Bagi umat Islam yang mampu secara
finansial dan sehat lahir bathin, beribadah haji merupakan salah satu
kewajiban yang harus ditunaikan sebagai syarat lengkapnya Rukun Islam
yang kelima. Sehingga tidak heran berangkat ke tanah suci Makkah untuk
berhaji (dan/atau umrah) sudah pasti menjadi impian setiap muslim dan
muslimah. Sayangnya, bagi kita yang bermukim sangat jauh dari Arab Saudi
untuk melaksanakan ibadah ini memerlukan perjuangan (saya tidak mau
mengatakan sebagai pengorbanan) yang tidak sedikit baik dari segi biaya ,
waktu dan ketahanan fisik.
Disamping itu, di beberapa daerah
menyandang gelar Haji atau Hajjah menjadi sebuah gengsi tersendiri.
Sehingga tidak heran maka di depan nama mereka akan diimbuhi tambahan
“H.” atau “Hj” sepulang mereka dari berhaji. Kebanggaan tersebut juga
dirasakan teman seperjalanan saya, Hajjah X. “Saya sudah pernah haji
tahun 2000 lalu, umroh juga sudah 2 kali. Alhamdulillah hari ini diberi
kesempatan mengulang” Katanya dengan mata berbinar-binar . “Wah,Dik.
Waktu acara walimatul safar dirumah saya rame yang datang. Pak Bupati
juga datang” Katanya melanjutkan. Saya hanya mengangguk-angguk.
Tiba-tiba ponsel Bu Hajjah berbunyi. ”
Iya… Iya..saya sudah di bandara. Lagi nunggu naik pesawat. Loh, saya’kan
mau ke Tanah Suci. Kemarin diundang gak dateng sih, jadinya ngga tau..”
Tidak sampai 5 menit pembicaraan
tersebut ia sudahi, ponselnya berbunyi lagi “Eh, Ibu, Iya tadi saya
telepon tapi tidak diangkat. Ini, saya mau kabari, saya mau ke Tanah
Suci. Iya,Alhamdulillah. bisa berangkat lagi. bla..bla..bla..”
Sepanjang menunggu panggilan boarding nyaris ia tidak berhenti menerima
telepon atau menelpon. Saya yang duduk dihadapannya jelas bisa
mendengarkan dengan jelas apa yang ia katakan kepada lawan bicaranya.
Intinya, ia berpamitan karena akan berangkat ke Tanah suci.
Sampailah saat panggilan masuk ke
pesawat. Sebelumnya petugas penerbangan melalui pengeras suara berpesan
agar seluruh perangkat elektronik termasuk ponsel dimatikan. Ditambah
personel yang mendekati kami satu persatu secara acak meminta kami
mematikan ponsel.
Ketika sebagian penumpang masih sibuk mencari kursi dan mengatur bagasi “hand-carry”nya,
tiba-tiba dari kursi dibelakang saya terdengar suara seseorang
menelpon,cukup keras . “Haloo..haloo..adik…saya sudah di pesawat.
Do’akan sampai di Tanah Suci dengan selamat ya”
Lalu, “Haloo..Ibu Min, saya pamit ya. Mau ke Tanah Suci. Iya..iya..bla..bla..bla..”
kemudian, “Assalamu’alaikum, Tante, ini saya sudah di pesawat. Iya mau ke Tanah Suci. Do’akan ya..”.
kemudian, “Assalamu’alaikum, Tante, ini saya sudah di pesawat. Iya mau ke Tanah Suci. Do’akan ya..”.
Sampai akhirnya seorang pramugari datang
memintanya mematikan ponsel karena pesawat sudah siap-siap berangkat.

0 komentar:
Post a Comment