Kejadian ini mungkin musibah yang membawa berkah bagi kami. Karena kami bisa memetik pelajaran berharga untuk dicontoh oleh anak-anak kami.
Hari Minggu kemarin (Tgl. 9 Juli 2017) kami diundang oleh keluarga kakak ipar untuk memancing di sebuah kolam
pemancingan di daerah Subang. Haha...jauh banget ya buat memancing beberapa
ekor ikan mas aja harus menempuh jaraknya ratusan kilometer dari Karawci. Tapi demi alasan silaturahmi sambil refreshing, maka kami berangkat juga.
Singkat cerita, saat kami hampir masuk lokasi yang ada di sebelah kanan jalan,
suami yang menyetir mobil sudah menyalakan lampu sein kanan, sudah berhenti sejenak untuk menunggu mobil dari
arah berlawanan lewat, lalu maju perlahan. Tiba-tiba, brak! Kaca spion sebelah kanan ditabrak
bahu seorang Pemotor. Motor itu oleng lalu terjatuh di trotoar.
Alhamdulillah, Allah menjaga Bapak pengemudi motor dan
penumpangnya. Mereka jatuh di atas pasir yang sedang menumpuk di trotoar.
Mereka hanya lecet-lecet sedikit di lutut, siku dan jari kaki. Kakak Ipar yang seorang dokter, sudah memeriksa kepala, bahu, kaki dan tangan Pengemudi dan Penumpangnya . Alhamdulillah tidak benjol, tidak ada memar dan tidak ada tulang yang patah. Pokoknya aman, Insya Allah.
Yang jadi konsen kami kemudian adalah cerita si Bapak dan Penumpangnya.
Mereka adalah kakek dan cucunya yang yatim piatu. Si Kakek
berusia hampir 80 tahun. Ia masih sanggup mengendarai motor dari SUBANG ke TASIKMALAYA (belakangan
saya cek di google map jaraknya yg harus mereka tempuh pp sekitar 300 km
lebih!!) untuk mengantar si cucu ke pesantren.
Kata si Kakek, mereka harus bermotor sekitar 5 jam sekali perjalanan.
Saya, suami dan beberapa orang dari sebuah klub mobil kuno (yang
kebetulan ada acara di situ juga) yang membantu si Kakek dan cucunya saat
jatuh, jadi takjub.
"Kakek sudah tua begini, kuat naik motor sejauh itu? Ngga ada
anaknya yang muda yang menggantikan? Orang tua anaknya kemana?" Demikian pertanyaan kami.
Dari interview, jadi tahulah kami kalau si Kakek dan istrinya yang mengurus si Anak
yang masih kelas 2 SMP di sebuah pesantren di Tasikmalaya sana.
Untuk pergi mengantar anak tersebut si kakek hanya berbekal uang 100ribu,
dan si anak sama sekali ngga ada uang buat sangu selama ditinggal di pesantren
hingga 6 bulan ke depan.Tanpa snack atau lauk tambahan (seperti halnya jika saya mengantar anak-anak kami ke boarding school-nya). Hanya dibekali peralatan mandi.
Mendengar begitu, kontan kami dan beberapa anggota klub mobil
kuno itu merogoh kantong. Menyelipkan sejumlah uang ke genggaman si kakek dan
cucunya. Entah berapa ratus ribu rezeki tambahan bagi mereka sore itu. Yang jelas saat menstater motornya sejam kemudian, wajah si Kakek
tampak berseri-seri.
Kecelakaan ini juga menjadi berkah tersendiri buat kami. Karena
jadi jalan untuk berbuat kebaikan. Sekaligus menunjukkan contoh nyata ke hadapan anak-anak yang ikut "nonton" kejadian ini. Bahwa ada orang-orang yang kurang
beruntung, tapi berjuang sangat keras demi kehidupan masa depan yang lebih
baik.

0 komentar:
Post a Comment