Di “kampung” dulu, ketika kanak-kanak, saya
berteman akrab dengan empat orang teman sekelas. Rumah kami berdekatan di dusun yang sama. Setiap hari kami
berangkat dan pulang sekolah berjalan kaki beramai-ramai. Jarak 1 kilometer
terasa dekat karena kami berjalan sambil bersenda gurau. Sore hari kami pun berbarengan
mengaji di mushala. Jika sedang tidak ada jadwal mengaji kami bermain di sawah
mencari buah ciplukan. Atau ikut
memanen tebu secara illegal. Hehe…
Lalu perjalanan nasib membuat kami tinggal
berjauhan. Berbelas tahun kami putus kontak.
Namun dengan semakin majunya era sosial media,
kami bisa terhubung lagi dengan sangat mudah. Ada Facebook dan Whatsapp sebagai sarana kami menyambung
siaturahim. Awalnya kami intens berbagi cerita kembali, lalu kemudian satu
persatu mereka menjauhi saya secara perlahan.
Pagi ini saya kembali merasa baper dengan postingan salah
satu sahabat saya tersebut. Ia mem-post beberapa foto keempat sahabat tersebut
sedang berwisata di suatu tempat. Sebelumnya melalui FB juga, saya tahu mereka pernah
reuni dan sekedar hangout, tanpa
pernah mengajak saya. Padahal mereka tahu saya aktif di Facebook, tentu mereka
tidak akan kesulitan jika mau menghubungi saya.
Postingan
foto salah satu sahabat itu hari ini, dengan menambahkan tag akun FB ketiga teman lainnya. Yang kemudian saat saya klik satu
persatu, karena lama tidak mendengar kabar mereka. Oalah, ternyata mereka sudah tidak ‘berteman’ dengan akun saya.
Jadi saya sudah di-unfriend oleh
mereka.
Tentu saya jadi bertanya-tanya, kenapa sih mereka
segitunya?
Kemudian saya ingat bahasan
percakapan kami suatu hari beberapa waktu lalu. Kami membahas tentang kelompok pengajian. Untuk menegaskan, mereka
sampai perlu bolak-balik menanyakan apakah saya masih mengaji? Tentu saja. Bagaimana nasib bacaan Al Qur’an saya
jka saya tidak pernah mengaji lagi? Bagaimana penuntun hidup saya jika saya
tidak pernah mengkaji hadist-hadist lagi, sebagai tempat saya mencontoh perilaku
Rasulullah?
Nampaknya disitulah awalnya. Saya dianggap tidak sealiran
dengan mereka. Sehingga mereka tidak bisa lagi berteman dengan saya.
Betapa menyedihkan bukan?
Saya menjadi minoritas
di kalangan sahabat-sahabat saya sendiri. Karena saya bukan segolongan aliran. Saya bukan teman seagama, meskipun kami sama-sama Islam. Agama saya dianggap berbeda,
padahal ya saya bernabi Rasulullah Muhammad S.A.W dan bertuhan Allah SWT.
Tegasnya, saya dianggap kafir.
Astaghfirullah!!!
Begitu eksklusifnya kalangan pengajian ini, sehingga
untuk penyaluran sedekah dan infak pun tidak boleh ke luar kalangan mereka. Saya
beberapa kali membagikan broadcast
message berisi ajakan bersedekah melalui SEDEKAH OKSIGEN, tetapi mereka selalu merespon dengan jawaban yang
mirip : “Sedekah dan infak sudah disalurkan ke pengajian”.
Suatu saat saya bertanya, bagaimana jika ada
teman yang di luar pengajian yang butuh bantuan. Mereka menjawab normatif,
sih. Tetapi tetap saja ajakan bersedekah saya tidak pernah mendapat respon
positip.
Dengan postingan foto-foto salah satu sahabat
tersebut (oya, saya masih menganggapnya sebagai sahabat) makin menegaskan bahwa
posisi saya sudah berada diluar mereka.
Duhai, sedihnya.

0 komentar:
Post a Comment