Friday, June 30, 2017 3 komentar

Turunkan Egomu

Saya terlahir sebagai anak kedua. Namun sebagai anak perempuan pertama, maka saya jadi tangan kanan Ibu. Saya jadi lebih sering (sok) mengatur adik-adik saya. Kehidupan masa muda yang struggle juga membuat saya harus berpikir dan memutuskan sendiri jalan hidup saya. Sehingga saya merasa mandiri. Ujung-ujungnya tingkat ego saya tinggi.

Belakangan terpikir, saat masih muda saya memelihara ego "to the max level" adalah sebagai salah satu bentuk pertahanan diri.

“Naksir gue? Jangan coba-coba nanti lu ngerubah gue. Apalagi nanti nyuruh gue begini begitu.”
Ini kalimat saya saat dilamar seorang teman dekat.

“Siapa lu, segitunya ama gue. Gue ngga perlu bergantung ama lu. Gue bisa 'cari makan' sendiri.” Kalimat saya saat tersinggung masalah uang.

*Sori ye, lu kira gue bego ngga ngerti hal kayak gitu. Lu ngga perlu deh ngasih tau ke gue.” Beginilah respon saya saat dinasihati.

Dan sederet pernyataan bernada arogan lainnya saat (calon) suami dan orang lain mengharapkan saya berkelakuan tertentu. Saya merasa tingkah laku saya sudah benar.

Contoh yang lain adalah ketika saya akan menikah. Buat mas kawin dan seserahan, saya sih memang ngga minta sepatu dari kulit rusa. Saya juga ngga minta tas hitam dari kulit buaya. Apalagi selendang dari benang sutera. Semua itu kutak minta. Yang kuingikan hanya cinta bukanlah harta. Tapi saya mengajukan syarat pada calon suami,: "Jangan sekali-kali ya menyuruh saya berhenti bekerja. Saya udah capek sekolah ngapain cuma nganggur doang. Saya pingin bebas punya duit sendiri."
Untunglah (calon) suami pun sepakat. Kalau saat itu dia pas lagi sebel sama saya, dijamin deh, masa perjombloan saya akan lebih panjang.
Tapi nyatanya, begitu kami punya anak dua sekaligus, malah dengan suka cita saya ‘angkat bendera’. Saya berhenti bekerja.  Bukan karena suami yang menyuruh melainkan ‘peringatan’ yang datang dari seekor kucing.

Di suatu senja di musim yang lalu ketika itu hujan rintik, di halte Cempaka Putih saya melihat seekor induk kucing sedang menyusui anak-anaknya. Saya langsung memutuskan resign saat itu juga.
"Dalam memperlakukan bayinya, masa gue kalah ama emak kucing!" Begitu pikir saya. Ego saya yang tadinya 'sok bisa cari makan sendiri', saya turunkan levelnya. Saya mengalah, menerima seluruh kebutuhan saya dibiayai oleh penghasilan suami.
(Qadarallah, bertahun-tahun setelah keputusan tersebut, saya bisa kembali bekerja. Plus bisa kembali sekolah.)

Disamping soal pekerjaan, ada banyak lagi kejadian yang membuat saya harus menyurutkan ego. Karena jika saya kekeuh, niscaya karamlah biduk rumah tangga ini.
Demi apa?
Demi anak-anak.
Perselisihan kan biasanya akibat ada ketidak sesuaian harapan dan kenyataan. Kita berharap pasangan bertindak A, eh malah kenyataannya dia bertindak B. Dan ego kita tak bisa menerima bahwa ia tidak memenuhi harapan kita. Maka terjadilah perang.

Saya bukan manusia yang tanpa cacat cela. Jadi saya juga ngga bisa mengharapkan suami adalah seseorang yang sempurna. Menyadari hal itu, sekarang saya cuek dengan segala daftar kriteria "ciri-ciri suami idaman" yang ada di artikel tabloid anu, yang sempat menjadi bahan acuan buat saya dulu. Karena ternyata saya sendiri ngga bisa memenuhi lebih dari 75% ciri-ciri istri idaman. 

Tapi tentu saya juga menetapkan batas toleransi: Saya tidak akan terima segala macam jenis "abuse". Baik secara verbal, emosional apalagi fisik. BIG NO!
Hari ini saya melihat lagi seorang teman yang terjebak dalam ‘adu tinggi ego’ dengan suaminya. Saya tidak berani lagi memberi saran begitu-begini padanya, karena malah akan jadi bertengkar tulisan melalui WA dengannya. Cuma saya koq terlalu sayang padanya untuk bersikap masa bodoh. Maka saya tulis disini aja ya saran dari saya. Barangkali suatu saat dia pas nyasar ke blog saya ini, jadi dia bisa membaca tulisan ini.

Teman tersayang, plis deh, kurangi level harapan 'kesempurnaan terhadap suami. Juga terhadap anak-anak.
Karena habit tiap orang kan berbeda. Suamimu itu asal muasalnya kan 'orang lain'. Segala kebiasaannya, cara berpikirnya berbeda dengan kamu. Dan hal tersebut telah terbentuk tahunan sejak ia masih bayi. Jadi kamu ngga bisa memintanya berpikir dan bertindak sama plek dengan kamu. Beri ia kelonggaran waktu untuk menyesuaikan diri terhadap harapanmu. Dan juga paksa dirimu untuk menyesuiakan diri dengannya.
Pernikahan kami sih baru 16 tahun, tapi dari situ saya belajar bahwa upaya kami untuk saling menyesuaikan harus dilakukan terus menerus.



Monday, June 26, 2017 0 komentar

Memaafkan

Di hari ke 3 Hari Raya tahun 2017 ini saya membaca postingan status Facebook dua orang Coach yaitu Coach Julie Nava dan Coach Dwiarko. Tulisan yang membuat saya menyimak ke dalam hati saya sendiri.
Tulisan kedua orang tersebut adalah tentang MEMAAFKAN.

Sebagian status Coach Julie Nava: sebagai berikut,
Saya akhirnya bisa melihat dengan jelas. Bahwa memaafkan itu tidak semudah kita mengirim kartu ucapan Lebaran atau blasting pesan massal tentang Idul Fitri melalui medsos. Sebagian bisa dengan enteng melakukan itu, namun sebagian lagi perlu mengerti WHY-nya, sebelum bisa memutuskan.
Memaafkan juga tergantung dengan apa yang kita anggap penting. Ia semacam alat tukar. Jika kita menganggap nilainya tak seberapa, maka maaf dengan mudah bisa diberikan. Sebaliknya, jika itu dianggap sangat serius, kita akan sulit melakukannya.
Contoh: ada orang bikin proyek saya melayang. Namun karena yakin bahwa rejeki selalu bisa dicari, maka dengan enteng saya bilang, "Ah biarin aja, toh cuma soal uang."
Tetapi lain halnya jika ada orang mencemarkan nama baik saya. Itu serius banget. Saya bisa mengutuk hingga tujuh turunan (ceileee...), dan itu lebih lama membekas di benak. Sampai beberapa lama, saya akan terus bicara soal itu.
Nah, sekarang tahu kan, kenapa jika ada orang masih mengungkit-ungkit sesuatu meskipun berulangkali bilang sudah memaafkan, itu sebenarnya belum beneran memaafkan?

Sedangkan tulisan Coach Dwiarko sebagai berikut:
Sebenarnya meminta maaf bukan untuk orang lain atau karena kita mempunyai salah sama orang tersebut. Tetapi saling meminta maaf sebenarnya untuk diri kita sendiri. Meminta maaf bukan untuk kepentingan orang lain, tetapi untuk kepentingan diri kita, hati dan pikiran kita. 
Dengan meminta maaf kita menanamkan energi positif dalam diri. Kita mengumpulkan kata-kata positif dan "miracle word" yang berguna buat bank data alam pikiran kita.

Sebagai manusia yang pernah menjalani naik turun kehidupan, setelah direnungkan ternyata selama bertahun-tahun saya membawa luka-luka batin. Bertahun-tahun saya masih merasa sakit hati kepada orang-orang yang menorehkan luka tersebut.

Karena tulisan dua Coach  ini saya bertekad , luka-luka itu harus saya sembuhkan sendiri.
Saya belum tahu bagaimana caranya. Pertama yang terpikir adalah saya akan meminta maaf. Dengan begitu mungkin saya bisa memaafkan.

Saturday, June 24, 2017 1 komentar

Salah Satu Penemuan Hebat di Dunia: Panci Presto

Tradisi dalam keluargaku, rendang dan buras adalah dua jenis makanan yang wajib ada saat Lebaran. Disamping NASTAR, tentu. Perkawinan makanan Minang dan Makassar  yang entah bagaimana ceritanya selalu bertemu di meja makan kami di saat Hari Raya. Makanan-makanan bersantan yang pasti akan membuat kadar kolesterol darahku naik.

Saya ingat ketika saya masih gadis muda, kedua jenis makanan ini akan membuat Ibu bergadang saat memasaknya. Dan saya biasanya menemani beliau sebagai wujud toleransi sebagai anak (pletak!). Pada hari terakhir puasa, Ibu berangkat ke pasar saat tengah hari. Lalu mulai memasak setelah waktu Ashar. Untuk merebus buras (dan sedikit ketupat) ibu biasanya memasaknya selama minimal 6 jam! Api yang digunakan berasal dari kompor berbahan minyak tanah, dalam kaleng blek bekas minyak sayur.

Sekarang tradisi ini menurun pada keluarga saya. 

Walau tidak dikatakan terus terang, tapi dari permintaannya berulang-ulang, suami pun seperti mewajibkan saya menyediakan rendang dan buras setahun dua kali. Tiap Hari Raya.  Hanya saja jika saya harus memasak buras selama 6 jam, waduh, kapan saya sempat ngeblog dan ber-sosmed-an
"Nyerah Adek, Bang." 

Untunglah setiap masalah selalu dilengkapi jalan keluar. Maka untuk memangkas waktu memasak, saya menggunakan panci bertekanan alias Presto Cooker.  Dengan panci presto, saya hanya butuh waktu 3 jam untuk memasak. 2 jam untuk segala preparation dan 1 jam untuk merebus buras. Begitupun dengan rendang. Jadi sementara 2 panci presto itu bekerja beriringan, saat yang sama saya bisa mengerjakan hal lain. Diantaranya  mengetik artikel ini. Tak terasa, satu jam kemudian, ting!  Kelar deh kedua masakan tersebut.


Oya, tak lupa saya ucapkan terima kasih kepada James Watt  atas penemuan revolusionernya tentang mesin uap. Yang merupakan prinsip dasar dari cara kerja panci presto ini. Ya tentu juga diikuti oleh para inventor penyusulnya hingga packing presto cooker terbentuk. Dan sudah pastinya segala puji kepada Allah Subhanawata’ala yang memberi ilham kepada para ilmuwan tersebut sehingga panci  presto hadir ada di dunia ini dan bisa dimanfaatkan oleh emak-emak sejagat, termasuk saya.

Terima kasih.
Friday, June 23, 2017 1 komentar

SAYA BENCI KORUPTOR

Membaca berita kasus tertangkapnya Gubernur Bengkulu Ridwan Mukti dan istri dalam Operasi Tangkap Tangan oleh Komisi Pemberantasan Korupsi, benar-benar membuat saya kembali merasa mangkel. Gimana ngga mangkel, itu yang dikorupsi kan walau uang berasal dari Perusahaan Swasta, tapi nanti ujung-ujungnya rakyat juga yang akan membayar. 

Sebagai Pengusaha, saya juga tahu bahwa setiap sen uang yang keluar untuk sebuah proyek akan dihitung . Dan diusahakan mendapat laba dari setiap uang yang keluar itu. Nah, yang membiayai proyek kan uang APBD. 

Nah, Pemimpin Propinsi memakan uang rakyat, koq tega! Padahal menurut data BPS pada September tahun 2016, jumlah penduduk miskin di Bengkulu adalah 325,6 ribu dari total jumlah penduduk 1,9 juta jiwa.  Atau sekitar 17% penduduk. 17% yang dihitung itu adalah orang yang mempunyai pendapatan DIBAWAH Rp. 437.000/bulan yang merupakan ambang garis kemiskinan di Bengkulu.
Miris banget. Juga gemes banget. Marah. Jadi benci walau ngga pernah kenal. pada Pak Ridwan ini.



Banyaknya para pejabat dan wakil rakyat yang tertangkap, tersangka dan terpidana sebagai koruptor, membuat saya bertanya-tanya, ada ngga sih Pemimpin, Pejabat, Wakil Rakyat apapun namanya, yang harta kekayaannya makin berkurang dibanding saat sebelum menjabat karena ia rela mengorbankan diri dan harta bendanya buat rakyatnya?
Ada ngga ya Pejabat, Pemimpin, Wakil Rakyat yang bersedia tidak akan makan kenyang selama rakyatnya masih ada yang dhuafa?
Adakah Pejabat, Pemimpin, Wakil Rakyat yang memilih duduk bersama keluarganya dalam gelap, disebabkana minyak lampu tersebut dibayar oleh negara. Dan ia khawatir rakyatnya tidak ridho uang mereka dipakai oleh kebutuhan pribadinya, seperti yang dicontohkan oleh Khalifah Umar bin Abdul Aziz?
Adakah Pejabat, Pemimpin, Wakil Rakyat yang takut pada akhir hayatnya disaksikan sebagai koruptor oleh rakyatnya? Padahal kesaksian orang bahwa seseorang itu dzolim bisa menjebloskannya ke neraka.
Ada ngga sih yang meneladani Seperti halnya Rasulullah yang semula pemuda kaya raya lalu setelah diangkat menjadi Rasul malah hanya tidur diatas tikar pelepah kurma?
Kalau mau memupuk kekayaan karena pekerjaan, ya jangan jadi Pejabat Publik atau Wakil Rakyat dong. Jadi Pebisnis saja lah, Pak, Bu.


0 komentar

Jadilah Orang Kaya

Dari pengajian malam ini:

Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda: “Bukanlah kekayaan itu karena banyaknya kemewahan dunia (harta), akan tetapi kekayaan (yang hakiki) adalah kekayaan (kecukupan) dalam jiwa (hati)” Hadist riwayat al-Bukhari (no. 6081) dan Muslim (no. 120).
Jika Allah menjadikanmu orang yang berkecukupan dalam harta, maka jadilah orang kaya yang bertakwa, orang kaya yang dermawan, orang kaya yang rendah hati, orang kaya yang sederhana, orang kaya yang rela hartanya menjadi alat perjuangan kemashlahatan umat.
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam sabda bersabda,
إِنَّ لِكُلِّ أُمَّةٍ فِتْنَةٌ، وَفِتْنَةَ أُمَّتِي الْمَال
Sesungguhnya pada setiap umat (kaum) ada fitnah (yang merusak/menyesatkan mereka) dan fitnah (pada) umatku adalah hartaHR. Tirmidzi no. 2336, shahih
Jadilah orang kaya yang mengasihi orang miskin. Karena tak jarang kemiskinan bisa mengakibatkan keputusasaan. Tidak sedikit orang miskin yg rela menukar imannya dengan .
.sekarung beras


Wednesday, June 21, 2017 0 komentar

Cek Mundur dan Anak Kerbau

Perusahaan kami sering sekali mendapat pembayaran dari Customer dalam bentuk cek atau giro mundur. Jadi sesuai dengan perjanjian, kolektor kami datang sesudah 30 hari dari tanggal pengiriman barang. Tetapi saat penagihan kami diberikan cek atau giro yang tanggal mundurnya hampir 30 hari dari tanggal kolektor menagih. Jadi total bisa 60 hari.
Tapi, kemunduran ini masih termasuk mending sih.
Karena ada sebuah perusahaan yang saat penagihan memberikan giro dengan tanggal mundur setahun ke belakang.
Itu pun masih mending.
Karena ada juga sebuah perusahaan milik konglemat besar, tanggal invoice kami hingga ulang tahun ketiga, belum dibayar juga. Makanya sejak itu kami ogah berurusan dengan kelompok usaha tersebut.
Itu juga masih mending.
Malah ada perusahaan yang mengemplang. Sebagai jawaban tagihan kami, mereka mengirimi surat keterangan sedang mengajukan pailit. Yah mesti berproses untuk dibayar, kalau dapat.
*Tepok jidat*😛
Peternak sedang Menghibur Emak Kerbau
yang baru kematian anaknya.

Berikut ini ada juga cerita lain tentang penggunaan cek mundur.
Pada suatu hari di suatu masa, ada seorang pengendara mobil, mengemudi melewati sebuah peternakan, tanpa sengaja ia menabrak seekor anak kerbau yang sedang menyeberang jalan. Anak kerbau tersebut langsung tewas di tempat. Karena merasa bertanggung jawab, Pengendara itu menemui pemilik anak kerbau dan menjelaskan apa yang terjadi. Dia kemudian bertanya harga hewan itu.
"Oh, karena ia masih anak kerbau, maka harganya sekitar empat juta hari ini." kata Peternak itu.
“Wah, masa sih harganya segitu, Pak?  Harga 4 juta sangat mahal.” Kata si Pengendara.
"Ya,Pak. Saya juga tidak ingin anda membayar sebanyak empat juta.” Kata si Peternak.
“Jadi berapa?”
“Begini Pak, seandainya anda tidak menabrak anak kerbau itu sampai mati, dalam enam tahun yang akan datang kerbau itu akan bernilai delapan juta. Jadi yang saya inginkan adalah uang sebesar 8 juta rupiah."
Tanpa banyak membantah Pengendara itu segera menulis cek dan memberikannya kepada peternak tersebut.
"Ini," katanya, "Cek senilai 8 juta rupiah, yang saya beri tanggal mundur dan bisa dicairkan 6 tahun dari sekarang. Sekarang kita impas" Si Pengemudipun berlalu meninggalkan si Peternak yang hanya bisa bengong memandangi cek di tangannya.
4 komentar

Dalil Pembenaran Bagi Penggemar Bakwan

Setiap makan sahur saya  selalu menyantap quaker oatmeal  dicampur  jus buah atau susu UHT. Beneran, ini bukan iklan. Dan setiap saya buka puasa selalu dengan bakwan disiram sambal kacang buatan sendiri. Plus minumnya air kelapa hijau.
Ngga pernah bosan.
Malah kalau bakwan cuma 4 biji sih, masih kurang.
Maklum saya memang blasteran Barat dan Timur.  Antara Jakarta Barat dan Bekasi Timur.
Kalau anda adalah penggemar bakwan seperti saya, maka anda harusnya bangga. Bakwan itu bukanlah panganan kelas rendahan walau sering dijual di gerobak pinggir jalan. Mau tahu kenapa bakwan itu sesungguhnya adalah panganan terhormat?
Sumber Foto dari Resepmembuat.com

Kesatu.
Kandungan gizi bakwan itu lengkap loh. Ada karbohidrat dari tepung. Ada vitamin dan serat dari irisan wortel dan kol. Ada protein hewani dari telur (saya selalu menambahkan telur ke dalam adonan bakwan) dan dari udang (kalau pakai udang) serta protein nabati dari bumbu kacang. Dan pasti lemak juga ada.(Banyak banget sih kadar lemaknya, tapi kan bisa ngegorengnya pakai minyak bunga matahari, seperti saya. Saya agak menghindari minyak goreng dari sawit).
Kedua.
Jika memungkinkan, buatlah bakwan sendiri untuk kemudian dinikmati bersama keluarga. Banyak manfaat tambahannya, loh. Selain bisa bikin bakwan versi suka-suka,lebih higienis, harga lebih murah daripada beli, juga menguatkan cinta kasih antara keluarga. Karena anak-anak dan suami pasti happy memakan makanan hasil kreasi bunda. Dengan catatan kalau rasa bakwannya enak. Kalau rasanya ngga karu-karuan yah mending beli aja, deh.
Ketiga.
Bakwan itu adalah salah satu pilar penting dalam ketahanan ekonomi negara.
Ngga percaya?
Pedagang bakwan (dan gorengan lain) adalah salah satu pemutar roda uang yang tahan terhadap segala macam krisis. Mau harga nilai tukar 1 dolar 15.000 rupiah, mereka tetap jualan. Mau harga cengek 100.000/kg, mereka tetap jualan. Selain itu, coba dihitung berapa puluh ribu pedagang bakwan seluruh Indonesia? Kalau saya sih ngga tahu jawabannya. BPS aja ngga pernah koq sensus berapa jumlah pedagang bakwan.
Walau pedagang bakwan sudah berjasa memutar uang cukup banyak di seluruh Indonesia, mereka ngga pernah merugikan negara akibat mengemplang kredit bank hingga bank bankrut lalu dananya ditalangi oleh BPS. Pedagang bakwan ngga bakalan bikin bail-out.
Keempat,
Selama Ramadan, bakwan adalah makanan yg paling berkah karena paling dicari oleh orang yang hendak berbuka puasa (setidaknya saya  yang paling mencari bakwan saat mau buka puasa). Kedudukan bakwan 11-12 dengan kolak. Ramadan tahun ini, saya belum sama sekali makan kolak, demi integritas saya terhadap bakwan.
Nah, baru empat dalil yang saya tulis, tapi sudah sepanjang ini.

0 komentar

Manusia Oportunis


Jaman bangkrut dulu (amit-amit jangan terjadi lagi) kami menjual apa saja benda yang bisa dijual untuk segera menutup hutang. Juga untuk membiayai hidup agar tidak menambah hutang lagi, saat orderan baru belum bisa kami kerjakan karena kami kehabisan modal kerja. Yang kami jual bukan cuma rumah dan kendaraan, bahkan termasuk juga handphone.
Saat saya menjual handphone ke konter hape, saya selalu kehilangan posisi tawar. Berapapun harga yang diberikan, saya terima.
"Kalau Ibu mau jual, saya terima harga segitu. Kalau ngga mau, ya saya ngga bisa beli." Adalah kalimat skakmat dari pedagang henpon.
Karena saya butuh harus dapat uang jam itu juga, maka saya ngga punya pilihan lain harus terima. Wong kadang ongkos aja cuma punya untuk satu kali jalan. Kalau hape sampai tak terjual, balik ke rumah ya bakalan jalan kaki.

Ketika ayah saya meninggal, beliau mewarisi 2 rumah dan beberapa bidang tanah yang akhirnya habis juga untuk menghidupi kami. Yang baru saya sadari belakangan ini, orang-orang yang membeli warisan tersebut, yang masih terhitung sepupu dan kerabat Bapak, semuanya menawar dengan harga yang jauh lebih murah dari harga pasaran. Ibu yang sedang terdesak untuk memenuhi kebutuhan hidup, ya akhirnya menjualnya juga.

Nampaknya menjadi hal biasa saat ini, manusia oportunis mencari keuntungan besar dari ketidakberdayaan orang lain.

Makanya ketika saya membaca kisah seorang sahabat Rasulullah saat didatangi seseorang yang sedang kesusahan lalu menawarinya untuk membeli seekor untanya, beliau malah mau membayar dengan harga lebih tinggi dari harga pasaran, membuat saya tertampar. Inilah salah satu sikap muslim yang menjadi rahmatan lil'alamin.

Saya sendiri sering sekali masih berpikir bolak-balik ketika ada orang yang menjual barangnya kepada saya, padahal orang itu butuh bantuan.
"Saya kayaknya ngga perlu barang ini, deh."
Ini alasan yang paling sering.

Atau,

"Dia beli tahun lalu 1000 rupiah, masa sekarang dijual 850 rupiah. Kayaknya kemahalan deh."
Tapi ya saya ngga berani menawar. Ujung-ujungnya membiarkan orang itu tetap dalam kesusahannya.

Nah gitu deh, ternyata saya 11-11 sama orang-orang yang saya keluhkan di atas. Ternyata saya juga berharap mendapat harga lebih murah dari orang yang 'jual BU'. Alias ingin dapat untung dari ketidakberdayaan orang lain. Ah, ternyata bahkan saya juga adalah seorang "oportunis" dan belum bisa menjadi khalifah yang rahmatan lil’alamin.


Astaghfirullah...
0 komentar

Permen Karet di Pesawat


Jika tahu akan bepergian menggunakan alat transportasi pesawat, biasanya anak-anak saya agak ogah-ogahan untuk ngikut. Mereka selalu khawatir akan merasa sakit di telinga ketika pesawat mencapai ketinggian tertentu. Untuk mengantisipasinya saya selalu menyediakan permen untuk mereka hisap ketika telinga mereka terasa sakit.

Berbeda dengan Kang Kabayan. Biasanya perjalanan Bandung - Jakarta ditempuhnya dengan menggunakan mobil melalui jalur tol Cileunyi. Tapi karena Kang Kabayan mendengar sedang ada perbaikan jalan tol yang menyebabkan kemacetan parah, maka ia memutuskan untuk naik pesawat saja.

Awalnya Kang Kabayan menikmati perjalanan dengan pesawat tersebut. Apalagi dari ketinggian, dia bisa menikmati indahnya Bumi Parahiyangan. Namun tiba-tiba Kang Kabayan merasakan telinganya tersumbat dan merasa sangat kesakitan. Ia pun memanggil Pramugari.
"Teh, Teteh, gimana atuh, telinga saya sakit banget ini?"
"Bapak sedang pilek?"
"Hah?" Kang Kabayan kurang bisa mendengar perkataan Teteh Pramugari.
Pramugaripun memaklumi. Lalu diulurkan dua buah permen karet kepada Kang Kabayan.
"Ini untuk Bapak. Mohon maaf atas ketidaknyamanan ini."
Kang Kabayan pun menerima permen karet itu.

Ketika pesawat sudah tiba di Bandara Halim, kembali Kang Kabayan tampak kalang kabut. Hingga penumpang terakhir ia belum turun juga dari pesawat. Pramugari pun kembali mendekati Kang Kabayan.
"Ada yang bisa saya bantu, Pak?"
"Aduh, Teteh. Punten. Kumaha atuh caranya ngeluarkeun permen karet dari telinga saya? Mani lengket pisan ieyeu."
 
;