Jaman bangkrut dulu (amit-amit jangan terjadi lagi) kami menjual apa saja benda yang bisa dijual untuk segera menutup hutang. Juga untuk membiayai hidup agar tidak menambah hutang lagi, saat orderan baru belum bisa kami kerjakan karena kami kehabisan modal kerja. Yang kami jual bukan cuma rumah dan kendaraan, bahkan termasuk juga handphone.
Saat
saya menjual handphone ke konter hape, saya selalu kehilangan posisi tawar.
Berapapun harga yang diberikan, saya terima.
"Kalau Ibu
mau jual, saya terima harga segitu. Kalau ngga mau, ya saya ngga bisa beli." Adalah kalimat skakmat
dari pedagang henpon.
Karena
saya butuh harus dapat uang jam itu juga, maka saya ngga punya pilihan lain
harus terima. Wong kadang ongkos aja cuma punya untuk satu kali jalan. Kalau
hape sampai tak terjual, balik ke rumah ya bakalan jalan kaki.
Ketika
ayah saya meninggal, beliau mewarisi 2 rumah dan beberapa bidang tanah yang
akhirnya habis juga untuk menghidupi kami. Yang
baru saya sadari belakangan ini, orang-orang yang membeli warisan tersebut,
yang masih terhitung sepupu dan kerabat Bapak, semuanya menawar dengan harga
yang jauh lebih murah dari harga pasaran. Ibu yang sedang terdesak untuk
memenuhi kebutuhan hidup, ya akhirnya menjualnya juga.
Nampaknya
menjadi hal biasa saat ini, manusia oportunis mencari keuntungan besar dari
ketidakberdayaan orang lain.
Makanya
ketika saya membaca kisah seorang sahabat Rasulullah saat didatangi seseorang
yang sedang kesusahan lalu menawarinya untuk membeli seekor untanya, beliau
malah mau membayar dengan harga lebih tinggi dari harga pasaran, membuat saya
tertampar. Inilah salah satu sikap muslim yang menjadi rahmatan lil'alamin.
Saya
sendiri sering sekali masih berpikir bolak-balik ketika ada orang yang menjual
barangnya kepada saya, padahal orang itu butuh bantuan.
"Saya
kayaknya ngga perlu barang ini, deh."
Ini
alasan yang paling sering.
Atau,
"Dia beli
tahun lalu 1000 rupiah, masa sekarang dijual 850 rupiah. Kayaknya kemahalan
deh."
Tapi
ya saya ngga berani menawar. Ujung-ujungnya membiarkan orang itu tetap dalam
kesusahannya.
Nah
gitu deh, ternyata saya 11-11 sama orang-orang yang saya keluhkan di atas.
Ternyata saya juga berharap mendapat harga lebih murah dari orang yang 'jual
BU'. Alias ingin dapat untung dari ketidakberdayaan orang lain. Ah, ternyata
bahkan saya juga adalah seorang "oportunis" dan belum bisa menjadi
khalifah yang rahmatan lil’alamin.
Astaghfirullah...

0 komentar:
Post a Comment