Ini cerita di bulan Maret lalu ketika saya
mengunjungi Kairo sebagai utusan dari Komunitas Pengusaha Muslim Indonesia
(KPMI) untuk mengikuti ajang pameran di "Cairo International
Fair" . Saya berangkat bersama suami (yang mewakili perusahaan kami
sendiri) dan Safira, anak bungsu kami yang masih berusia 1 tahun.
Alhamdulillah, sebelum dan selama acara
berlangsung kami mendapat banyak bantuan dari para staf KBRI di Kairo dan dari
rekan-rekan pengurus dan anggota KPMI cabang Mesir.
Hari ketujuh pameran kondisi anak saya agak drop,
sejak malam badannya mulai panas, sehingga hari itu saya memutuskan tidak
ikut menjaga stand pameran. Namun sayangnya dihari yang sama suami dan
Mas Amran (Ketua "panitia" kami) juga harus ke Sabuga untuk
mengunjungi salah satu calon buyer , teman petugas pameran lainnya pun
nampaknya masih tepar kelelahan, dikarenakan sejak hari pertama, setelah
tutup pameran kami masih melanjutkan diskusi tentang berbagai hal hingga lewat tengah malam.
Melihat stand kami masih tutup, petugas KBRI-pun menelpon. Protes. Mendapat teguran tersebut maka saya segera siap-siap berangkat ke lokasi pameran. Dengan
membungkus rapat anak saya yang sedang demam, di tengah dinginnya udara awal
musim semi Kairo, saya keluar apartemen mencari-cari taxks. Dan...kecemasan
sayapun terbukti.
Saat menutup telepon dari petugas KBRI , saya
sudah cemas. Bagaimana cara saya mencapai lokasi pameran? Nama jalannya pun
saya tidak tahu. Ditambah cerita teman-teman peserta pameran lain, bahwa sopir
taksi di Kairo sangat jarang yang menguasai bahasa Inggris. Meskipun saya coba
berkomunikasi dengan bahasa Inggris paling sederhana sekalipun.
"Do you know Cairo International Fair ? I will go
there." atau,
"I will go to exhibition hall, do you
know the place?” seluruh sopir dari 8 taxi yang saya berhentikan menggelengkan
kepala, lantas langsung cabut dengan cueknya. Meninggalkan saya
yang terbengong-bengong dipinggir jalan. Deg-degan dan suhu udara yang 10
derajat celcius membuatsaya kian gemetaran.
Saya berpikir keras mencoba
mengingat-ingat apa yang Mas Amran katakan kepada sopir taxi ketika menunjukkan
lokasi pameran. Namun sayangnya tidak ada kalimat yang saya ingat. Hanya ada
dua kata yang saya ingat " Ma'rod" dan "Ala-tuul". Maklum,
bahasa Arab saya minus.
Ok , saya coba menggunakan kata tersebut.
Ok , saya coba menggunakan kata tersebut.
Sayapun memberhentikan taxi berikutnya.”Assalamu’alaikum,
Do you know Ma’rod? “ Tanya saya
harap-harap cemas. Si Sopirpun mengangguk. Alhamdulillah. Saya buru-buru masuk
ke dalam taxi.
Ketika, sudah sampai di sekitar lokasi pameran
(Kurang lebih seluar Gelora Bung Karno – Jakarta)
si sopir mengatakan sesuatu yang saya tafsirkan menanyakan saya akan turun
dimana.
”Ala tuul.” Saya bilang. Tapi si Sopir menggeleng keras.
”Ala tuul.” Saya bilang. Tapi si Sopir menggeleng keras.
”La!! La!! La ala tuul!!” katanya sambil menunjuk
ke depan. Ada
tank-tank tentara didepan. Disepanjang pagar area pameran . Waktu itu sedang
persiapan pemilihan presiden Mesir.
Sayapun gak yakin jadinya dengan kata Ala tuul ini. “ Left. Left.” Sayapun menunjuk ke arah kiri.
Si sopir ‘ngomel-ngomel . Lalu,
Syuuuttt…ia tiba-tiba membelokkan setirnya kekiri. Ketika saya tanya Mas Amran arti
kata‘ala tuul ini adalah jalan lurus. Hehehe…yah iyalah gak mungkin jalan lurus,
emangnya mau nabrak tank-tank tentara itu. Pantas saja Pak Sopir ngomel-ngomel.
Lalu Pak Sopir kembali mengatakan sesuatu, sambil
menunjuk deretan pintu masuk ke arena pameran. Saya ingat Mas Amran pernah
bilang pintu masuk terdekat dari stand kami adalah Pintu Tujuh. Nah loh ,bagaimana
cara menjelaskan Pintu Tujuh dalam
bahasa Arab ke Pak Sopir, karena saya berkali-kali mengatakan “Gate Number Seven”
dia ngga mengerti juga.
Saya ingat Pintu
dalam bahasa Arab itu Baab. Lah, Kalau Tujuh itu apa yah? Saya pun mengulang
lagi hapalan lagu belajar angka dalam bahasa Arab yang diajarkan di TK anak
saya.
Wahidun
Satu
Isnaini
dua
Salasatun
tiga
Arba’atun
empat
Tapi Pak Sopir sudah tidak sabar, karena mobil
terus melaju hamper sampai keujung arena.
”Baab Seven, stop. Ok?” Mudah-mudahan dia mengerti.
”Baab Seven, stop. Ok?” Mudah-mudahan dia mengerti.
“Seven? Ok!” Katanya.
Dan sampailah saya di arena pameran dengan
selamat . Alhamdulillah
Wasalam,
Rinny

0 komentar:
Post a Comment