Thursday, April 6, 2017

Terjebak Dalam Cinta Imajiner

Plato pernah berkata " Bahwa kondisi ideal itu hanya ada di angan-angan."
Dengan teori tersebut, lalu orang-orang mengkategorikan cinta yang disimpan hanya di angan-angan sebagai Cinta Imajiner.

Pelaku cinta imajiner membayangkan bahwa cinta yang dimiliki itu adalah cinta yang paling ideal. Paling sempurna. Dan tak jarang pelaku terjebak dalam angan-angannya bertahun-tahun. Karena dia menghadapi kenyataan di luar angannya tidak ada cinta yang sesempurna itu.



Pagi ini, di aplikasi percakapan Whatsapp salah satu grup alumni saya, sedang dibahas tentang cinta platonis seorang teman yang sudah ditanggungnya selama nyaris 30 tahun. Karena ia tidak mau berpaling dari cinta tersebut, ia memutuskan membujang sampai hari ini.
Hal ini menjadi ‘masalah’ (dengan tanda petik, loh ya.) Karena ternyata obyeknya adalah SAYA. Huuuuaaahhh. Kebayang ngga sih, tiap hari, ada seseorang yang tidak kamu sadari mengkhayalkan tentang dirimu. Dengan entah apa isi khayalannya. Padahal selama nyaris 30 tahun tersebut, saya dan teman tersebut hanya bertemu satu kali dalam sebuah reuni kecil bersama beberapa orang teman sekelas.

Well, saya tahu banget bahwa menyimpan perasaan seperti itu selama bertahun-tahun adalah sebuah penderitaan.  

Karena seorang teman lain -sebut saja Bunga (hehe, kayak nama korban di wartaberita) juga pernah curhat tentang imajinasi cintanya. Dan kemudian dia merasa sudah saatnya keluar dari kondisi tersebut, 
“Aku selama bertahun-tahun sering merindukannya. Kalau sudah begitu, aku cuma bisa bermimpi bertemu dengannya. Karena tidak berani bertemu beneran. Tapi dalam mimpiku malah aku seperti berada di lorong-lorong gelap tak berujung. Dan selalu berakhir kesedihan karena seperti putus asa saat mencarinya”.
Lalu hari itu Bunga memaksa untuk bertemu dengan pencuri cuilan hatinya tersebut.

“Dua tahun lalu aku memutuskan bahwa cukup sampai disitu. Saya memintanya untuk bertemu. Agak sulit karena ia seperti menghindariTapi akhirnya ia setuju." Kata Bunga, mengenang.

"Kami membicarakan segala hal. Tentang anak, keluarga, pekerjaan, tanpa membicarakan masalah perasaan. Tapi pada hari itu, datang sebuah kesadaran baru bagiku. Bahwa ia kini tidak sama lagi dengan seseorang yang ada di anganku. Meskipun begitu, tetap saja butuh waktu berbulan-bulan setelahnya untuk mengembalikan kewarasanku”.

Apakah setelah itu kau tidak lagi mencintainya?

“Tidak seperti itu sih persisnya. Hari pertemuan itu ibaratnya dia mengembalikan cuilan hatiku yang hilang. Tapi ia tetap pemilik cuilan hati itu.”

Jadi?

“Ya sudah. Dengan demikian pertemanan kami menjadi proporsional sebagai mestinya berteman.”

Dan berapa tahun yang dibutuhkan untuk menjadi “teman proporsional” itu?
Nyaris dua windu!

Begitulah penderitaan yang harus ditanggung para Pecinta Imajinee

Nah, mungkinkah saya harus menemui teman alumni ini?
Apakah saling bertemu adalah salah satu jalan keluar, untuk ‘menampar pipi’nya, sehingga ia sadar waktu terus berlalu dan kami ternyata tidak terus menerus berada dalam cangkang waktu yang sama. Dan dalam kurun waktu tersebut telah banyak terjadi perubahan-perubahan pada saya selaku obyek imajinasinya?

Tetapi bagaimana jika setelah bertemu, justru ia makin dalam terperangkap dalam khayalannya. Karena mungkin sekarang saya makin matang, makin keren, makin educated?
*grin*

Yah, Mboohhhh!!!
---
Mencintai adalah kata kerja.
Dicintai adalah kata sifat
Tapi Cinta bukanlah kata benda, Cinta adalah kata hati.

2 komentar:

Suryadiarmanrozaq said...

good post mbak

Ety Abdoel said...

Ada ya mba? Haduuh, kasian juga kalau gak bisa move on.

Post a Comment

 
;