Mengandung janin kembar
berjenis kelamin perempuan ternyata memang lebih berat dibanding ketika
mengandung janin tunggal perempuan. Masih teringat dengan jelas suatu
sore di bis dalam perjalanan pulang kerja saya merasa mual dan pusing. Semakin
lama rasa pusing dan mual semakin tidak tertahankan, maka saya memutuskan turun
dari bus , dan muntah-muntah di trotoar. Setelah muntah bukannya merasa lebih
nyaman, pandangan mulai berkunang-kunang, tubuh makin lemas.
Sayapun panik. Sopir bis
menurunkan saya di sekitar Jalan Sudirman sedangkan rumah di Rawamangun.
Masih sangat jauh. Kalau sampai jatuh pingsan siapa yang akan mengantar
pulang?. Saya menghentikan taksi dan meminta supirnya mengantar kerumah
sakit. Rumah sakit mana saja yang tercepat dicapai.
Sopir taksi mengantarkan
saya ke UGD RS. PELNI Petamburan. Entah siapa yang mengabari tidak sampai satu
jam suami sudah tiba di rumah sakit tersebut .
Dari hasil pemeriksaan
darah, urin dan USG dokter mengabarkan “Selamat. Ibu hamil 6 minggu dan
janinnya kembar”
WHAT!!!
Sepanjang pengetahuan saya dan suami tidak ada keluarga kami yang memiliki anak kembar. Kamipun memaksa dokter untuk USG ulang. Dan –apa boleh buat , hehe- kembali terlihat ada 2 kantung bayi yang masing-masing diisi sebuah titik. Alhamdulillah. Kami hanya menanti 4 bulan sejak tanggal pernikahan dan langsung dianugerahi karunia yang luar biasa ini.
Sepanjang pengetahuan saya dan suami tidak ada keluarga kami yang memiliki anak kembar. Kamipun memaksa dokter untuk USG ulang. Dan –apa boleh buat , hehe- kembali terlihat ada 2 kantung bayi yang masing-masing diisi sebuah titik. Alhamdulillah. Kami hanya menanti 4 bulan sejak tanggal pernikahan dan langsung dianugerahi karunia yang luar biasa ini.
Seperti yang saya tulis diawal, mengandung janin kembar adalah tidak mudah. Benar-benar menguras tenaga dan kesabaran. Betapa morning sickness tidak hanya dirasakan pada trimester awal , melainkan sepanjang kehamilan. Mual-muntah bukan hanya dipagi hari, saya sering terbangun mendadak di malam hari untuk menguras isi perut. Berkali-kali. Tidak ada makanan yang bisa bertahan didalam perut lebih dari satu jam. Tubuhpun menjadi kurus sementara perut semakin membesar. Karena tidak mempunyai cadangan energi yang cukup saya kesulitan melakukan aktifitas yang biasa saya kerjakan sebelum hamil. Bahkan saya tidak kuat berdiri lebih dari 10 menit tanpa jatuh pingsan. Akibatnya selama hamil saya beberapa kali dirawat di rumah sakit karena kekurangan gizi dan cairan.
Kondisi tersebut membaik pada bulan ke lima. Makanan didalam
perut mulai bisa bertahan beberapa jam. Sayapun “balas dendam”. Memakan segala
jenis makanan, bahkan beberapa jenis sayur dan ikan yang tadinya tidak saya
sukai. Ketika makanan tersebut dimuntahkan , saya segera makan lagi. Sehari
bisa 5-6x makan belum lagi ngemil es krim minimal 1 liter sehari. Berat badan
sayapun melambung. Menjadi 65 kg dari semula 45 kg.
Karena badan menjadi gendut, saya mudah kegerahan.
Tidur malam susah nyenyak. Sayapun memilih tidur dilantai tanpa alas dibanding
tidur diatas kasur. Selain itu indera penciuman menjadi luar biasa sensitif.
Segala macam bebauan tidak ada yang pas dengan penciuman saya. Aroma parfum
bikin pusing, Asap nasi bikin mual. Keset basah bikin pening. Bahkan parfum
suami saya buang ke tempat sampah, padahal saya yang membelikannya sebelum
hamil.
Selain sensitif terhadap bebauan, saya juga sensitif
terhadap kehadiran makhluk lain. Sensitifitas ini yang bikin saya senewen.
Misalnya saat sedang menunggu bis di halte saya mendengar anak kecil menangis
keras, padahal tak ada seorang bocahpun di halte tersebut. Atau saat sedang
berjalan di trotoar dekat rumah untuk membeli panganan ke warung, tiba-tiba
jilbab saya di tarik sesuatu hingga saya nyaris terjatuh, padahal jilbab saya
tidak tersangkut benda apapun. Dan masih ada beberapa kejadian sejenis.
Sebelum kehamilan memasuki
bulan ke delapan, hari Senin 12 Agustus 2002, ketika bersiap berangkat ke
kantor, ketuban saya pecah. Dan hari Selasa 13 Agustus 2002 kedua bayi kembar
kami di lahirkan melalui operasi caesar. Beratnya masing-masing 1700 gram untuk
si Kakak dan 2000gram untuk si Adik. Alhamdulillah, seluruh fungsi vital mereka
normal meskipun berat badan lahir rendah sehingga kedua bayi mungil tersebut
harus di rawat di inkubator 2 minggu lebih lama dibanding pemulihan pasca
operasi saya yang hanya memerlukan perawatan satu minggu ,hingga dokter merasa
berat badan mereka cukup ideal untuk mulai mengarungi kehidupan di dunia luar
dalam bimbingan dan kasih sayang kami.
2 komentar:
pengalaman yg menarik...
Hamil memang selalu sarat dengan pengalaman aneka rupa, setiap bumil pasti punya cerita unik dan berbeda. hehehe :*
Post a Comment