Posting di Kompasiana 5 Feb 2013
Siang ini saya menonton sebuah acara berita di salah satu stasiun TV
yang menayangkan berita yang intinya : “Rasyid Rajasa hanya dikenai
wajib lapor dan terpaksa harus menjalani pengobatan ke luar negeri “.
Sebegitu parahkah sakit kejiwaan Rasyid Rajasa sehingga seluruh dokter
kejiwaan di Indonesia tidak ada yang sanggup mengobatinya???
Kita flashback sebentar ke kejadian beberapa waktu lalu ketika Syaiful
Jamil mengalami kecelakaan tunggal sehingga istrinya meninggal dan ia
dinyatakan sebagai tersangka lalu dijatuhi hukuman kurungan 5 bulan dan
10 bulan masa percobaan.
Begitupun Ninik Setyowati, mengalami kecelakaan pada Agustus lalu
dan kini menjadi lumpuh karena kakinya terlindas truk yang menyerempet
sepeda motor yang ia kendarai. Sedangkan anaknya yg ia bonceng meninggal
seketika ditempat kejadian. 3 Bulan kemudian ia dinyatakan BERSALAH dan menjadi TERSANGKA dengan pasal kelalaian yang menyebabkan seseorang meninggal.
Lalu ada Kasus Afriyani dan Novi Amalia (meskipun tanpa korban jiwa)
yang langsung masuk tahanan selama proses penyidikan dan penyelidikan.
Untuk kasus Rasyid Rajasa ini sejak awal masyarakat sudah melihat adanya
perlakuan yang beda. Dihari-hari pertama kecelakaan bahkan wartawanpun
susah mencari informasi identitas pelaku penabrak,lalu Rasyid
“menghilang” dalam perawatan Super VVIP sebuah Rumah Sakit. Rasyid tidak
langsung ditahan dengan alasan mengalami trauma psikis dan Post
Traumatic Stress Disorder. Padahal penyakit tersebut bisa menjangkiti
siapa saja yang pernah mengalami kejadian traumatik, termasuk juga
Afriyani dan Novi terlebih Ibu Ninik.
Tetapi mengapa hanya Rasyid yang bisa bebas melenggang “berobat keluar negeri”?
Dengan banyaknya kasus heboh belakangan ini,apakah Bapak Hatta Rajasa
sebagai orang tua Rasyid -dengan kekuasaan dan pengaruh yang dimilikinya
- berharap suatu saat masyarakat Indonesia melupakan kasus ini
Lalu anak bungsu kesayangannya bisa tetap terbebaskan dari tanggung jawab hukum?
Sadarkah Bapak Hatta Rajasa yang terhormat, anda sedang mendidik ANAK LELAKI anda menjadi seorang pengecut?
Subscribe to:
Post Comments (Atom)
0 komentar:
Post a Comment