Wednesday, May 27, 2015

Always Answer Your Phone Ring

Dulu, ada saat-saat saya begitu takut mendengar bunyi telepon berdering.  Yaitu ketika bisnis saya sedang hancur-hancurnya dan daftar tagihan yang belum bisa saya bayar begitu panjang.
Jujur, saya takut dimarahi.

Tapi kemudian supplier-supplier tersebut malah berdatangan ke rumah, dan daftar malu saya bertambah.
Yang tadinya hanya supplier yang tahu saya punya kredit macet, sekarang dari mulai satpam, Pak RT dan tetangga-tetangga ikutan tahu.

Biarpun demikian, saya tetap ngga bisa ngumpet atau lari terus-terusan. Saya tidak ingin masalah perdata malah menjadi pidana karena dianggap menipu. Jadi mau ngga mau harus dihadapi.

Setelah dihadapi, eaalahhh...walaupun ada juga yang marah-marah, tapi lebih banyak yang mau diajak bernegosiasi.
Dan masalah tagihan bisa selesai dengan cara yang lebih nyaman.

Namun ada akibat lari-lari, mereka jadi kehilangan kepercayaan. Kapok mau mensupply. Seandainya saya saat itu bisa 'gagah berani' menghadapi, mungkin mereka masih ada pertimbangan-pertimbangan. Sebagai pebisnis mereka tentu sudah sering menghadapi kredit macet.

Dari situ saya belajar.

Sekarang tidak takut lagi dengan tagihan, jika belum ada dana untuk membayar, saya akan katakan terus terang. Dan masalah-masalah pembayaran saya handle langsung. Jika ada keterlambatan saya kasihan dengan anak buah jika mereka yang dimarahi supplier.

Namun, Alhamdulillah, saya belum pernah lagi menghadapi debt collector.

Sekarang siapapun mau menelpon saya, pagi-siang-sore-malam, sepanjang ponsel saya tidak sedang off, atau kebetulan saya jauh dari ponsel, Insya Allah akan selalu saya jawab.


Karena tidak jarang saya mendapat kesempatan baru justru dari orang-orang/perusahaan-perusahaan yang sebelumnya tidak saya kenal. Dan saya tidak ingin kehilangan kesempatan itu.

0 komentar:

Post a Comment

 
;