Sunday, March 29, 2015

Waspadalah Terhadap Predator Anak

Subuh tadi saya mendapat telepon dari suami salah seorang sahabat, ia meminta agar saya berkunjung ke rumah mereka, karena ada suatu hal yang penting akan mereka bicarakan. Tapi sayangnya hari ini jadwal saya penuh sampai sore, karena hari Rabu sampai Ahad kami berencana keluar kota. Selain itu janji-janji temu yang terlanjur saya buat sulit untuk saya batalkan mendadak.

Setelah beberapa kali saling balas menelpon, akhirnya sahabat saya menyampaikan permasalahan mereka melalui telepon.

Mendengar curhatnya, sebagai sahabat dan seorang ibu saya miris sekaligus ikut merasa marah dengan kejadian yang mereka alami.

Sahabat saya sedang tertimpa musibah, yang sekaligus bisa jadi peringatan bagi kita semua.

Salah seorang anak perempuan teman saya ini, berumur 17 tahun, kelas 2 SMU, sakit panas beberapa hari, semula dikira kedua orang tuanya ia menderita demam biasa, anaknya pun ngga banyak mengeluh. Tapi setelah lebih dari seminggu demam tidak kunjung sembuh, mereka membawa anak tersebut ke dokter. Setelah diperiksa darah ternyata anak tersebut menderita penyakit kelamin. Sipilis, positip , gonorrhoea, positip. Kedua orang tuanya bagai tersambar petir.

Kepada orang tuanya, anak tersebut tidak mau mengakui perbuatannya kenapa ia bisa sampai tertular penyakit - penyakit kotor itu. Ia melakukan aksi tutup mulut. Orang tuanya sempat menuduh pacarnya yang menularkan penyakit tersebut. Kecurigaan mereka menjadi-jadi ketika si Pacar ditelepon, diSMS, dan diBBM tidak mau juga kunjung menjawab. Apalagi menemui mereka.

Akhirnya melalui bantuan seorang psikolog terungkaplah cerita sesungguhnya, yang jauh lebih mengenaskan.

Sambil menangis terisak-isak sahabat saya bercerita semuanya berawal dari Instagram dan Path. (bagi sebagian anak muda Facebook is too old fashioned). Dari kedua jaringan sosmed ini sang anak berkenalan dengan seorang anak muda lelaki. Sekian bulan berkenalan mereka ketemuan lalu pacaran. Beberapa bulan pacaran mereka melakukan hubungan suami-istri, lalu entah alasannya apa, si anak gadis diputuskan oleh pacarnya. Dalam keadaan sedih, anak perempuan tersebut didekati teman mantan pacarnya (yang sekarang menjadi ‘pacar’nya), dihibur dan diajak bergaul dengan kelompok tertentu. Ternyata seluruh anggota perempuan kelompok tersebut adalah gadis yang pernah dinodai oleh pacarnya. Dengan bujuk rayu, anak-anak gadis belasan tahun  ini dijadikan “ayam online”.

Kenapa mau, Nak?
“Kan aku sudah ngga perawan, sekalian saja dilanjut, bisa dapat duit lagi” Kalimat ini dikatakan sendiri oleh anak sahabat saya kepada psikolognya.

Anak sahabat saya ini masih bersekolah seperti biasa, berpenampilan wajar layaknya anak sekolahan, namun nyaris tiap sore ia dijemput oleh pacarnya untuk keluar dan kembali pada pukul 10 malam. Tidak pernah lewat dari waktu tersebut.
Sahabat saya menganggap jam keluar anaknya masih wajar, sehingga ia tidak curiga. Beberapa kali ia memang mendapati foto-foto gadis tersebut dengan tampilan bermake-up. Tapi anak gadis itu beralasan bahwa foto tersebut dibuat setelah iseng-iseng mencoba peralatan make-up di rumah temannya.

Pada psikolog, anak tersebut juga mengakui bahwa pacar barunya sebenarnya cuma sahabat yang sering mengantar dia jika mendapat order. Saya pikir, mungkin semacam kurir, ya.

Anak sahabat saya tidak pernah tahu dari mana lelaki pengorderanya, karena jika mendapat ‘job’ ia akan di WA oleh Mbak xxx, salah satu senior di kelompoknya, ia lalu akan dijemput si ‘pacar’. Jika telah selesai, pacarnya juga yang akan mengantar pulang. Setiap kali dapat job, ia akan dibayar 300 ribu dari si pacar. Katanya si Pacar juga dapat uang dari transferan seseorang yang disebutnya Mbak xxxx tadi .
Anak sahabat saya ternyata ikut ‘gerombolan’ ini sejak kelas 1 SMU. Jadi sudah setahun lebih ia jadi ‘ayam online’. Sedangkan kejadian ia ‘kerjain’ oleh pacarnya adalah saat SMP kelas 3.

Sebuah pelajaran yang sangat mahal. Tolong ambil hikmahnya saja. Jangan menghakimi sahabat saya sebagai orang tua yang kurang begini-begitu. Karena sebagai orang tua kita pun tidak sempurna.

Terima kasih untuk sahabat saya dan suaminya mengizinkan saya membagikan cerita ini agar kita, para orang tua, lebih waspada terhadap para predator-predator yang mengintai untuk memangsa anak-anak kita.

18 komentar:

Nufa Zee said...

Ya Allah, sedih saya membacanya Buuu, ya Allah 〒_〒

Semoga sang anak segera pulih lahir batin, aamiin

Ety Abdoel said...

Astagfirullohaladzim, gustii, ngeri banget mba.
Semoga diberi kesembuhan dan bisa bangkit dan menjemput masa depan.

Kanianingsih said...

astaghfirullah...ya Allah lindungi anak2 kami..:( speechless mak

Annisa Steviani said...

astagfirullah sedih banget mbak. :( tambahan, abg biasanya nggak mau facebookan karena orangtua mereka ada di facebook. jadi ya, memang harus ekstra ya menjaga anak remaja. :(

ika koentjoro said...

Serem banget yaaaa. Beratnya mendidik anak jaman sekarang.

Armita Fibriyanti said...

Sedihnya,, ngeri banget ya Mba pergaulan di luar sana

Dian Onasis said...

aduh sakit perut saya bacanya... karena merinding... dulu ada temen saya smp kayak gini, tapi dulu bukan ayam online istilahnya ya.. lebih ke ayam sekolahan gitu... :( itu juga saya tahu, setelah teman itu berhenti sekolah...

nauzubillah, semoga kita dijauhi dari hal2 seperti ini ya..

Nunung said...

Speechless....semoga anak -anak kita semua terhindar dari pergaulan bebas.Anak anak abis magrib harus sudah ada di rumah dan dalam pengawasan kita.Semoga orang tua dan putrinya diberi ketabahan.Aamiin

melihatdunia said...

Terima kasih sudah berbagi mbak..tentunya sangat bermanfaat agar orang tua menjadi lebih waspada. Sedih dan geram rasanya membaca kenyataan yg mbak tuliskan.

Kalau boleh tahu,apakah langkah selanjutnya yg bisa ditempuh oleh keluarga sahabat mbak? Salam kenal

Winda Krisnadefa said...

Astaghfirullaahalaziim...mbak, nelongso aku bacanya, mbaaak... :'(
Ya Allah, mengerikan sekali pergaulan anak2 kita sekarang ya, mbak... Aku speechless, mbak... :|

Fhe said...

Yaa...Allah...:( sedih mak...
semoga kedua orangtuanya bisa tabah, dan semoga si anak bisa insyaf.....

Randomlya said...
This comment has been removed by the author.
Enci harmoni said...

speechless bu rinny, menjadikan diri saya lebih berhati2 menjaga anak pada jaman yg makin seperti ini...

Unknown said...

Astaga, early sex education memang semakin dibutuhkan agar anak paham bahayanya Sexually Transmitted Disease.

Wind. said...

Semoga anak-anak kita terhindar dari kejadian seperti itu... :'( Semoga ananda tersebut segera pulih kembali. Terima kasih telah diingatkan Mak.

ofi tusiana said...

Ya Allah.. sedih dan serem bacanya. Semoga anak itu segera sembuh dan bisa mendapat masa depan yg baik.. kasian banget.. Semoga Allah senantiasa melindungi anak2 kita, aamiin..

Yanet said...

Tulisan penuh kejutan, mak. terkaget-kaget bacanya. Miris... Semoga si anak bisa puliih secara psikis dan fisik. aamiin.
TFS mak...

Unknown said...

Astaghfirulloh... semoga anak2 kita selalu di lindungi oleh Alloh dari perbuatan demikian. Semoga anak sahabat mbak di ampuni oleh Alloh, di beri petunjuk jalan yg benar, dan di beri kesehatan serta masa depan yg baik.aamiin...

Post a Comment

 
;