*Diposting di Kompasiana 4-12-2012
Seorang Adipati (A) memerintahkan kepada Baturnya. (B) “Carikan
aku seorang selir ! Ingat ya “Spek”nya harus yang kinyis-kinyis dan
perawan.”
Sang Batur pun kemudian keliling wilayah untuk mencari info keberadaan
gadis yang sesuai “Spek” yang diminta, sampai akhirnya ia mendengar ada
seorang Rara yang semlohei di sebuah Padepokan di negeri Domba
Beberapa hari kemudian Batur mengatur pertemuan antara Adipati, Rara dan keluarganya di
Pondok Dahar untuk membicarakan peminangan Rara sebagai selir Adipati
,yang mana akan dilaksanakan dalam tempo selambat-lambatnya 4 x 24 jam.
Setelah keluarga Sang Rara mengadakan musyawarah dan mengkalkulasikan
secara makro untung ruginya persyarikatan ini, mereka pun oke atas
tawaran tersebut.
Pada waktu yang disepakati, diresmikanlah perseliran antara Adipati dan
Rara, yang terpaksa dilakukan secara sembunyi-sembunyi dikarenakan
Garwa Adipati belum menandatangi SK persetujuan dipoligami.
Namun, sayang seribu sayang, perseliran ini diakhiri mendadak oleh Sang
Adipati . Alasannya “Rara, ternyata engkau tidak perawan lagi” Tulis
Adipati singkat yang ditorehkan diatas lembaran kulit kayu Kersen
Hitam..
Tidak hanya mutung kepada Rara, Adipatipun murka kepada Baturnya.
“Gila lo ya! Guwa’kan udah bilang. Cariin selir yang kinyis-kinyis dan perawan” Lagak preman Adipati kumat saat sedang murka
“Lah, bukannya si Rara juga udah sesuai spek, Tuan?” Si Batur menyanggah.
“Apaan. Out of Spek. Memang sih dia cakep tapi sudah tidak
perawan, tahu!” Sang Adipati semakin murka mengingat malam pertamanya
yang tidak seindah impiannya. Padahal ia sudah bayar mahar dan upeti
hampir 250 keping emas.
” Swear deh, Adipati. Den Rara masih perawan koq. Saya yakin sekali. Karena sebelum mengajukannya sebagai kandidat terkuat, saya sudah trial dia dulu. Dan terbukti dia masih perawan.” Batur keukeuh dengan argumennya.
“Apa kau bilang!!!! Jadi dia sudah kau cicipin dulu?! Mak diamput! “
Dan Baturpun pingsan dengan sukses akibat dikamplengi oleh Adipati.
*Diisnpirasikan dari kisah Bupati Garut*
*Diisnpirasikan dari kisah Bupati Garut*
0 komentar:
Post a Comment