Jam
besar di ruang tengah berdentang sebanyak tujuh kali. Berarti masih pukul 07.00
pagi. Dan sepagi ini seluruh pekerjaan rumah tangga telah selesai kukerjakan.
Aku
telah selesai membersihkan seluruh perabot dan seluruh jendela, menyapu dan
mengepel lantai, merapikan halaman yang luasnya nyaris 300 meter, sarapan
bahkan aku telah selesai memasak untuk bekal makan siangku nanti.
Sendirian.
Lagi.
Lagi.
Aku
telah menikah dengan Kang Harso selama dua tahun. Namun selama itu belum pernah
sekalipun kami makan berdua di rumah. Entah itu saat sarapan, makan siang atau
makan malam. Kami makan bersama hanya saat di pesta
undangan. Atau ketika sesekali Ia mengajakku pelesir.
Tapi, Aku tidak bisa protes atau mengeluhkan hal ini, karena Aku sudah paham kondisi yang akan kuhadapi saat memutuskan menerima lamarannya
Kini Aku mulai merasa berat menjalani pernikahan ini.
Kian hari rasa itu kian menggerogoti hatiku.
Dan penyesalanku makin terasa berat karena Aku tidak bisa berkeluh kesah kepada siapapun. Kedua orang
tuaku sejak awal menentang pernikahan kami. Sahabatku pun sejak hari ijab kabul itu, tidak sudi
lagi menyapaku.
Memang
terlalu besar pertaruhanku untuk pernikahan ini. Kini kurasakan kebenaran
nasehat-nasehat yang dulu didengungkan oleh Ibu atau Ninih. Dan Sekarang pun kusesali
telah mengabaikan permohonan sahabatku untuk menolak pinangan Kang Harso.
Ya.
Aku
menjadi buta, dulu.
Aku
dibutakan oleh hasrat dan rasa putus-asa.
Sehingga
segala cara kulakukan agar Aku terbebas dari predikat yang memalukan : seorang perawan
tua.
Bersambung,...
-------
Fiksi
lainnya:

1 komentar:
bagus :)
mampir yuk ke stylediaryofmilkteabunda.blogspot.com :)
Post a Comment