa bekerja sama dengan orang yang memiliki ide bisnis. Dan si 'penyumbang' ide bisnis ini semestinya dihargai dengan sebuah nilai share dalam kepemilikan perusahaan. Begitupun, sudah ada pemilik modal, pemberi ide bisnis, tapi mereka butuh seseorang yang mempunyai waktu dan tenaga bagi bisnis tersebut agar dapat berjalan dan menghasilkan keuntungan. Orang inipun seharusnya diberi apresiasi sejumlah nilai tertentu, entah dalam bentuk gaji atau share kepemilikan bisnis.
Ok, sudah sepaham kan?

Sebuah bisnis bisa berjalan,  selain membutuhkan orang yang menjalankan, perlu juga alat-alat pendukukg bisnis. Bahkan bisnis 'percaloan' minimal perlu alat komunikasi.
Nah, saat membangun sebuah bisnis, buatlah dengan detil daftar segala barang pendukung bisnismu.
Lalu dari daftar tersebut dipilih mana yang bisa diadakan nanti, sewa, pinjam, pakai barang bekas atau memang harus benar benar beli baru.

Seperti saat memulai membuat bisnis Nastar Safira, Saya memakai oven dan mixer yg sudah ada di rumah, meminjam loyang-loyang kakak ipar, tapi baskom dan beberapa peralatan kecil lainnya Saya beli baru. 

Lalu setelah terjadi penjualan, sedikit demi sedikit beli Saya membeli peralatan baru untuk menggantikan fungsi peralatan lama atau pinjaman tadi.

Opsi untuk pengadaan peralatan pendukung bisnis : 
1. Jika sebuah ( atau beberapa) barang terasa berat untuk membelinya (harganya mahal, mungkin), pilihan pertama ditiadakan barang tersebut atau diganti yang tidak mahal. 
2. Sewa. 
3. Pinjam. 

Opsi pinjam berada diurutan terakhir karena ada konsekwensi moral hutang budi.
Tapi kadang kala opsi ini harus diambil, anggap saja sebagai pengingat kita saat sukses nanti: bahwa bisnis kita tersebut tidak bisa sukses tanpa bantuan pihak lain. ( tapi, tetap usahakan hutang budi seminim mungkin, karena tidak akan terbayar seumur hidup)


Silakan baca artikel Entrepreneurship lainnya: 




1 komentar

Beriklan Dengan Cantik, Dong, Say

Mbak Say, 

Mbok,ya, jangan begitu. 

Begitu diapprove permintaan pertemanan darimu, tanpa membuang waktu,  lewat inbox Facebook langsung Kau krim pesan berderet-deret yang berisi iklan daganganmu.
Memang kau menguluk salam. Tapi benar-benar terasa hanya sebuah basa-basi, karena Aku pun belum sempat lagi menjawabnya.

Perlakuanmu terhadapku ini, membuat Aku jadi merasa sebagai objek eksploitasimu. Jelas terlihat, Kau mau mengajak Aku berteman sekedar supaya bisa beriklan. Padahal meskipun Aku sering wara-wiri di dunia maya, tapi Aku ini makhluk nyata, loh.
Bayangkan, gimana coba bengongnya Kamu, jika Kamu sedang berada di suatu tempat, tiba-tiba disapa seseorang lalu langsung dibombardir dengan promosi produk: blablabla... 
Lalu, sikap seperti apa yang akan Kau tunjukkan terhadap orang seperti itu? Tentu kamu akan menghindari bertemu orang tersebut lagi, ya, kan?
Begitupun di dunia maya, orang yang tidak asik karena egois, orang yang hanya menjadi teman sebagai objek promosinya, tentu pun akan dihindari.
Ingatlah satu hal, meskipun akun-akun tersebut berada di dunia maya, tapi dibelakang itu ada manusia nyata. Jadi berinteraksilah seperti Kau sedang berinteraksi dengan sesama manusia di dunia nyata.

Foto: Digitaltrend

Silakan baca artikel entrepreneurship lainnya: 


 
;