Percakapan di dapur petang kemarin dengan salah seorang anakku:
Anak: "Ma, koq, dikasih ke orang sih, nanti kan aku mau makan lagi".
Ma : "Rejeki kita adalah yang masuk ke pencernaan lalu mengalir di
pembuluh darah. Yang masuk mulutpun sebagian kita buang lagi,bukan?.
Kemampuan kita untuk makanpun terbatas sesuai daya tampung lambung. Nah, daripada mubazir disimpan-simpan
untuk nanti, bisa jadi sebelum kita ingat memakannya lagi, makanan ini sudah lebih dulu
basi. Jadi lebih baik kita bagi-bagi"
Anak: "Kalau nanti aku mau makan lagi bagaimana"
Ma: "Kalau ada uangnya, kita bisa beli lagi".
Anak: tapi kadang-kadang aku mau beli, koq ngga dibolehin, Ma.
Ma : "Kadang kondisi sudah berbeda. Mungkin saat itu uangnya terbatas, atau cuaca
sedang panas jadi lebih baik kamu di rumah saja, atau ada sebab lain.
Yang harus kamu pahami, tidak semua keinginan langsung terpenuhi. Jadi kamu sekaligus belajar bersabar"
Anak : "Ma, kenapa kita ngga pernah menyimpan makanan?"
Ma: "Negara kita tidak sedang dalam kondisi perang atau bencana besar
lainnya. Jalan kaki sedikit sampai minimarket. Pasar juga dekat. Kita nggak
perlu khawatir kelaparan. Lebih baik kelebihan yang kita punya, dibagi kepada yang
kekurangan. Mereka gembira hidup kita berkah"
Anak: "Kalau ngasih-ngasih terus kita ngga kaya-kaya, dong, Ma"
Ma: "Tapi kita kan juga ngga kekurangan. Ada rumah yang nyaman, pakaian
cukup, punya kendaraan buat bepergian, kalian pun bisa sekolah di
sekolah yang baik. Apa lagi yang kita perlukan?
Dengan berbagi kita memberi kesempatan kepada orang yang kekurangan untuk memperbaiki kualitas hidup mereka".
Ma :"Nak, berbagilah dikala masih ada kesempatan. Dikala masih ada orang yang jauh lebih kekurangan dibanding kita. Karena nanti ada masa dimasa semua orang makmur dan kita kesulitan mencari fakir miskin. Saat itu terjadi, kemana kita akan bersedekah. Karena sesungguhnya manfaat sedekah banyak sekali,."
Subscribe to:
Post Comments (Atom)
0 komentar:
Post a Comment