Dalam berinteraksi
dengan masyarakat sekitar seringkali ada hal-hal yang menjadi ganjalan
hati namun sulit diungkapkan secara terang-terangan. Entah karena kita merasa
sungkan, malu atau karena terlalu sebal sehingga enggan untuk berurusan
lebih jauh. Namun, sebagai makhluk yang
memiliki kebutuhan untuk selalu berkomunikasi dan bersosialisasi maka tak
jarang ketidak sukaan tersebut akan kita ungkapkan kepada objek yang tidak
berhubungan dengan pelaku penyebab kesebalan
kita. (Kalau istilah saya adalah “orang yang kena getahnya” .). Atau bisa juga
ketidaksukaan tersebut kita ungkapkan dibelakang
punggung pelaku. Dalam bahasa Jawa disebut “Ngerasani”
Saya yakin
hampir semua manusia pernah ‘ngerasani,
termasuk saya sendiri. Berdasarkan pengalaman saya (hehehe...jadi malu..) ada perasaan “puas” ketika selesai
mengungkapan hal jadi yang ganjalan dihati. “Kepuasan” tersebut timbul karena kita
sudah menyalurkan emosi dan perasaan negatip lainnya. Namun, anehnya akibat ‘ngerasani
akan timbul ‘ganjelan hati’ lainnya. Karena
jauh dilubuk hati, kita tahu bahwa dalam pandangan sosial dan agama perbuatan ‘Ngerasani’
adalah tidak baik.
Complicated yah. Susahnya jadi manusia.
Meskipun
kadang saya me-rasani , tak jarang
juga saya menjadi korban yang di-rasani.
Percayalah, sangat tidak enak. Saya menjadi merasa berada jauh diseberang
pelaku rasan-rasan, meskipun bisa
jadi semenit sebelumnya saya merasa sangat dekat dengan mereka (karena pasti
percakapannya diantara 2 orang atau lebih), saya merasa jadi korban , dan
seterusnya dan seterusnya. Akibatnya, setelah tahu pernah dirasani saya akan menjauh dari orang tersebut.
Contoh
kejadiannya begini, saya pernah diundang oleh salah satu supplier untuk
menghadiri seminar tentang perkembangan teknologi terkini dibidang proses
kimia. Karena memang materi yang akan disajikan sangat berhubungan dengan
bidang usaha , maka dengan semangat 45 saya menghadiri acara tersebut. Selesai
acara seminar sesi I, karena masih sangat penasaran dengan materi yang
disampaikan, maka saya mengajak pemateri untuk berdiskusi lebih lanjut ,apalagi
pemateri adalah orang yang cukup mumpuni dibidangnya. Ditengah diskusi, salah
satu panitia memotong percakapan kami dan mempersilahkan kami masuk ke ruang
lain dikarena acara akan dilanjutkan presentasi produk. Ketika saya akan masuk
ke ruangan acara tiba-tiba saya mendengar percakapan bisik-bisik yang intinya
meragukan kemampuan perusahaan kami menghandle
kecanggihan produk tersebut.
Meskipun saya
tetap mengikuti seminar sampai akhir (alasannya karena saya merasa sayang,
sudah datang jauh-jauh tidak dapat tambahan ilmu dan apalagi kelihatannya menu
makan siangnya enak dan gratis) namun
ada tekad didalam hati kami tidak akan memakai produk perusahaan tersebut,
termasuk untuk produk lain yang sudah kami order rutin sebelumnya. Toh,
kompetitor mereka pasti ada.
Saya marah?
Ya, karena
meskipun mungkin benar penilaian si pelaku rasan-rasan
bahwa teknologi tersebut adalah mahal buat kami, tapi yang membuat saya marah
adalah ia menyampaikannya dibelakang
punggung kami. Yang terluka adalah harga
diri . Seandainya ia secara terbuka menyatakan harga sekian juta rupiah,
maka mungkin yang akan meyatakan bahwa harga tersebut mahal dan kami tidak
sanggup dengan level harga tersebut adalah kami sendiri. Selesai. Tidak ada
sakit hati. Dan bisnis diantara kami akan berjalan seperti biasa.

0 komentar:
Post a Comment