Sebagai tempat tinggal bagi 230 juta penduduk, Indonesia menjadi
pasar yang potensial bagi bisnis retail modern. Tengok saja, sejak
sepuluh tahun belakangan berbagai retailer dengan format hypermarket, supermarket, minimarket hingga department store menjamur.
Ditambah lagi pembangunan pusat perbelanjaan berkembang pesat, tidak
hanya di kota besar, tapi juga di daerah. Semua itu tentu tak terlepas
dari daya beli masyarakat yang meningkat, serta pola hidup masyarakat
yang mengutamakan kenyamanan dan kepraktisan dalam berbelanja.
Jeli
melihat peluang bisnis tersebut, tiga wanita muda ini gigih berusaha
menembus pasar retail. Mengedepankan produk yang unik dan berkualitas
tinggi, mereka pun berhasil memasukkan produk mereka ke retailer besar.
Harus gigih, berani, dan tak takut jatuh, itulah tekad yang dipegang Dinar Esfandiari Santoso (39) ketika mengembangkan bisnis pernik interior kamar tidur anak, Simply Idea,
pada tahun 2005. Dinar melihat, bisnis hasil kolaborasi dengan dua
sahabatnya, ini punya peluang bagus di pasar retail. “Kala itu, belum
banyak produk bedding untuk anak buatan dalam negeri, apalagi yang hand made seperti produk kami,” kata Dinar, yang mengaku mulai mengincar pasar retail setelah 6 bulan menjalankan bisnisnya.
Berbekal keunikan produknya, ibu dua anak ini lantas memberanikan diri mengirim proposal dan contoh produknya ke sebuah department store
terkemuka. Prinsipnya saat itu, toko besar pasti butuh produk, dan
sebagai produsen tak ada salahnya ia menawarkan produk karyanya. “Dalam
pikiran saya, semua harus dicoba! Toh, yang terburuk, kalau produknya
jelek, ya, ditolak,” katanya, tertawa.
Tak disangka, Metro Department Store menyambut manis proposalnya. Pertengahan tahun 2005, produknya mulai dicoba untuk dipasarkan di department store ini, meski awalnya hanya sebagai produk undangan untuk mengikuti Metro Big Sale. Hingga akhirnya, pada April tahun 2006, produk Simply Idea mulai menghiasi beberapa gerai Metro di Jakarta.
Keinginan yang sama untuk meluaskan pasar juga dirasakan oleh Dwi Arlina Avriliawati (41), pemilik fashion brand anak, Daradara.
Kecintaannya pada kain batik serta kesenangannya mendandani anak
perempuannya, Adara (10), membuat wanita yang akrab disapa Lia ini
mencoba berkreasi dengan membuat rok tutu dari bahan batik. Ketika
memulai usaha, tahun 2007, Lia hanya memasarkannya kepada teman dan
keluarga. Ternyata, tanggapannya sangat baik. “Banyak yang memuji hasil
desain saya, bikin saya percaya diri untuk berkreasi lebih banyak lagi,”
katanya. Untuk menyikapi permintaan pasar, ia lantas memproduksi juga
baju untuk anak dan remaja.
Setelah Daradara
berjalan selama 1,5 tahun dengan pemasaran melalui bazar dan toko
online, Lia ingin mencari celah pasar baru untuk meluaskan penjualan
produk Daradara. Wanita yang sempat bekerja di biro iklan ini pun
melirik pasar retail yang menurutnya menjanjikan. “Bisa masuk ke
department store berarti nama kita makin dikenal, sekaligus menaikkan
pamor,” katanya. Sebagai langkah awal, ia mengirimkan proposal ke Alun-Alun Indonesia.
Berbeda dengan Ni Ketut Arysanti (35). Desain baju anak Canggu Kids miliknya ditaksir sebuah retailer
besar yang membuka cabang di Bali. “Sebagai pengusaha baru, ajakan
untuk bergabung dengan sebuah retailer besar tentunya sangat
menguntungkan. Tak perlu modal besar untuk menguji penerimaan pasar
terhadap produk yang kita buat, karena retailer besar bisa mendatangkan konsumen dengan sangat banyak,” kata wanita yang akrab dipanggil Arys ini.
Meski
akhirnya kerja sama tersebut tak berjalan lancar, ia mengaku mendapat
banyak pelajaran. Terutama, ketika menghadapi penjualan di pasar retail
yang naik- turun. Dengan jumlah produksi yang sangat besar, tentunya
angka kerugian akan lebih tinggi. Untuk itu, Arys tak mau asal memilih
retailer. “Kita harus tahu apakah segmen pasar dari perusahaan retailer
tersebut cocok dengan produk kita. Karena, kalau tidak tepat, yang ada
barang kita tidak akan terjual,” jelasnya.
Pentingnya
memilih perusahaan retailer yang tepat diakui pula oleh Lia dan Dinar.
Lia misalnya, memilih Alun-Alun Indonesia bukan tanpa alasan.
Menurutnya, produk Daradara yang berkreasi dengan keindahan kain lokal,
tepat untuk dijual di Alun-Alun yang memiliki konsep sama. “Saya yakin,
orang yang datang ke Alun-Alun mencari produk lokal bermutu. Dengan
menempatkan barang di sana, saya akan menjangkau target market yang
sesuai,” jelasnya.
Sedangkan Dinar, mengaku makin selektif setelah sempat gagal menjalin kerja sama dengan sebuah perusahaan retailer besar.
Berdasarkan pengamatannya, hal tersebut terjadi karena konsep toko dan
produknya jauh berbeda. Ketika akhirnya ia mendekati Mothercare untuk bekerja sama, semata-mata karena Dinar sudah yakin dengan konsep Mothercare yang memang ditujukan untuk anak-anak.
Hal lain yang menjadi pertimbangan adalah harga yang ditawarkan produknya harus sesuai dengan daya beli target market dari perusahaan retailer tersebut.
“Dengan mengetahui kisaran harga produk kita, berarti kita telah
membuat image untuk produk tersebut,” kata Dinar, yang sejak tahun 2009
membuat produk kelambu yang didesain khusus untuk Mothercare Indonesia.
0 komentar:
Post a Comment