3. Memilih
Produk dan Lokasi Usaha
Saat memulai usaha sebagian
orang mempertimbangkan produk yang akan dijual haruslah sebuah
produk yang paling menguntungkan dan risikonya ruginya paling kecil. Ketika
pisang goreng kremes booming maka penjual pisang goreng
kremes bermunculan bak jamur dimusim hujan, dengan berbagai
merek. Tak sedikit penjual dagangan lain yang meninggalkan produknya
yang sudah dirintis bertahun-tahun, dengan harapan mendapat keuntungan lebih
besar dengan menjual pisang goreng kremes ini. Apa yang terjadi kemudian ketika
pasokan pisang menyusut akibat supply dari Lampung dan Pontianak terhambat
sementara permintaan dari pedagang pisang kremes melonjak? Harga pisang menjadi
mahal. Akhirnya satu demi satu pedagang dadakan tersebut berguguran.
Jika
anda termasuk orang yang masih mencari usaha yang cocok dengan anda, atau anda
masih meragukan apakah usaha yang sedang anda jalani sekarang bisa
menghantarkan sukses untuk anda dimasa depan, ketahuilah ada beberapa fakta
yang layak anda renungi ulang. yaitu:
1. Pada
umumnya semua jenis barang memiliki peluang mencetak keuntungan dan
kerugian. Pada awal tahun 2000 berbondong-bondong orang mendirikan
bisnis IT karena dianggap inilah bisnis masa depan (Bahkan
pemerintahpun, melalui Kementrian UKM sengaja menggelontorkan dana
untuk mengembangkan jenis bisnis ini ), tapi nyatanya berguguran
juga perusahaan –perusahaan IT yang tidak sanggup
bersaing. Sebaliknya bisnis yang tampak sepele seperti warung pecel
lele di emperan jalan bisa bertahan hingga bertahun-tahun. Jadi permasalahan
adalah bukan jenis produk melainkan kemampuan produk untuk diserap pasar
2. Sebagian
besar usaha mengalami kebangkrutan bukan karena produk yang dipilih melainkan
karena ketidakmampuan mengelola Manajemen dan SDM. Banyak usaha bisa tumbuh
dengan cepat namun karena manajemennya lemah maka usaha tersebut
akan bertumbangan.
3. Ada orang
yang mengira bisnis yang dimulai dengan hobi akan melaju
dengan lebih pesat. Faktanya tidak selalu begitu. Membisniskan hobi
memang menyenangkan namun anda perlu juga mencermati pola alur bisnis yang bisa
menguntungkan. Penggemar burung yang menjadi pedagang burung akan kesulitan
menjual burung yang disukainya, meskipun ada pembeli yang bersedia membeli
dengan harga tinggi.
4. Barang
yang murah belum tentu akan laku keras. Ini adalah soal NILAI yang akan
diterima oleh customer anda. Banyak barang yang mahal lebih laku
dibanding dengan pesaingnya yang berharga murah. Ponsel Samsung lebih laku
dibanding dengan ponsel “merek china” dengan fitur yang nyaris serupa.
Karena customer merasa lebih yakin dengan merek , layanan purna jual
atau harga yang diperoleh jika ia bermaksud menjual kembali produk
tersebut.
5. Banyak
orang ingin memulai usaha yang belum dilakukan orang lain. Padahal memulai
‘jenis usaha yang baru sama sekali’ dibutuhkan nilai investasi yang lebih
besar. Karena anda harus mengedukasi pelanggan anda bahwa produk yang anda jual
memberikan manfaat bagi mereka.
Lalu,
bisnis apa yang pas buat anda? Berdasarkan pengalaman dan
pengamatan saya terhadap beberapa bisnis saya sendiri maupun teman-teman, anda
bisa mempertimbangkan hal sebagai berikut:
1. Produk
apa yang cocok dengan saya?
Produk
yang pas buat anda perdagangkan adalah produk yang membuat anda
senang ketika membayangkannya atau anda merasa “Aha! Ini
dia!” saat melihat produk tersebut. Disisi lain jika anda
memiliki perasaan : “Saya suka sih dengan produk ini,
taaapiii…” lupakan saja memilih produk tersebut. Kata “Taaapiii…,”
tadi akan menghancurkan semangat anda.
2. Siapa
yang akan membeli produk anda?
Sejak
awal sebaiknya anda tentukan segmen pasar anda. Ibu-ibu rumah
tangga, Bapak-bapak, Anak-anak ,Perempuan karier , atau Remaja.
Dengan tingkat penghasilan low-end, middle-end atau high-end.
Segmen
pasar yang jelas akan memudahkan anda dalam pemilihan
jenis produk, dan kualitas produk.
3. Dimana
saya akan berjualan?
Segmentasi
selain menentukan siapa pembeli juga akan menjelaskan dimana lokasi usaha yang
paling cocok untuk produk anda. Katakanlah anda ingin berbisnis donat. Maka
donat yang anda jual buat kelas menengah akan berbeda letak counternya
dengan donat yang anda tujukan buat kelas bawah. Donat seharga
10.000 tidak akan laku anda jual di emperan pasar tradisional,
sekalipun anda berbusa-busa menjelaskan kepada calon pembeli anda bahkan donat
anda terenak sejagat raya dan memakai bahan baku terbaik
sealam semesta.
Begitupun
sebaliknya donat seharga 500 rupiah tidak akan laku anda
jual di dalam mall yang super dingin. Saat saya jalan-jalan di mall
lalu ditawari donat enak seharga 500 rupiah saya langsung curiga :
jangan-jangan donat expired nih.
4. Pesaing
saya banyak, apakah produk saya akan laku?
Wallahu’alam.
Untuk itu anda perlu mempelajari pesaing anda. Berapa ia menetapkan harga jual, siapa pembeli mereka, bagaimana cara mereka mempromosikan bisnisnya, dan lain sebagainya. Pokoknya ulik sedetail mungkin pesaing anda. Buka mata dan buka telinga anda.
Untuk itu anda perlu mempelajari pesaing anda. Berapa ia menetapkan harga jual, siapa pembeli mereka, bagaimana cara mereka mempromosikan bisnisnya, dan lain sebagainya. Pokoknya ulik sedetail mungkin pesaing anda. Buka mata dan buka telinga anda.
Setelah
data anda dapatkan. Anda tidak perlu meng copy-paste 100% trik
kompetitor anda. Pelajari kelemahannya, lalu anda lakukan dengan
cara yang lebih baik. Di modifikasikan dengan segala sumber daya yang
ada pada anda.
Bersambung....
0 komentar:
Post a Comment