“Sibuk gak Rin? Kapan gw bisa nelpon lu?” isi SMS
itu. Saya bingung menjawabnya karena nomor ponsel pengirim tidak tercatat dalam
memori ponsel saya. Untuk customer
yang mau membayar tagihan, saya selalu punya waktu untuk menerima teleponnya.
Tapi sebaliknya, jika yang penelpon mau menagih hutang, kayaknya saya ngga punya
waktu deh. Hehehe..
“Sori bos, ini
siapa? Nomor ponsel tidak dikenal.” balas saya.
Pengirim SMS
sudah ber “lu-gw” maka saya yakin ia
sudah cukup mengenal saya dengan baik, karena, setelah menjadi emak-emak sudah sedikit kenalan yang ber “lu-gw” dengan saya.
Ponsel saya berdendang
lagi “ I believe I can fly…I believe I
can touch the sky..” tanda ada panggilan masuk. Di layar tertera nomor pengirim SMS tadi.
“Halo..
Assalamu’alaikum, Bos. Koq ‘nelpon? ‘Kan belum tentu sekarang
waktu yang tepat. “ Tegur saya.
”Ah, banyak ngomong lu. Udah, kapan
kita bisa ketemuan?” Whooaa, galakan
dia.
Lalu kami
mengobrol. Ternyata kami berteman di SD. Selama ini kami berkomunikasi melalui
bahasa tulisan di facebook atau twitter. Baru kali ini ngobrol secara lisan.
“Lu, jualan chemical’kan? Ada proyek nih.”
Kalimatnya membuat saya semangat menemuinya hari itu juga.
Dari pertemuan
hari itu, saya tahu teman saya berprofesi sebagai makelar (Jika aktifitas sebagai penghubung ini bisa di kategorikan sebagai profesi).
”Gue
makelarin apa aja. Dari mulai properti sampai kambing akikah, asal
dapet margin (keuntungan) pasti gue cari-in”
katanya.
“Rahasianya, kudu banyak teman. Jangan cari
musuh” lanjutnya.
“Informasi bisa
didapat darimana aja, tapi biasanya
dari teman-teman. Produknya bisa dicari ke teman-teman juga. Gue lebih prefer
kerjasama dengan teman,Rin, dibanding
mencari di iklan-iklan.” Baik hati
bener, kata hati saya.
“Karena kalau
kerjasama dengan teman, lebih enak megangnya.
Meskipun ada juga sih 1-2 orang yang coba-coba by-pass.” .
Ooooo…itu tho alasannya
Jujur, saya
salut dengannya.
Saya selalu gak pe-de berbisnis produk atau jasa
yang tidak saya kuasai. Sehingga saya sering menolak peluang yang datang.
“Itu namanya lu nolak rejeki.”
“Gue takut gagal. Kan bisa malu ama customer yang udah percaya
kepada kita.” Saya mengutarakan alasan.
“Memangnya
selama jualan chemical lu ‘gak pernah
gagal?” Tanyanya.
“Yah, pernah. Namanya
juga bisnis. Tapi jarang gagal karena
produknya, karena gue kan paham kegunaan
produk yang gue jual
selain itu sebelumnya sudah uji
coba dulu.”
”Nah, makanya
untuk memperkecil kegagalan, gue
kerjasama sama orang yang mengerti di bidangnya. Kayak sama lu sekarang ini.”
“Dan tujuan
pertemuan kita ini selain gue mengajak
lu kerjasama, gue juga mau membicarakan masalah komisi buat gue.” Wajahnya langsung berseri-seri.
Sebenarnya saya
juga beberapa kali menjadi makelar, tapi produknya masih chemical juga, sehingga saya
paham benar dengan produk tersebut. Berbeda dengan teman saya yang cakupan produk
dan jasa yang di makelarinya luas sekali.
“Gue
jualan palugada. Apa lu mau, di-gue ada” Katanya.
Bagi saya
kalimat tersebut mengandung sebuah kenekatan dalam menerima tantangan. Tidak
masalah, sepanjang diiringi dengan perhitungan yang matang disamping harus
mampu berpikir dan memutuskan dalam waktu cepat,-sangat cepat. Untuk itu ,
seperti kata teman saya, ia harus mempunyai jaringan pertemanan yang luas dan
nama baik yang terjaga. Sehingga teman saya bisa dengan bangga mengatakan
“never say no” setiap mengendus sebuah peluang yang menghasilkan uang baginya.
0 komentar:
Post a Comment