Friday, December 15, 2023

Botox, Filler, Oplas, eh Gimana...Gimana?

Ariana Grande mengatakan bahwa dia berhenti memakai botox dan filler untuk mempercantik wajahnya karena secara psikologisnya merasa terganggu akibat seolah selama ini dia "bersembunyi" di balik segala botox dan fillernya.

(Aku sendiri belum tentu sebulan sekali ke klinik kecantikan buat facial, apalagi melakukan filler atau oplas atau apalah. Aku sih lebih percaya pada perawatan jangka panjang. Termasuk yoga wajah)

Terlepas soal perintah atau larangan dalam beragama, pendapatku pribadi adalah gak apa-apa sih kalau memang mau oplas, botox, atau filler atau tarik benang atau apalah-apalah sepanjang itu untuk mengoreksi ketidaksempurnaan yang membuat tidak percaya diri.

Ada orang yang secara genetis punya kulit wajah sangat mudah kendur, sehingga di usia 35 sudah kelihatan 50. Dia merasa perlu botox agar penampilannya tampak sesuai usia, monggo.

Ada orang yang wajahnya ngga simetris sehingga perlu filler, ya monggo.

Yang masalah dalam pandanganku, sekali lagi  pendapat ini subyektif-adalah orang-orang yang oplas, filler, botox, tanam benang, endebra-endebra yang berlebihan yang membuat wajahnya malah tampak aneh.
Kemarin aku membaca sebuah artikel tentang seorang gadis yang berusia 19 tahun, rela operasi plastik hingga 50 kali dan diet ekstrem agar mirip Angelina Jolie, yang malah jadi terlihat seperti zombie.

Adolf Zeising di tahun 1855 menyatakan bahwa tubuh ideal seorang manusia adalah yang bagian-bagiannya mengikuti aturan Rasio Emas. Zeising bilang, jarak dari pusar ke jari kaki dibagi dengan tinggi tubuh adalah 1,6. (1,61803.... adalah nilai rasio emas φ) Jarak ideal dari ujung hidung ke tengah bibir adalah 1,6 x jarak dari tengah bibir ke dagu. Volume kedua bibir memiliki rasio 1: 1,6. Dimana bibir atas sedikit lebih tipis dibandingkan bibir bagian bawah.

Dan lain-lain. 

Namun nyatanya, ketika menciptakan penduduk dunia yang pada hari ini pukul 09.59 sebanyak  8,021,249,050, banyak yang tidak mengikuti kesesuaian Rasio Emas tersebut. Tetapi justru menjadi ciri khasnya, atau menjadi penanda akar pangkal asal muasalnya. 

Hal ini yang menjadi alasan beberapa orang yang memiliki ketidaksesuaian wajah untuk melakukan operasi plastik. Sekali lagi, pendapat saya, ya Monggo. Sepanjang hal itu membuat happy.

Dan asalkan setelahnya ngga bilang habis digebukin di Bandung.

0 komentar:

Post a Comment

 
;