Thursday, August 7, 2014

Gaya emak-emak : Beda Komunitas, Beda Gaya, Beda Cara Berinteraksi.


Tadi , saat akan mengantar pesanan Nastar Safira saya melihat ibu-ibu (sekitar 6-7 orang)  berdiri bergerombol di halaman sebuah SD.  Menanti anak-anak mereka pulang sekolah. Kebetulan dua orang diantaranya Saya kenal. Saya berhenti untuk menyapa mereka.
Teman : “Mau kemana , Bu? Jalan melulu nih”.
Saya : “Mau ke Cilandak, nganterin pesanan kue kering”.  
Saya pikir Ibu-ibu ini mungkin bisa jadi calon pelanggan, maka Saya mengeluarkan dan membagikan brosur Nastar Safira kepada para Ibu yang ada disitu. 
"Maaf ya, Bu, ini brosur kuker,  mungkin minat buat cemilan anak."Kata Saya
Salah seorang ibu nyeletuk : “Habis ini keluarin brosur apalagi nih? Asal bukan MLM aja, Bu.  Saya ngga bakalan ngikut deh. Saya mah ngga kekurangan uang belanja dari Suami”.
Saya : “Alhamdulillah ya Bu, gaji Suaminya gede. Jadi ngga perlu cari tambahan uang jajan." Balas Saya dengan tetap tersenyum. Sebenarnya -meskipun saat ini bukan pemain MLM-  Saya agak merasa sebel juga menghadapi kejutekan si Ibu, 
Mungkin uang bukan masalah bagi mereka, karena Saya sering melihat kumpulan para Ibu-ibu mapan ini runtung-runtungan jalan kesana-kemari. Saling traktir. Facial bareng. Shopping bareng. Seakan uang jajan dari suami mereka nggak berseri. Belum lagi pakaian mereka yang selalu kompakan. Saya sering melihat di timeline Facebook dari foto yang mereka unggah, hari ini barengan 'nge-pink, lusa biru, akhir pekan polkadot. Dan masih banyak lagi foto-foto mereka dengan seragam yang berbeda-beda.

Penampilan berbeda Saya lihat pada teman-teman perempuan di beberapa komunitas Entrepreneur yang Saya ikuti. Saya lihat , bagi mereka penampilan sudah cukup jika terlihat bersih, rapi dan sopan. Sangat  jarang ada yang berpenampilan heboh. Pernah ada seseorang yang mengusulkan tampil dengan nuansa tertentu pada acara yang akan kami hadiri. Ide tersebut langsung sukses ditolak dengan kompak oleh teman -teman lain. Mereka malas ribet. Ingin tampil praktis. Begitulah para entrepreneur emak-emak ini, yang penting pakaian mereka nyaman dan bisa membuat mereka bergerak gesit.  Ibu-ibu Entrepreneur ini tidak pernah runtung-runtungan untuk acara yang tidak produktif. Mereka biasanya bertemu dalam seminar atau workshop atau sekalian dalam kegiatan baksos. Pembicaraanpun berkisar pada soal barang dagangan dan strategi berusaha

Kemudian, gaya teman-teman perempuan di klub otomotif berbeda pula. Pakaian kami nyaris selalu casual.  Saat kumpul biasanya kami agak heboh. Banyak cekikikan. Pilihan tempat kami   kongkow  adalah di food- court mall, karaoke-an,  atau touring bareng ke suatu tempat wisata  Obrolan kami seputar anak dan suami. Jarang berbicara tentang bisnis.

Lalu, ibu-ibu komplek (perumahan kami). Kebetulan Saya tinggal di komplek ini nyaris 13 tahun di tiga cluster yang berbeda. Jadi punya teman-teman tang berbeda. 
Di cluster yang pertama kami  masih mengontrak karena rumah yang kami beli di cluster lain sedang dibangun. Disini Saya tidak terlalu bergaul akrab dengan ibu-ibu tetangga, kecuali dengan beberapa ibu dalam satu RT. Ibu-ibu teman saya sebagian besar full-time housewife alias ibu-ibu yang tidak bekerja di luar rumah. (Meskipun di dalam cluster tersebut lebih banyak Ibu-ibu yang pekerja kantoran).  Saat saling 'nenangga paling sering kami cuma berbaju rumahan (kalau Saya, yah, gamis batik alias dasteran batik). Kami biasanya berkumpul siang hari saat anak-anak di sekolah dan para suami di kantor. Acaranya ngerujak, ngerumpi sambil bawa potluck dari rumah masing-masing, atau belanja ke pasar bareng. Yang dibicarakan melulu tentang anak. (Kami memang  jarang banget loh ngerumpiin tetangga, kecuali ada kehebohan di RT).
Saat rumah telah selesai dibangun, kami pindah ke cluster kedua. Disini tempat berkumpulnya para ibu-ibu adalah di mushalla. Mengaji atau acara RT lainnya. Bermain volley atau badminton pun di halaman mushalla. Pokoknya mushalla jadi pusat kegiatan. Sesekali kami ke Tanah Abang bareng. Berburu jilbab dan baju muslimah model terbaru. Karena kami "ibu-ibu mushalla" otomatis kami berpenampilan lebih sesuai syar'i. Bergamis dan berjilbab lebar.
Sayangnya, di cluster ketiga sekarang ini (kami baru tiga tahun pindah ke sini), Saya tidak bergaul akrab
dengan para ibu-ibu disini, kecuali dengan beberapa tetangga kanan-kiri. Jadi Saya belum punya penilaian gaya "gaul" ibu-ibu di cluster ini. Meskipun tiap bulan rutin dapat undangan menghadiri acara arisan, sebagai ajang kumpul Ibu-ibu di cluster ini,  tetapi, karena sejak zaman dulu -(zaman pra sejarah?)- Saya ngga suka arisan, maka saya cuma sekali menghadiri acara tersebut, saat kami baru pindah. Untuk memperkenalkan diri. Di cluster ini malah Suami yang lebih aktif bergaul dengan lingkungan. Karena sehari 5 kali ia ke mushalla, yang sama seperti cluster kedua, merupakan pusat kegiatan warga disini. 

Begitulah.
Ini penilaian subyektif  Saya, loh, terhadap gaya ibu-ibu dalam komunitas yang Saya ikuti dan kenal. Sangat mungkin anggapan Saya ini salah.
Oke deh, sekarang saatnya  Saya melanjutkan perjalanan ke Cilandak. Mengantar pesanan sekaligus ambil pembayaran orderan 12 lusin kue kering. 
Alhamdulillah.


(Diketik menggunakan ponsel sepanjang perjalanan Karawaci - Cilandak. Agak ribet juga karena menulisnya di samping Pak Supir yang sedang bekerja mengemudi mobil supaya baik jalannya, hai! )

1 komentar:

mutia ohorella said...

jadi memperkaya kita mengenal tabiat manusia yaa.. :)

Post a Comment

 
;