“Tapi, saya tidak
berbakat bisnis” atau “ Saya tidak punya keturunan pedagang. Buyut,Kakek,Bapak
saya petani” Demikian biasa yang dikatakan seseorang yang masih bimbang
berbisnis. Ingin memulai tapi ragu apakah berbisnis adalah pilihan tepat
baginya.
Apakah seseorang
sukses berbisnis karena ia berbakat?
Rhenald Kasali
berpendapat ”Untuk jadi entrepreneur sejati, yang berperan bukan hanya bakat.
Seseorang terbentuk bukan hanya karena genetika, melainkan karena orang itu
berinteraksi dengan lingkungannya. Manusia itu menjadi sesuatu bukan by nature, melainkan by nurture,”
Bakat hanyalah
sebuah opportunity. Namun opportunity yang tidak dikembangkan
,maka tidak akan menjadi sesuatu.
Seperti contoh
adalah Elang Gumilang yang saat ini terkenal sebagai pengusaha properti muda.
Ayah Elang yang seorang kontraktor bangunan tidak membuat Elang otomatis
langsung sukses dalam bidang properti. Ia tetap harus berjuang dan berusaha
keras dalam “sekolah kehidupannya’ dengan mulai sebagai perjual donat keliling,
berjualan sepatu, memasok lampu ke kampusnya IPB, mendirikan kursus bahasa Inggris
sebelum akhirnya memutuskan berkecimpung di usaha properti. Elang belajar
bagaimana bangkit saat jatuh dan berjuang keras untuk bertahan dalam bisnisnya.
“Butuh proses dan kesabaran untuk mendapatkan semua ini, tidak ada sesuatu yang bisa dicapai secara instan,” tegasnya.
“Butuh proses dan kesabaran untuk mendapatkan semua ini, tidak ada sesuatu yang bisa dicapai secara instan,” tegasnya.
Begitupun,
seorang anak petani ,jika terus tinggal di kampungnya maka ia akan menjadi
petani karena ia bergaul di lingkungan petani. Namun saat ia harus merantau, ia
bisa jadi pebisnis meskipun tidak diwarisi bakat bisnis. Sebagai perantau ia
harus mandiri dan ketakutannya tidak dapat bertahan hidup justru membuatnya mencari
peluang apapun yang memungkinkan menghasilkan uang.
Ketakutan tersebut
membuat ia terus mengasah kepekaannya untuk mendeteksi peluang dan kesempatan
yang mungkin dapat ia raih.
Menurut Rhenald
Kasali, ada tiga etnis asli Indonesia
yang sering menjadi pengusaha andal, yaitu Bugis, Banjar, dan Minang. Ketiganya
suku perantau. Bisa dibilang, mereka yang merantau akan lebih sukses. Paling
tidak, di negeri lain mereka bisa bikin
rumah makan Padang, buka warung kelontong, atau
jualan di kaki lima.
Sedangkan etnis lain yang tidak memiliki
budaya merantau jarang terdengar memiliki pengusaha yang sukses ”Biasanya, orang dari etnis ini lahir dan
menetap di kota
kelahirannya. Mereka enggan merantau. Kalaupun buka warung, yang beli
keponakannya, adiknya, pamannya, plus boleh 'ngutang. Kalau sedang tak punya
uang, ia tinggal ambil beras di rumah
tetangganya. Toh, tetangganya adalah saudaranya juga. Makan? Ke warung
tetangga, yang juga saudaranya. Rasa terlalu nyaman hidup bersama saudara,
membuatnya tak mandiri. Karena tak mandiri, ya, sulit jadi pengusaha sukses.”
Pungkas Rhenald Kasali.
0 komentar:
Post a Comment