Sore ini salah seorang teman sesame alumni menghubungi saya melalu aplikasi pesan
Whatsapp. Percakapan kami sebagai berikut:
Teman : "Rin, teman-teman sepakat
mengumpulkan uang kas besarnya Rp.10.000/ bulan."
Saya :" Buat apa uang kas?"
Teman : "Ya, barangkali ada teman yang
sakit, kita bisa pakai uang tersebut buat membelikan buah saat menjenguk. Atau
mungkin ada teman yang anaknya nikahan, kita kasih 'angpao dari uang kas. Yah kayak gitu lah."
Saya
: "Selain itu?"
Kawan
: "Kalau ketemuan, kita ngga usah iuran lagi buat konsumsi.”
Saya.
"Terus Bendaharanya siapa?"
Teman
: "Si Anu."
Saya
"Uangnya disimpan di siapa?"
Teman
: "Si Anu."
Saya.:
“Oke Fix. Gw ngga mau bayar uang kas. Kecuali untuk pengeluaran yg udah jelas
peruntukkannya. Kalau ada teman sakit, atau mau iuran apa gitu, lu hubungin Gw
aja. Kali aja pas Gw ada rezeki, gw bisa ikutan urunan."
Teman
: "Lu ngga percaya ama si Anu?"
Saya
: "Bukan karena itu. Uang adalah sumber fitnah. Gw terlalu sayang ama
teman Gw untuk mengelola sumber fitnah."
--
Memang
dari kasus-kasus yang sering dihadapi saat berorganisasi, uang adalah sumber
fitnah utama. Apalagi sudah pernah terbukti koq di grup alumni tersebut. Sudah pernah
ada kasus fitnah hanya gara-gara uang ngga sampai 500.000 rupiah. Akhirnya
saling merasa ngga enak. Sehingga pemegang uang kas dari si Dia di pindah ke si
Anu.
Hal
tersebut adalah alasan pertama saya ngga mau membayar uang kas.
Alasan
kedua adalah pemanfaat uang kas tersebut tidak jelas dan tidak terencana.
Jauh-jauh hari mengumpulkan uang untuk teman/keluarga teman yang sedang sakit? Jiaaah, berarti mengharap dong supaya ada teman yang sakit?.
Atau untuk angpau saat anak teman nikahan? Berapa orang anak-anak teman yang sudah siap menikah? Mungkin ngga sampai 10.
Buat uang konsumsi saat reuni? Mau seberapa rajin bereuni? Tiap bulan? 6 bulan sekali? Setahun sekali? Bukankah saat reuni bukan Cuma uang konsumsi yang dibutuhkan, tapi ada ongkos jalan, dan sebagainya. Kalau teman yang ngga bisa datang, kenapa juga diminta ikutan membiayai makanan yang dimakan oleh peserta ketemuan? Kenapa ngga yang datang saat itu yang iuran apa yang mereka makan?
Jauh-jauh hari mengumpulkan uang untuk teman/keluarga teman yang sedang sakit? Jiaaah, berarti mengharap dong supaya ada teman yang sakit?.
Atau untuk angpau saat anak teman nikahan? Berapa orang anak-anak teman yang sudah siap menikah? Mungkin ngga sampai 10.
Buat uang konsumsi saat reuni? Mau seberapa rajin bereuni? Tiap bulan? 6 bulan sekali? Setahun sekali? Bukankah saat reuni bukan Cuma uang konsumsi yang dibutuhkan, tapi ada ongkos jalan, dan sebagainya. Kalau teman yang ngga bisa datang, kenapa juga diminta ikutan membiayai makanan yang dimakan oleh peserta ketemuan? Kenapa ngga yang datang saat itu yang iuran apa yang mereka makan?
Saya
bukannya pelit loh. (Ngeles..hehe) Tetapi saya setuju diadakan uang kas, jika
pemanfaatannya jelas. Misalnya menabung bersama dana bergulir untuk modal
kegiatan usaha. Karena sebagian teman di kelompok alumni yang ini, sedang dalam
kesulitan ekonomi.
Sekali
lagi, karena jika uang dikumpul di satu orang, lalu dia juga yang mencatat,
ngga menutup kemungkinan dia akan tergoda untuk memanfaatkan uang tersebut
untyuk kebutuhan pribadi. Awalnya mungkin niat meminjam, lalu jika teman-teman
alumni akibat kesibukan masing-masing kurang control, tidak menutup kemungkinan
akan terjadi penggelapan. Yang ujungnya malah merusak ukhuwah diantara
teman-teman alumni.
Hehe.
Kesannya su’udzon ya terhadap si Anu. Tapi inilah kenyataan yang sangat
buuuaaanyaaak terjadi di masyarakat.
Untuk
itu saya tidak setuju pengadaan iuran uang kas dalam grup alumni ini, (perlu ditekankan pada kalimat 'grup alumni ini') karena saya tidak mau memfasilitasi teman saya suatu saat
terjebak dalam fitnah dunia.

2 komentar:
Betul sekali
Saya juga sependapat kalau peruntukan uang kas bisa jadi sumber fitnah. Lebih baik saat ada penggalangan dana diinfokan saja, yang bersedia silakan, juga laporan peruntukkannya jadi jelas:)
Post a Comment