-----------------------------------
Hari Sabtu tanggal 28 Juli 2012 kemarin saya
melakukan manasik . Diantara peserta manasik ada seorang Bapak yang
terlihat “menonjol” karena ia sering sekali menyela pembicaraan dan
penjelasan dari Ustadz Pembimbing.
” Saya baca di sebuah website ,Sunahnya jika pertama kali melihat Ka’bah membaca do’a begini…” lalu iapun membaca do’a dengan fasihnya, menyela pembicaraa Ustadz ketika menjelaskan apa yang sebaiknya dilakukan ketika baru tiba di Mekkah. Atau,
” Saya baca di sebuah website ,Sunahnya jika pertama kali melihat Ka’bah membaca do’a begini…” lalu iapun membaca do’a dengan fasihnya, menyela pembicaraa Ustadz ketika menjelaskan apa yang sebaiknya dilakukan ketika baru tiba di Mekkah. Atau,
“Cara memakai baju ihram begini, saya
lihat contohnya di You Tube” Bapak tersebut lalu mencontohkan cara
memakai baju Ihram dengan benar.
Apa yang dilakukan Bapak tersebut adalah
contoh dari memanfaatkan kecanggihan teknologi dan kemudahan mendapat
dan mempelajari ilmu apapun, yang ingin kita ketahui, dari internet.
Jujur, saya pun sering melakukan hal yang sama. Mencari informasi dengan
cara googling, atau bila membutuhkan peragaan visual saya akan mencari di You Tube.
Namun, jika menyangkut ilmu agama, mendapat pengetahuan hadist atau tata cara ibadah lewat hasil googling
ada faktor risiko. Apabila website yang menyajikan informasi yang kita
butuhkan adalah website yang “menghalalkan” bid’ah, kurofat bahkan tidak
sedikit ada website-website yang berisi ilmu syirik yang dibalut
informasi keagamaan. Contoh do’a-do’a memohon kekayaan dan pengasih
yang ditambahi permintaan terhadap khodam dsb.
Era Informasi tidak bisa kita bendung, malah sebaiknya kita ikut
berenang didalamnya. Namun, agar selamat mengarungi lautan kehidupan
ini, alangkah bijak jika kita memilih guru berenang yang mumpuni. Yang
jelas memahami do and don’t -nya ilmu tersebut.
Sekalipun segala macam informasi keagamaan sudah tersedia di dunia maya.
Tetaplah belajar pada guru-guru didunia nyata. Karena amalan yang kita
lakukan harus jelas hukum, tata cara atau hadis harus jelas sanadnya,
agar tidak tertolak dan menjadi amalan yang sia-sia bahkan bisa jadi
malah mendatangkan dosa.
Yuk, tetap rajin datangi Taklim.
Salam,
Rinny

0 komentar:
Post a Comment