Bapak
saya 100% berdarah Makassar, ibu berdarah Madura -Buton. Darah-darah para
petualang yang gigih.Cerita kegigihan mereka sejak muda sudah kudengar sejak
aku kanak-kanak.
Dikisahkan
bahwa Bapak saya sejak kecil hijrah beserta Pamannya ke Jambi. Lalu membantu pamannya
berjualan kopra ke berbagai kota di Sumatera juga Kalimantan. Saat ditugaskan
ke kota Tanjung Balai Karimun – Riau, Bapak bertemu dan jatuh cinta pada gadis
yang sedang latihan baris berbaris sebagai calon petugas Bea Cukai.
Ibu saya bisa berada di Riau, ya karena sebagai anak AL harus
rela mengikuti kemanapun kakek ditugaskan. Saat konfrontasi Indonesia –
Malaysia di tahun 1960-an, Kakek yang awalnya bermarkas di seputaran Tanjung
Priok, lalu dipindahkan ke Riau. Di sinilah Ibu dan Bapak menikah hingga
lahirlah kakak sebagai anak sulung mereka.
Sedangkan Kakek adalah Pelaut Buton yang tentu sebagai pelaut
selalu mengembara ke berbagai pelabuhan. Hingga suatu hari, Beliau mendarat di
Pelabuhan Tanjung Perak, lalu saat berjalan-jalan di Kota Surabaya, bertemu dan
jatuh cinta dengan seorang Perantau asal Madura.
Kisah di atas cuma prolog yang menjelaskan asal muasal keluarga
saya adalah terdiri dari berbagai suku yang dikenal sebagai perantau. Saya ceritakan
kisah romantis biar ada yang mau baca aja sih. Hehe.
Padahal paragraf dibawah berikut bukan itu yang mau saya bahas.
Tetapi saya sedang ingin nyinyir aja.
Nyinyir tentang apa?
Nyinyir tentang apa?
Cekidot ya...
Masih tentang perantau.
Tetangga saya saat kecil terbanyak dari tiga suku tertentu yang
terkenal sebagai suku perantau. Saya ingat satu rumah kontakan petak tiga,
ukuran lebar 3 meter, panjang 10 meter, bisa diisi oleh 10 orang. Biasanya
awalnya hanya 2-3 orang mengisi rumah kontakan tersebut. Lalu beberapa bulan
kemudian datanglah kerabat-kerabat mereka untuk tinggal disitu juga. Mereka
kebanyakan berprofesi sebagai pedagang.
Sesekali istri-istri mereka secara bergantian berkunjung. Datang
dari kampung. Dan selalu saya takjub dengan gemerlapnya perhiasan yang
dikenakan oleh para istri tersebut. Pokoknya W O W deh.
Yup, begitulah yang saya banyak dengar dan saksikan. Walau di
tempat perantauan mereka hidup dalam kondisi memprihatinkan dan seirit mungkin,
tapi mereka orang yang berada saat di kampung.
Kemampuan finansial yang menunjukkan keberhasilan mereka selama
di perantauan akan ditunjukkan oleh tampilan keren abis.
Bagi para perempuan, baju yang dipakai berbahan silk mengkilap,
model desain terbaru, warna ter-ngejreng.
Kulit hitam terpapar matahari karena tiap hari keliling jualan door to door, ngga masalah dipakaikan
baju warna merah membara, jilbab kuning, tas tangan dan ikat pinggang hijau
daun pisang. Ditambah gelang kaki sebesar jempol, dua lusin gelang keroncong di
pergelangan tangan kiri-kanan, dan 10 buah cincin. Mengendarai motor sport atau
mobil merek terbaru serta menenteng ponsel tercanggih.
Hal ini bisa terjadi karena didukung kebiasaan penerimaan
keluarga besar di kampung. Misalnya, kalau berani datang ke acara keluarga
besar tanpa perhiasan berkilo-kilo gram menempel di bagian tubuh perempuan, dan
penampilan mewah bling-bling, siap-siap aja diberi tatapan miris.
Seperti yang saya alami sendiri saat pulang kampung dengan untukmenghadiri pernikahan salah seorang anak kerabat.
Selain dua iris cincin belah rotan dari Platina, saya tidak
punya segram-pun PERHIASAN emas. Melihat kepolosan saya datang ke kondangan
seperti itu, saya ditegur oleh salah satu datuk, "Kasihan sekali kau mi.
Ada kudengar usaha ko sedang bangkrut, Nak. E tapi jangan ko datang seperti
ini. Puang Aji mau menangis ini. Belilah ko emas-emas itu di pasar mi."
Wuiiih, saya seneng banget mendengar saran dari sesepuh ini.
Wuiiih, saya seneng banget mendengar saran dari sesepuh ini.
Walau kejadian bangkrut itu sudah tahunan berlalu, dan Alhamdulillah sekarang kami lebih lumayan, tapi ya ngga nolak kalau dikasih uang buat beli emas. Toh Datuk saya ini punya hektaran kebon kelapa dan kebon jeruk di kampungnya. Dibelikan 5 gram emas kan sudah lumayan tuh.
"E itu gelang-gelang macam punya Eda di pasar paling 25.000
ribu sepasang. Beli ko itu." Lanjutnya.
Jiaaah, saya disuruh beli "emas" palsu.
Jiaaah, saya disuruh beli "emas" palsu.
![]() |
| Ilustrasi salah satu TKI yang memakai uang sumbangan masyarakat untuk membeli perhiasan |
Sebenarnya bukan ngga bisa membeli dua-tiga gram emas. Tapi saya
selalu risih mengenakannya. Saya pernah memakai gelang emas tahunan lalu. Yang
ada tangan saya tidak bisa bergerak karena saya berusaha sedapat mungkin
menyembunyikan gelang itu ke dalam lengan baju saya.
Saya risih, terutama jika gara-gara memakai perhiasan, teman berbicara saya bolak-balik melirik perhiasan tersebut. Dan jauh lebih risih lagi, jika teman yang saya ajak bicara adalah orang yang sedang kesusahan. Saya langsung malu padanya. Saya merasa tidak punya nurani, saat mendengar teman bicara tentang kesulitannya, sementara pergelangan saya bling-bling. Saya langsung merasa perhiasan itu seolah mengejek kemalangan teman saya.
Dan karena tidak pernah nyaman dengan memakai perhiasan maka
saya tidak pernah lagi mau membeli perhiasan. Untuk investasi, saya memilih
porto folio investasi lainnya saja. Misalnya investasi " membangun rumah
di surga" (Aamiiin... ya Allah...semoga kita dipantaskan jadi salah satu
penghuninya).
Dalam hal memiliki perhiasan, memang saya ini ngga mirip
sebagian keluarga besar saya.
Toh saya di kota Jakarta saya tidak lagi merasa sebagai
perantau. Karena saya lahir, besar, sekolah, menikah hingga memiliki anak, ya
di kota ini.

0 komentar:
Post a Comment