Beberapa tahun lalu, sebelum membuka toko onlinenya di Indonesia,
Lazada menghubungi beberapa blogger, diantaranya Saya yang saat itu masih aktif
sebagai blogger. Tujuan mereka adalah agar kami bersedia menuliskan preview
tentang bisnis mereka.
Keikutsertaan Saya sebagai “blogger tim cuap-cuap” mengharuskan
Saya rajin berhubungan dengan Divisi Communication dan nyaris tiap hari
mendapatkan email blast dari mereka.
Lalu dengan bayaran dan hadiah voucher dari ngeblog, Saya pakai
untuk berbelanja. Jadi Saya bisa dikatakan termasuk konsumen awal toko online
ini.
Setahun belakangan, Saya ‘pausing’ dari nge-blog dan hampir
tidak pernah lagi membuka email-email dari Lazada, rupanya kelakuan saya
ini terdeteksi mereka. Agar Saya giat kembali, Lazada beberapa kali mengirimkan
voucher dari yg 50 ribu hingga ratusan ribu. Saya bergeming. Karena Saya lebih
suka belanja online produk teman sendiri.
Lalu, tadi pagi Saya mendapatkan email yang berisi quosioner
tentang seberapa sering Saya ingin dikirimi email blast mereka, bahkan termasuk
pilihan jika tidak ingin dikirimi iklan-iklan mereka lagi.
Satu pelajaran bagus Saya dapatkan dari cara komunikasi Lazada
ini. Pertama, diusahakan sedapat mungkin mempertahankan kontak, karena JEJARING
adalah ASET.
Tapi jika kontak tersebut memang sudah ‘emoh’ yah, buat apa
dipertahankan, energi yang ada lebih baik dipergunakan untuk membina jaring/
customer yang lain yang lebih potensial.
-----
Blast Email adalah salah satu cara komunikasi dengan (calon)
konsumen, tapi lakukan hanya pada (calon) konsumen yang BENAR-BENAR MAU
mendapatkan email promosi dari anda.

0 komentar:
Post a Comment