Menikmati
sore di akhir pekan, saya leha-leha membaca artikel-artikel di K. Dan seperti
biasa artikel yang paling dulu saya baca biasanya artikel Headline.
Selain
isi artikel, saya membaca juga komentar-komentar yang masuk karena kadang kala
lucu, inspiratif atau memberi persfektif yang berbeda. Maklum 'isi kepalanya' tiap
orang kan
berbeda.
Nah,
di artikel yang saya baca, ada salah satu komentar bernada hujatan yang membuat
saya terkejut. Lalu ternyata hujatan-hujatan tersebut ada disetiap artikel yang
ditulis oleh penulis itu. Intinya tentang ' Si Penulis tidak mendapat izin suami'. (mungkin suaminya terlalu baper sampai ngejam setiap tulisannya.
Saya
tidak akan menulis tentang 'komentar negatip' tersebut, tapi lebih kepada izin
pasangan pada setiap kegiatan yang dilakukan . Karena saya seorang istri, lebih tepatnya izin
suami.
Saya
memahami, hobi yang ditekuni terlalu getol juga menyebabkan pengabaian terhadap
hal lain. Dalam diri saya adalah hobi membaca. Saat saya sudah membuka sampul
sebuah novel, majalah atau buku apapun, kebiasaan saya adalah selalu berusaha
menuntaskan bacaan dalam 'sekali duduk'. Yang berarti bisa berjam-jam. Jika
dilakukan saat senggang tidak masalah. Tapi kadang-kadang saya 'iseng' memulai
kegiatan membaca diantara kegiatan lain. Akibatnya kemudian, beberapa pekerjaan
terbengkalai atau suami dan anak-anak terabaikan karena saya jadi 'terlena'
untuk terus membaca. Susah berhenti. Lebih
tepatnya sih ngga mau berhenti karena penasaran dengan isi bacaan tersebut.
Lalu
mulailah suami komplain. Kadangkala pakai bumbu ngomel.
Karena
yang paling sering merasa diabaikan atau merasa akibat dari 'saya tidak tahu
waktu' adalah suami.
Sering
merasa aneh sih, untuk membaca sebuah novel saja, saya harus izin suami.
"Besok
Minggu saya mau baca novel ini sampai tuntas ya, soalnya kalau baca
sepotong-sepotong feel nya ngga nyeresep."
Jawaban
suami memang lebih banyak “Hhmmm..” yang berarti setuju. Tapi tidak jarang juga
ia meminta saya menunda. Karena jika sampul novel terlah dibuka berarti dari pagi,
mungkin sampai siang, -bahkan menjelang malam jika novel setebal Harry Potter
jilid 7- saya minta jangan diganggu gugat dari keasikan membaca.
Jika sudah begitu, berarti beberapa urusan harus dihandle suami sendiri.
Dan suami harus legawa jika mendapati istrinya seperti hilang meskipun ada.
Begitupun
dalam kegiatan lain, seperti menulis cerita, berbisnis, ikut seminar atau
workshop. Bahkan ke pasar pun saya butuh izin suami (kalau ini sih, kali aja
dianter, lumayan irit ongkos ojek)
Tanpa
izin suami sebenarnya semua bisa saya kerjakan. Tapi yah gitu, Suami pasti akan
merasa terabaikan. Ujung-ujungnya kesal bahkan bisa marah.
Rasa kesal dan marah pada pasangan hidup sering terjadi jika komunikasi suami-istri mampet. Tak jarang komunikasi yang tersumbat total menjadikan dunia maya sebagai jalan penyalurannya. Namun akibatnya sekian ribu orang teman dunia maya tahu sedang pecah perang dunia ketiga di rumah tangga kita.
0 komentar:
Post a Comment