Subuh
tadi saya mendapat telepon dari suami salah seorang sahabat, ia meminta agar saya
berkunjung ke rumah mereka, karena ada suatu hal yang penting akan mereka
bicarakan. Tapi sayangnya hari ini jadwal saya penuh sampai sore, karena hari
Rabu sampai Ahad kami berencana keluar kota .
Selain itu janji-janji temu yang terlanjur saya buat sulit untuk saya batalkan
mendadak.
Setelah beberapa kali saling balas menelpon, akhirnya sahabat saya menyampaikan permasalahan mereka melalui telepon.
Mendengar
curhatnya, sebagai sahabat dan seorang ibu saya miris sekaligus ikut merasa marah dengan kejadian yang mereka alami.
Sahabat
saya sedang tertimpa musibah, yang sekaligus bisa jadi peringatan bagi kita
semua.
Salah
seorang anak perempuan teman saya ini, berumur 17 tahun, kelas 2 SMU, sakit panas
beberapa hari, semula dikira kedua orang tuanya ia menderita demam biasa,
anaknya pun ngga banyak mengeluh. Tapi setelah lebih dari seminggu demam tidak kunjung
sembuh, mereka membawa anak tersebut ke dokter. Setelah diperiksa darah
ternyata anak tersebut menderita penyakit kelamin. Sipilis, positip , gonorrhoea,
positip. Kedua orang tuanya bagai tersambar petir.
Kepada
orang tuanya, anak tersebut tidak mau mengakui perbuatannya kenapa ia bisa
sampai tertular penyakit - penyakit kotor itu. Ia melakukan aksi tutup mulut. Orang tuanya
sempat menuduh pacarnya yang menularkan penyakit tersebut. Kecurigaan mereka
menjadi-jadi ketika si Pacar ditelepon, diSMS, dan diBBM tidak mau juga kunjung
menjawab. Apalagi menemui mereka.
Akhirnya
melalui bantuan seorang psikolog terungkaplah cerita sesungguhnya, yang jauh
lebih mengenaskan.
Sambil
menangis terisak-isak sahabat saya bercerita semuanya berawal dari Instagram
dan Path. (bagi sebagian anak muda Facebook
is too old fashioned). Dari kedua jaringan sosmed ini sang anak berkenalan dengan
seorang anak muda lelaki. Sekian bulan berkenalan mereka ketemuan lalu pacaran.
Beberapa bulan pacaran mereka melakukan hubungan suami-istri, lalu entah
alasannya apa, si anak gadis diputuskan oleh pacarnya. Dalam keadaan sedih,
anak perempuan tersebut didekati teman mantan pacarnya (yang sekarang menjadi ‘pacar’nya),
dihibur dan diajak bergaul dengan kelompok tertentu. Ternyata seluruh anggota
perempuan kelompok tersebut adalah gadis yang pernah dinodai oleh pacarnya.
Dengan bujuk rayu, anak-anak gadis belasan tahun ini dijadikan “ayam online”.
Kenapa
mau, Nak?
“Kan aku sudah ngga perawan,
sekalian saja dilanjut, bisa dapat duit lagi” Kalimat ini dikatakan sendiri oleh anak sahabat saya
kepada psikolognya.
Anak
sahabat saya ini masih bersekolah seperti biasa, berpenampilan wajar layaknya
anak sekolahan, namun nyaris tiap sore ia dijemput oleh pacarnya untuk keluar
dan kembali pada pukul 10 malam. Tidak pernah lewat dari waktu tersebut.
Sahabat
saya menganggap jam keluar anaknya masih wajar, sehingga ia tidak curiga. Beberapa
kali ia memang mendapati foto-foto gadis tersebut dengan tampilan bermake-up.
Tapi anak gadis itu beralasan bahwa foto tersebut dibuat setelah iseng-iseng
mencoba peralatan make-up di rumah temannya.
Pada
psikolog, anak tersebut juga mengakui bahwa pacar barunya sebenarnya cuma sahabat yang sering mengantar dia jika
mendapat order. Saya pikir, mungkin
semacam kurir, ya.
Anak
sahabat saya tidak pernah tahu dari mana lelaki pengorderanya, karena jika
mendapat ‘job’ ia akan di WA oleh
Mbak xxx, salah satu senior di kelompoknya, ia lalu akan dijemput si ‘pacar’. Jika
telah selesai, pacarnya juga yang akan mengantar pulang. Setiap kali dapat job,
ia akan dibayar 300 ribu dari si pacar. Katanya si Pacar juga dapat uang dari
transferan seseorang yang disebutnya Mbak xxxx tadi .
Anak
sahabat saya ternyata ikut ‘gerombolan’ ini sejak kelas 1 SMU. Jadi sudah
setahun lebih ia jadi ‘ayam online’. Sedangkan
kejadian ia ‘kerjain’ oleh pacarnya adalah saat SMP kelas 3.
Sebuah
pelajaran yang sangat mahal. Tolong ambil hikmahnya saja. Jangan menghakimi
sahabat saya sebagai orang tua yang kurang begini-begitu. Karena sebagai orang
tua kita pun tidak sempurna.
Terima
kasih untuk sahabat saya dan suaminya mengizinkan saya membagikan cerita ini
agar kita, para orang tua, lebih waspada terhadap para predator-predator yang mengintai untuk memangsa anak-anak kita.
18 komentar:
Ya Allah, sedih saya membacanya Buuu, ya Allah 〒_〒
Semoga sang anak segera pulih lahir batin, aamiin
Astagfirullohaladzim, gustii, ngeri banget mba.
Semoga diberi kesembuhan dan bisa bangkit dan menjemput masa depan.
astaghfirullah...ya Allah lindungi anak2 kami..:( speechless mak
astagfirullah sedih banget mbak. :( tambahan, abg biasanya nggak mau facebookan karena orangtua mereka ada di facebook. jadi ya, memang harus ekstra ya menjaga anak remaja. :(
Serem banget yaaaa. Beratnya mendidik anak jaman sekarang.
Sedihnya,, ngeri banget ya Mba pergaulan di luar sana
aduh sakit perut saya bacanya... karena merinding... dulu ada temen saya smp kayak gini, tapi dulu bukan ayam online istilahnya ya.. lebih ke ayam sekolahan gitu... :( itu juga saya tahu, setelah teman itu berhenti sekolah...
nauzubillah, semoga kita dijauhi dari hal2 seperti ini ya..
Speechless....semoga anak -anak kita semua terhindar dari pergaulan bebas.Anak anak abis magrib harus sudah ada di rumah dan dalam pengawasan kita.Semoga orang tua dan putrinya diberi ketabahan.Aamiin
Terima kasih sudah berbagi mbak..tentunya sangat bermanfaat agar orang tua menjadi lebih waspada. Sedih dan geram rasanya membaca kenyataan yg mbak tuliskan.
Kalau boleh tahu,apakah langkah selanjutnya yg bisa ditempuh oleh keluarga sahabat mbak? Salam kenal
Astaghfirullaahalaziim...mbak, nelongso aku bacanya, mbaaak... :'(
Ya Allah, mengerikan sekali pergaulan anak2 kita sekarang ya, mbak... Aku speechless, mbak... :|
Yaa...Allah...:( sedih mak...
semoga kedua orangtuanya bisa tabah, dan semoga si anak bisa insyaf.....
speechless bu rinny, menjadikan diri saya lebih berhati2 menjaga anak pada jaman yg makin seperti ini...
Astaga, early sex education memang semakin dibutuhkan agar anak paham bahayanya Sexually Transmitted Disease.
Semoga anak-anak kita terhindar dari kejadian seperti itu... :'( Semoga ananda tersebut segera pulih kembali. Terima kasih telah diingatkan Mak.
Ya Allah.. sedih dan serem bacanya. Semoga anak itu segera sembuh dan bisa mendapat masa depan yg baik.. kasian banget.. Semoga Allah senantiasa melindungi anak2 kita, aamiin..
Tulisan penuh kejutan, mak. terkaget-kaget bacanya. Miris... Semoga si anak bisa puliih secara psikis dan fisik. aamiin.
TFS mak...
Astaghfirulloh... semoga anak2 kita selalu di lindungi oleh Alloh dari perbuatan demikian. Semoga anak sahabat mbak di ampuni oleh Alloh, di beri petunjuk jalan yg benar, dan di beri kesehatan serta masa depan yg baik.aamiin...
Post a Comment