Thursday, August 7, 2014

Andai Ada Badan Sosial Penampung Gelandangan


Kira-kira 25 meter setelah  exit Karawaci tol Merak- Jakarta kami tidak sengaja melihatnya, seorang ibu gelandangan yang terbaring di pinggir jalan. Beralaskan tanah diantara rimbun daun-daun  pagar pembatas jalan dengan gedung-gedung ruko. Karena tidak memungkinkan kami berhenti maka kami memutar di RS Qadr lalu mampir ke Hypermart Pinangsia. Kami membeli 3 lembar sarung, biskuit dan 3 botol air kemasan. 2 box nasi dengan lauk pecel ayam memang sudah kami bawa
Saat Saya menghampirinya, si Ibu  tersentak bangun dan siap-siap membawa buntelannya. Mungkin ia sudah biasa diusir oleh orang yang tidak menghendaki kehadirannya. Saya tanya apakah Ia sudah makan, jawabnya Ia belum makan sejak kemarin. Saat ditanya namanya, Ia hanya terdiam memandangi kotak nasi yang Saya pegang. Mungkin Ia sudah sangat kelaparan.

Saya sodorkan 2 kotak nasi, Saya jelaskan bahwa 1 kotak buat malam ini, dan kotak lainnya buat besok pagi bekal Ia sarapan. Ia mengangguk sambil membuka kotak tersebut.
Lalu Saya serahkan sarung-sarung dan air kemasan. Ia hanya melirik sekilas, rupanya sedang konsentrasi dengan makanannya. Ia terus menunduk.

Saya pun pergi dari hadapannya dan melanjutkan keliling membagikan Sedekah Nasi  malam Jum'at itu.

Saya sedih Pemerintah kita tidak bisa sepenuhnya menjalankan amanat Pasal 34 ayat (1) UUD 1945 yang menyebutkan bahwa “fakir miskin dan anak-anak terlantar dipelihara oleh Negara”
Di dalam mobil, Suami berkhayal, "Andai ada model '911' yang bisa kita telepon lalu merespon cepat menjemput orang-orang terlantar tersebut untuk dirawat semestinya tentu mereka tidak perlu berkeliaran di jalan seperti itu".
 

Semoga, kami bisa ikut serta mengelola badan sosial seperti yang dikhayalkan Suami, suatu saat. 
Aamiin

0 komentar:

Post a Comment

 
;