Friday, December 15, 2023 0 komentar

Menikah Siri di Era Modern: Pendapat Subyektif Penulis.

Oleh: Rinny Mirari Ermiyanti

Fenomena menikah siri telah menjadi hal yang cukup umum di banyak kota metropolitan di berbagai negara. Menikah siri mengacu pada pernikahan yang tidak diakui secara hukum atau agama tertentu, biasanya dilakukan tanpa izin atau pemberitahuan kepada pihak berwenang atau pasangan resmi. Alasan seseorang memilih menikah siri bisa bervariasi, termasuk keinginan untuk menghindari prosedur hukum yang rumit, menghindari birokrasi, sebagai bentuk protes terhadap sistem pernikahan yang ada, atau bahkan sebagai wujud legalisasi' hubungan seks di antara dua orang yang berselingkuh.

Menikah Siri: Kontroversial di Era Modern

Menikah siri, dalam beberapa tahun terakhir, telah menjadi topik hangat di masyarakat, memicu perdebatan dan kontroversi. Beberapa kalangan menganggapnya sebagai cara alternatif untuk mengakomodasi hubungan asmara tanpa harus melibatkan prosedur hukum yang rumit, sementara pihak lain menganggapnya sebagai sebuah tindakan yang merusak nilai-nilai pernikahan dan mengancam institusi keluarga tradisional.

Persentase wanita karir yang bersedia menikah siri juga tidak dapat diabaikan. Wanita karir seringkali berhadapan dengan tekanan besar di dunia profesional, terutama dalam lingkup pekerjaan yang menuntut dan kompetitif. Mereka mungkin memilih menikah siri sebagai upaya untuk menjaga aspek-aspek tertentu dari kehidupan pribadi mereka terpisah dari kehidupan profesional yang cenderung penuh ekspektasi dan evaluasi.

Menggali Alasan di Balik Pilihan Menikah Siri

Ada beberapa alasan kuat mengapa orang, termasuk wanita karir, memilih menikah siri. Salah satunya adalah menghindari kompleksitas dan birokrasi yang seringkali terkait dengan pernikahan resmi. Proses pernikahan yang sah membutuhkan berbagai dokumen, persyaratan, dan waktu yang tidak sedikit. Dalam situasi tertentu, pasangan mungkin merasa terbebani dengan persyaratan yang berbelit-belit ini sehingga memilih jalur yang lebih sederhana.

Selain itu, bagi mereka yang percaya pada bentuk protes, menikah siri dapat dianggap sebagai cara untuk melawan sistem pernikahan yang ada yang mungkin dianggap tidak sesuai dengan nilai atau keyakinan pribadi. Pilihan ini bisa menjadi bentuk perlawanan terhadap norma sosial yang ada, terutama jika pasangan memandang pernikahan sebagai bentuk komitmen yang lebih dalam daripada sekadar tanda-tanda formal.

Selanjutnya, adanya fenomena perselingkuhan di banyak kota besar juga telah menjadi faktor yang mempengaruhi popularitas menikah siri. Bagi beberapa orang, menikah siri bisa dianggap sebagai cara untuk melegalkan hubungan mereka dengan pasangan selingkuhannya. Meskipun ini tentu saja tidak dapat dijadikan pembenaran moral, namun kenyataannya menunjukkan bahwa alasan-alasan ini masih ada dalam pandangan beberapa individu.

Kontroversi dan Implikasi Sosial

Meskipun menikah siri dapat dipandang sebagai sebuah pilihan kebebasan pribadi, tidak dapat dipungkiri bahwa fenomena ini juga menimbulkan kontroversi dan berbagai implikasi sosial. Salah satunya adalah kurangnya perlindungan hukum bagi pasangan yang menikah siri. Tanpa pengakuan resmi, pasangan ini tidak memiliki hak-hak yang sama seperti pasangan yang sah secara hukum. Ini dapat mencakup masalah hak waris, asuransi kesehatan bersama, dan hak untuk mengambil keputusan dalam situasi kritis.

Di sisi lain, fenomena menikah siri juga dapat membuka celah bagi penyalahgunaan dan eksploitasi, terutama di kalangan perempuan. Pernikahan yang tidak diakui secara hukum dapat memperburuk ketidaksetaraan gender dan memberikan peluang bagi pihak yang tidak bertanggung jawab untuk mengeksploitasi situasi ini.

Pandangan Masyarakat dan Pilihan Individu

Terkait dengan isu ini, pandangan masyarakat sangat bervariasi. Beberapa orang percaya bahwa setiap individu berhak memilih bentuk hubungan yang mereka anggap sesuai dengan keinginan dan kebutuhan mereka. Sementara itu, yang lain menekankan pentingnya menghormati nilai-nilai pernikahan dan mematuhi prosedur hukum dan agama yang berlaku.

Di akhir artikel, penting untuk diingat bahwa pilihan menikah siri adalah keputusan pribadi yang sangat kompleks dan dapat dipengaruhi oleh berbagai faktor. Meskipun pandangan masyarakat beragam, penting bagi kita untuk menghormati kebebasan dan martabat setiap individu dalam membuat keputusan hidupnya. Di sisi lain, pemerintah dan lembaga terkait perlu mempertimbangkan apakah regulasi yang lebih fleksibel atau alternatif diperlukan untuk melindungi hak-hak individu yang memilih jalur ini, sambil tetap menghargai nilai-nilai yang mendasari institusi pernikahan yang sah.


0 komentar

Hamlet Syndrome


*Hamlet Syndrome, Sindrom yang Muncul Ketika Kita Bimbang dalam Memutuskan*

Kehidupan ini sering kali seperti drama Shakespeare yang rumit, dan kadang kita merasa menjadi seperti Hamlet.

 "To be or not to be?" itu pertanyaannya. 

Nah, Hamlet Syndrome, istilah yang tidak resmi, digunakan untuk menggambarkan momen-momen ketika kita berjuang keras untuk membuat keputusan penting. Bayangkan, kamu punya banyak pilihan dan tak tahu harus memilih yang mana. 

Hamlet Syndrome ini nggak ada di buku medis, tapi kita sering merasakannya. Ini seperti ketika bingung mau pesan makanan di restoran yang punya menu panjang, atau ketika nggak tahu harus nonton film apa di Netflix. Dalam situasi yang lebih serius, Hamlet Syndrome bisa bikin orang bimbang dalam keputusan besar, seperti pilih karir atau dalam urusan asmara.

Pernah nggak, kamu bingung harus ngambil jalur karir yang mana? Misalnya, kamu suka banget seni dan punya impian menjadi seniman, tetapi di sisi lain kamu juga dapat tekanan buat cari pekerjaan yang lebih stabil secara finansial. Maka, kamu terjebak dalam pertanyaan, "Apakah aku harus ikuti passionku atau mencari keamanan finansial?" Dan itu bisa bikin kepala mumet karena pada akhirnya cuma bingung.

Intinya, Hamlet Syndrome adalah istilah simpel yang digunakan untuk menggambarkan momen-momen kebingungan dalam hidup kita. Kita semua mengalami ini dari waktu ke waktu. Tapi ingat, jika kamu merasa kesulitan dalam membuat keputusan yang signifikan atau punya masalah psikologis serius, jangan ragu untuk minta bantuan dari profesional kesehatan mental. Mereka ada di sana untuk membantu kita menavigasi kompleksitas kehidupan ini.
0 komentar

Botox, Filler, Oplas, eh Gimana...Gimana?

Ariana Grande mengatakan bahwa dia berhenti memakai botox dan filler untuk mempercantik wajahnya karena secara psikologisnya merasa terganggu akibat seolah selama ini dia "bersembunyi" di balik segala botox dan fillernya.

(Aku sendiri belum tentu sebulan sekali ke klinik kecantikan buat facial, apalagi melakukan filler atau oplas atau apalah. Aku sih lebih percaya pada perawatan jangka panjang. Termasuk yoga wajah)

Terlepas soal perintah atau larangan dalam beragama, pendapatku pribadi adalah gak apa-apa sih kalau memang mau oplas, botox, atau filler atau tarik benang atau apalah-apalah sepanjang itu untuk mengoreksi ketidaksempurnaan yang membuat tidak percaya diri.

Ada orang yang secara genetis punya kulit wajah sangat mudah kendur, sehingga di usia 35 sudah kelihatan 50. Dia merasa perlu botox agar penampilannya tampak sesuai usia, monggo.

Ada orang yang wajahnya ngga simetris sehingga perlu filler, ya monggo.

Yang masalah dalam pandanganku, sekali lagi  pendapat ini subyektif-adalah orang-orang yang oplas, filler, botox, tanam benang, endebra-endebra yang berlebihan yang membuat wajahnya malah tampak aneh.
Kemarin aku membaca sebuah artikel tentang seorang gadis yang berusia 19 tahun, rela operasi plastik hingga 50 kali dan diet ekstrem agar mirip Angelina Jolie, yang malah jadi terlihat seperti zombie.

Adolf Zeising di tahun 1855 menyatakan bahwa tubuh ideal seorang manusia adalah yang bagian-bagiannya mengikuti aturan Rasio Emas. Zeising bilang, jarak dari pusar ke jari kaki dibagi dengan tinggi tubuh adalah 1,6. (1,61803.... adalah nilai rasio emas φ) Jarak ideal dari ujung hidung ke tengah bibir adalah 1,6 x jarak dari tengah bibir ke dagu. Volume kedua bibir memiliki rasio 1: 1,6. Dimana bibir atas sedikit lebih tipis dibandingkan bibir bagian bawah.

Dan lain-lain. 

Namun nyatanya, ketika menciptakan penduduk dunia yang pada hari ini pukul 09.59 sebanyak  8,021,249,050, banyak yang tidak mengikuti kesesuaian Rasio Emas tersebut. Tetapi justru menjadi ciri khasnya, atau menjadi penanda akar pangkal asal muasalnya. 

Hal ini yang menjadi alasan beberapa orang yang memiliki ketidaksesuaian wajah untuk melakukan operasi plastik. Sekali lagi, pendapat saya, ya Monggo. Sepanjang hal itu membuat happy.

Dan asalkan setelahnya ngga bilang habis digebukin di Bandung.
 
;