Asal
kata "Kaki Lima" itu adalah berdasarkan peraturan pada jaman
Penjajahan Belanda mewajibkan setiap jalan besar harus menyediakan lahan
selebar 5 kaki untuk trotoar (1 kaki = 30.48 cm. Jadi 5 kaki kurleb sekitar 1.5
meter).
Trotoar zaman dulu itu dikhususkan
sebagai sarana berlalu lintas bagi rakyat jelata yang ngga punya kereta kuda.
Makanya tempatnya di tepi. Tempat dimana manusia-manusia dipinggirkan.
Sedangkan badan jalan digunakan untuk dilalui kereta kuda. Dengan demikian,
untuk bisa merasakan lewat di badan jalan, ya mesti punya kereta kuda. Dan
biasanya yang punya kereta kuda adalah para meneer
yang kaya atau para priyayi.
Kemudian
seiring dengan kenaikan jumlah penduduk dan pertumbuhan urbanisasi yg
membutuhkan peningkatan lapangan kerja, maka para pedagang melihat peluang
berjualan di area tempat orang berlalu lalang. Yaitu trotoar. Mereka disebut Pedagang Kaki Lima, untuk menandai
bahwa tempat mereka berdagang, ya, di area selebar 5 kaki itu.
Jadi,
kalau sekarang ada yang merelokasi para PKL ke pasar, jelas salah besar lah.
Tempat mereka harus di area trotoar, agar sesuai dengan namanya. Kalau PKL
dipindah ke pasar, ya harus diganti dong namanya menjadi Pedagang Pasar.
Lalu
mengenai Pejalan Kaki. Sesuai
istilahnya, Pejalan Kaki adalah orang yang berjalan dengan menggunakan kaki.
Kalau jalan dengan naik motor, itu namanya Ngojek.
Jadi,
kalau namanya PeJALAN Kaki, seharusnyalah tempatnya melangkahkan kaki itu di
JALAN. Mosok Pejalan Kaki berada di trotoar? Ya jadi Petrotoar. Ngga ada itu.
Wagu.
Sekarang
kan udah zaman milenial. Di zaman now, kereta kuda yang dulu melintas di badan
jalan, udah diganti mobil. Bagaimana
dengan trotoar?
Ya
tetap lah difungsikan buat rakyat jelata yang selain naik mobil. Kalau jaman
dulu naik sepeda onthel, karena sudah dimesinkan, maka sekarang jadi sepeda
motor.
Untuk
pejalan kaki dimana?
Hadeugh, masa sih masih mau berjalan
kaki? Ngga capek? Lagian sekarang segalanya udah pakai mesin, mosok Situ masih
pakai cara tradisional? Udah ngga ada tempatnya.
Plis, jangan jadi manusia jadul, deh.


0 komentar:
Post a Comment