Kisah
Deswita:
Ya,
aku mencintainya. Konyolnya, sejak menit pertama aku menerima cintanya, aku
sudah tahu bahwa aku tak akan bisa memilikinya utuh. Aku tahu suatu saat
ia akan pergi dan melupakanku. Maka aku menikmati saat-saat ia bersamaku.
Aku
mencintai lelaki itu. Jika kau bertanya kenapa aku jatuh cinta padanya, yah,
aku tak tahu bagaimana harus menjawabannya. Mungkin aku bodoh karena membiarkan
diriku terlena pada perasaan yang memabukkan. Perasaan bahagia karena
diperhatikan, disayangi dan dicintai oleh lawan jenis yang juga kucintai.
Perasaan yang di usiaku 28 tahun ini, nyaris tak kukenali.
Saat
awal mengenalnya, perasaanku padanya sama seperti perasaanku pada ratusan teman
lelaki lain. Dengan semakin intens kebersamaan kami, rasa menyayangipun mulai
tumbuh perlahan. Lalu cinta mulai berakar dan menyemak di hatiku
Ia
tampan, tentu saja. Karena sebagai wanita, akupun menyukai wajah pria
yang menarik untuk dilihat. Apakah ia kaya, sungguh aku tak tahu.
Lebih tepatnya, aku tak peduli. Aku jujur jika aku mengatakan bahwa aku
hanya menginginkan cinta dan kasih sayangnya. Aku hanya menginginkan dirinya.
Maka aku memasabodohkan uangnya. Toh, aku punya penghasilan yang lebih
dari cukup untuk membiayai diriku. Bahkan tak jarang aku yang membayari
kencan-kencan kami. Agar gajinya untuk menafkahi keluarganya tidak berkurang
dan menyebabkan keributan diantara kekasihku dan istrinya.
Memang
disayangkan, kekasihku telah beristri.
Aku
Pelakor, Perampas lelaki orang?
Sembarangan!
Aku
tidak suka dituduh begitu. Aku tidak merampas apapun dari tangan siapapun.
Cinta itu datang sendiri. Lelaki itulah yang mendatangiku. Ia lebih dahulu
menyatakan cinta padaku. Walau
aku hanya mendapatkan sebagian, entah seberapa besar potongannya, hati lelaki
itu.
Sebelum
kisah kasih kami berjalan sekian lama, aku pernah menolak cintanya. Bukan cuma sekali, tetapi berkali-kali. Tetapi rasa pedih yang menyengat hati setiap
kali aku mengatakan penolakan-penolakan itu, membuat aku menyerah.
Akhirnya kuterima cinta lelaki beristri itu.
Dan
kemudian hari-hariku memang lebih indah. Karena ada seseorang yang padanya aku
bisa bermanja. Darinya aku mendapat limpahan perhatian dan kasih sayang. Dan
padanya aku berbagi cerita hidup. Bersamanya, aku berbagi tawa, berbagi berahi,
juga berbagi keresahan.
Adalah bodoh kalau kamu pikir aku tak resah dengan menjadi orang ketiga. Tentu saja
aku pun ingin menjadi perempuan utama dalam hidupnya. Aku juga berharap
padakulah ia pulang setiap malam melepas lelahnya. Aku juga ingin
namakulah yang disebut sebagai Nyonya Kekasih. Aku juga mau kami
bisa berjalan bersisian bergandeng tangan tanpa perlu sembunyi-sembunyi.
Banyak
hal yang tidak mungkin kudapati dari hubungan dengan lelaki yang kucintai ini.
Tapi aku juga tak ingin menuntutnya untuk memenuhi semua keinginanku. Karena
seperti yang kukatakan di awal, aku menyadari posisiku sebagai Perempuan Kedua.
Bersambung.....
0 komentar:
Post a Comment