Meskipun bisnis jual beli online yang telah berjalan selama beberapa tahun tampak lancar dan mulus, semua bisa berubah gara-gara keluhan pelanggan yang beredar di media sosial. Misalnya, terjadi kesalahan pengiriman order kepada seorang pelanggan. Ia mengadukan komplain melalui telepon, dan Anda berjanji akan memperbaiki pesanan dalam waktu 2 minggu. Tapi, sehari kemudian pelanggan ini mengeluhkan buruknya pelayanan toko online Anda di akun Twitter-nya secara panjang lebar sehingga mengundang reaksi banyak orang. Bagaimana Anda harus menanggapinya?
Untuk menanggapi keluhan di media sosial, sebaiknya Anda tidak
menjadi defensif membela diri atau malah membalas dengan twitwar.
Ketika feedback atau komplain terjadi, kita harus selalu
introspeksi diri. Malah, kita harus selalu menganggap bahwa pelanggan yang
komplain itu adalah ‘berkah’ yang diberikan Tuhan, supaya usaha kita jadi lebih
baik.
Anda perlu waspada, sebab ada beberapa jenis pelanggan yang, di mana pun dan kapan pun, memang suka komplain. Tapi, ada juga tipe pelanggan yang dapat menjadi pemberi sinyal tentang pelayanan kita yang masih harus ditingkatkan. Ini sebetulnya bagus. Jika dia memang cerewet di media sosial, cari cara untuk memenangkan kembali hatinya, supaya nanti dia bicara yang bagus-bagus di sana.
Beberapa orang yang komplain sebetulnya menginginkan reward atau
hadiah, bukan sekadar dimintai maaf atau dilayani dengan manis. Misalnya,
ketika penerbangan delay, penumpang ingin diberikan kompensasi
hotel atau ganti uang. Ketika mereka sudah mendapatkannya, mereka akan
cenderung diam. Kalau mereka memang cerewet di media sosial, mungkin mereka
justru akan memuji-muji layanan maskapai penerbangannya.
Tetapi,
jangan abaikan komplain. Kalau pelanggan masih mau repot-repot mengajukan
komplain, artinya dia peduli pada bisnis Anda. Karena itu, hadapi komplain itu
dengan:
• T:
Tenangkan diri. Sadari bahwa pelanggan kecewa pada produk Anda, bukan pada Anda.
• R:
Redakan kemarahan pelanggan dengan meminta maaf atas
ketidaknyamanan mereka.
• A:
Ajukan pertanyaan dan berempati, agar Anda mengerti
benar masalahnya, dan mengerti posisi pelanggan.
• M:
Mengajukan alternatif solusi, dan biarkan pelanggan yang
memilih.
• P:
Pastikan mereka memilih alternatif solusi yang Anda ajukan.
Lalu, konfirmasi ulang tentang pilihannya. Pelanggan yang emosi sering lupa
pada solusi yang dipilihnya sendiri.
• I:
Ingat salam penutup. Ucapkan terima kasih, hargai usahanya untuk datang ke
perusahaan, dan bukan menyebarkan masalahnya kepada orang lain, atau menulis di
surat kabar.
• L:
Lakukan evaluasi agar tidak terjadi lagi. Sering kali komplain hanya
diselesaikan di meja customer service, tidak sampai ke manajemen.
0 komentar:
Post a Comment