Sebagai anak yatim
dengan sederet adik-adik dalam kondisi kekurangan secara ekonomi tak jarang
kami menjadikan mie instan sebagai lauk makan bersama nasi.
Aduh, jangan bahas
makan karbohidrat koq lauknya karbohidrat juga. Bisa makan sehari 2x itu sudah
kemewahan. Bisa makan dengan lauk mie instan dibagi berdua adalah kenikmatan.
Tak jarang sebagai kakak saya mengalah pada adik-adik, saya hanya menikmati
kuah mie instan, demi ada sedikit rasa pada nasi putih. Dan sebagai pelajar yang pernah berkali-kali
terlintang pukang digebah dari sekolah karena telat bayar SPP, memiliki 'kebebasan
finansial' adalah impian saya.
Kami pernah sedemikian ngga punya
duitnya, hingga seluruh benda yg terlihat nyaris ngga bernilai ekonomis. Karena
bahkan sampai ke piring makanpun sudah digadai atau dijual. Perut lapar hanya
bisa ditahan hingga besok sambil berharap ada rezeki datang. Ketika mendengar
suara tingting mangkok diketuk oleh tukang bakso, laksana suara ejekan atas perihnya
perut kami.
Sehingga ngga heran ketika
kami sudah bisa berikhtiar, saya dan adik-adik bekerja keras supaya terlepas
dari kemiskinan. Di awal dewasa muda, saya rela dilempar ke lokasi-lokasi area “babat alas” oleh perusahaan tempat
saya bekerja. Jauh dari keluarga, pun dilakoni.
Alhamdulillah, segala kondisi tersebut telah terlewati. Dan Allah mentakdirkan
kami hidup 'berkecukupan' sekarang.
Kondisi sulit dulu
membuat saya bisa menarik kesimpulan, punya duit itu jauh lebih enak dibanding
ngga punya duit.
Sungguh!
Saya selalu berdoa agar dijauhkan dari ‘musibah’ itu lagi. Karena setelah
pernah menikmati enaknya berkecukupan, belum tentu kami bisa sekuat dahulu jika diuji
kemiskinan lagi.
Pernah terlintang
pukang karena serba kekurangan, membuat saya paham banget kenapa buaanyaak
orang tua yang mendoakan agar anaknya kelak menjadi kaya.
"Dadiyo wong sugih yo Le" kata Emak
sambil mengusap kepala Tole.
Jadilah kaya, Nak.
Harapan Emak yang diungkapkan berpuluh , beratus bahkan berjuta
kali, lama-lama terendap dalam benak si Tole. Tolepun terdogma untuk menjadi
kaya.
Emang masalah gitu
kalau orang pengen kaya?
Nah, ini yang membuat saya tercenung sedetik. Para ahli
psikologi mengatakan keinginan yang menjadi obsesi, itu yang bahaya.
Beberapa teman saya berakhir di penjara atau depresi karena terobsesi menjadi
kaya.
Uang yang dimiliki sebetulnya belum mencukupi untuk bebas beli ini-itu barang bermerek mahal,
tapi ia sudah tak sabar ingin terlihat kaya.
Kaya itu ukurannya
harta yang banyak. Untuk memenuhi harapan Emak menjadi orang kaya, maka Tole
kemudian berusaha mengumpulkan harta sebanyak-banyaknya. Dan untuk mengumpulkan
harta yang banyak itu pilihannya bisa melalui cara legal atau cara illegal.
Sayangnya, cara mengumpulkan kekayaan secara legal itu jalannya panjang dan
ngga mudah. Banyak banget pengorbanan dan ujiannya. Banyak orang yang ngga
tahan dan tepar di tengah jalan.
Tapi dogma adalah dogma. Tersimpan kuat di dalam benak. Karena
jalan legal yang sudah dicobanya demikian berat, maka ngga sedikit orang yang
ambil jalan gampang: korupsi, menipu atau ngepet.
Jadi,
bercita-cita menjadi 'sugih' itu ngga boleh?
Ya boleh banget. Namanya juga cita-cita. Yang ngga masuk akalpun boleh koq
dicita-citakan.
Tapi ingat, untuk mewujudkan cita-cita ada harga yang harus dibayar.
Yang karyawan harus
bisa bekerja lebih keras dari teman-temannya agar insentif dan bonus yang
diterima lebih besar. Yang pengusaha harus super rajin mencari dan memanfaatkan
peluang agar pemasukan perusahaan meningkat terus. Yang jadi wakil rakyat
harus, ah sudahlah.
Obsesi menjadi kaya juga sudah merasuki para anak muda sekarang. Dan mereka tahu, salah satu jalannya adalah
melalui internet dan media social. Mereka melakukan berbagai cara untuk
mengumpulkan duit dari Adsense, dsb, dengan cara yang aneh-aneh. Kreatifitas
mereka seringkali kebablasan. Ngga sedikit yg membuat laman berisi berita hoax
dan fitnah. Untuk sekedar mengundang jutaan kilik visitor, demi terdongkraknya
nilai adsense. Termasuk dengan youtuber,
vloger alay, yang 'menjual' tontonan
gaya hidup sok cool kebablasan.
Emak-emak, yang saat ini merasa hidup susah karena kemiskinan,
coba deh dipikir ulang apa sesungguhnya harapan yang ditanamkan pada anak-anak?
Apa yang sesungguhnya dibutuhkan agar anak kelak bahagia, apakah uang yang
banyak atau rasa kecukupan?
Uang yang banyak, relatip. Satu juta bagi A mungkin sudah
banyak, sementara si B sanggup menghabiskan sejuta dalam satu jam. Angka
kecukupan juga relatip.
Tapi RASA berkecukupan itu absolut. Adanya
di hati.
Emak, berdoa dan berharaplah agar kita dan anak-anak kita memiliki
rasa berkecukupan, bahagia dan membahagiakan sesama.
Dorong anak-anak untuk
terus berikhtiar dengan cara yang halal dan diridhoi Allah. Biarlah Allah yang
akan memilihkan jalannya jika ditakdirkan menjadi kaya. Kalaupun anak tidak
menjadi kaya, ajari ia untuk selalu bersyukur. Karena sesungguhnya tak jarang
kekayaan malah mendatangkan fitnah yang luar biasa.
Saya tahu, jauh di
lubuk hati terdalam yang diinginkan emak adalah agar anak-anaknya bahagia dunia
akhirat. Itu saja.
- Follow Us on Twitter!
- "Join Us on Facebook!
- RSS
Contact