Sebagian
hari kemarin adalah hari galau bagi saya. Saya maju-mundur-maju -mundur syantik
ragu-ragu menghubungi seseorang untuk
menjadi narasumber. Meskipun pada akhirnya saya telepon narasumber tersebut menjelang
malam. Hadeugh, kegalauan saya karena person
yang harus saya hubungi ini bukan orang biasa.
Lalu saya
juga ditelepon salah seorang teman seperjalanan saat touring tahun lalu. Dia menelpon gara-gara (telat) membaca status
saya tentang Ahmad Dhani di Facebook yang saya posting beberapa hari lalu.
“Mbak
menulis Ahmad Dhani ngga waras pasti
karena hubungannya dengan Mulan Jamila kan?”Katanya
“Mulan
Jamila hanya salah satu faktor. Faktor terbesar karena dia kegedean Ego” Jawab
saya.
“Tapi saya membaca banyak banget orang yang menghujat Mulan Jamila semenjak Ahmad Dhani pisah dengan Maia. Mulan dianggap sebagai penyebabnya. Padahal kan belum tentu begitu, Mbak." Katanya
"Memang menjadi orang ketiga tuh ngga enak, Mbak. Orang-orang ngga mau tahu, pokoknya jadi perempuan lain dianggapnya nista, aja. Perusak kebahagian rumah tangga.” Atikah (saya sebut aja begitu, deh) mulai curhat. “Mbak kan dari tahun lalu janji mau menulis cerita saya. Sudah jadi?”
“Tapi saya membaca banyak banget orang yang menghujat Mulan Jamila semenjak Ahmad Dhani pisah dengan Maia. Mulan dianggap sebagai penyebabnya. Padahal kan belum tentu begitu, Mbak." Katanya
"Memang menjadi orang ketiga tuh ngga enak, Mbak. Orang-orang ngga mau tahu, pokoknya jadi perempuan lain dianggapnya nista, aja. Perusak kebahagian rumah tangga.” Atikah (saya sebut aja begitu, deh) mulai curhat. “Mbak kan dari tahun lalu janji mau menulis cerita saya. Sudah jadi?”
Saya tiba-tiba
teringat tulisan cerber- cerber saya yang terbengkalai.
“Sudah
mulai ditulis sih, Tik” Jawab saya. “Saya publish
tuh di blog saya”
(Saya tulis disini dan disini)
(Saya tulis disini dan disini)
“Please, Tulis aja semua yang saya ceritakan ke Mbak. Kadang-kadang saya pingin deh ‘nyulik Mbak lagi supaya saya bisa menumpahkan unek-unek.”
“Boleh. Kapan saya mau diculik? Kita ke Maroko lagi?” Tantang saya sambal tertawa.
“Waktu
kita di Maroko, saya jadi orang yang egois ya, Mbak. Saya ngomong terus. Cerita
terus. Mbak Rinny cuma ngangguk-angguk.
Hehe” Katanya.
“Ngga apa-apa. Kan saya mendengarkan Tika lagi curhat.” Jawab saya.
“Saya menyesal juga percuma, ya, Mbak. Sudah terjadi. Tapi beneran deh, menjadi perempuan kedua tuh ngga enak. Padahal saya punya penghasilan sendiri. Punya gaji sendiri. Tapi setiap saya beli barang baru pasti disangka meminta ke suami. Padahal mestinya saya ngga minta, kewajiban suami kan Mbak, untuk menafkahi saya?” Tika mulai curhat lagi.
“Iya” Jawab saya
“Tiap hari saya seperti menghadapi sekumpulan konspirasi musuh, Mbak” Lanjutnya.
“Ngga apa-apa. Kan saya mendengarkan Tika lagi curhat.” Jawab saya.
“Saya menyesal juga percuma, ya, Mbak. Sudah terjadi. Tapi beneran deh, menjadi perempuan kedua tuh ngga enak. Padahal saya punya penghasilan sendiri. Punya gaji sendiri. Tapi setiap saya beli barang baru pasti disangka meminta ke suami. Padahal mestinya saya ngga minta, kewajiban suami kan Mbak, untuk menafkahi saya?” Tika mulai curhat lagi.
“Iya” Jawab saya
“Tiap hari saya seperti menghadapi sekumpulan konspirasi musuh, Mbak” Lanjutnya.
“Ah. Tika
ngga boleh berlebihan begitu dong.”
“Mungkin, Mbak. Tapi perasaan saya ya begitu itu” Jawabnya “Seperti yang saya ceritakan ke Mbak dulu, saya ngga mau harta suami saya. Saya cuma pingin diterima di keluarga besar suami. Saya kan sudah terlanjur jadi istri kedua. Suami juga kan butuh saya, koq.”
“Saran saya masih sama seperti tahun lalu, Tik. Kalau Tika mau mempertahankan perkawinan, ya, Tika harus bisa berdamai dengan keadaan. Tika yang harus legowo. Kita kan ngga bisa memaksa bagaimana orang bersikap terhadap kita”. Kata saya.
“Iya, Mbak. Tapi legowo itu melelahkan. Bathin saya sakit terus.”
“Jiaaah, kalau bathin kamu masih sakit, itu berarti belum sepenuhnya legowo.” Kata saya “Saat Mas Harso melamar, kan kamu tahu ia sudah beristri. Tapi kamu mau menerima.”
“Iya, Mbak. Tapi ngga nyangka akan sakit begini, hati saya. Setiap hari.”Keluhnya.
“Tika, Mbak kan juga udah pernah bilang, deh. Membaca Al Qur’an itu menenangkan hati. Al Qur’an itu menyembuhkan penyakit hati.” Kata saya “Jadi saat hati gelisah, sakit, tidak nyaman, bacalah Al Qur’an. Dan lebih baik lagi sambil belajar memahami maknanya.”
“Iya, Mbak.”
“Ya sudah, sekarang Tika ambil wudhu, terus baca Al Qur’an. Besok insya Allah, Mbak lanjutin menulis cerita Tika di blog. Kalau ada hal-hal yang meragukan, boleh ya saya menelpon Tika?”
“Boleh, Mbak. Terima kasih ya sudah mendengarkan cerita saya. Assalamu’alaikum,Mbak”
“Wa’alaikumsalam, Tika”
Tahukah kau, Tika, setiap selesai mendengar curhatmu, sebagian kegalauanmu jadi berpindah ke aku. Mungkin berbeda dengan orang-orang profesional di bidang ini (apa?), saya selalu membayangkan 'jika saya adalah kamu' supaya saya bisa memahamimu.
Ah. Saya butuh membaca Al Qur'an saat ini.
Semoga Allah memberikan ketentuan dan takdir terbaik bagimu, sahabatku Atikah.
(Kisah Atikah ini akan saya tulis pada Postingan berbeda, dalam bentuk fiksi, tentunya. Biar kalau ada yang meng-sue saya bisa ngeles : Yeee itu kan cerita fiksi...hehehe)
“Mungkin, Mbak. Tapi perasaan saya ya begitu itu” Jawabnya “Seperti yang saya ceritakan ke Mbak dulu, saya ngga mau harta suami saya. Saya cuma pingin diterima di keluarga besar suami. Saya kan sudah terlanjur jadi istri kedua. Suami juga kan butuh saya, koq.”
“Saran saya masih sama seperti tahun lalu, Tik. Kalau Tika mau mempertahankan perkawinan, ya, Tika harus bisa berdamai dengan keadaan. Tika yang harus legowo. Kita kan ngga bisa memaksa bagaimana orang bersikap terhadap kita”. Kata saya.
“Iya, Mbak. Tapi legowo itu melelahkan. Bathin saya sakit terus.”
“Jiaaah, kalau bathin kamu masih sakit, itu berarti belum sepenuhnya legowo.” Kata saya “Saat Mas Harso melamar, kan kamu tahu ia sudah beristri. Tapi kamu mau menerima.”
“Iya, Mbak. Tapi ngga nyangka akan sakit begini, hati saya. Setiap hari.”Keluhnya.
“Tika, Mbak kan juga udah pernah bilang, deh. Membaca Al Qur’an itu menenangkan hati. Al Qur’an itu menyembuhkan penyakit hati.” Kata saya “Jadi saat hati gelisah, sakit, tidak nyaman, bacalah Al Qur’an. Dan lebih baik lagi sambil belajar memahami maknanya.”
“Iya, Mbak.”
“Ya sudah, sekarang Tika ambil wudhu, terus baca Al Qur’an. Besok insya Allah, Mbak lanjutin menulis cerita Tika di blog. Kalau ada hal-hal yang meragukan, boleh ya saya menelpon Tika?”
“Boleh, Mbak. Terima kasih ya sudah mendengarkan cerita saya. Assalamu’alaikum,Mbak”
“Wa’alaikumsalam, Tika”
Tahukah kau, Tika, setiap selesai mendengar curhatmu, sebagian kegalauanmu jadi berpindah ke aku. Mungkin berbeda dengan orang-orang profesional di bidang ini (apa?), saya selalu membayangkan 'jika saya adalah kamu' supaya saya bisa memahamimu.
Ah. Saya butuh membaca Al Qur'an saat ini.
Semoga Allah memberikan ketentuan dan takdir terbaik bagimu, sahabatku Atikah.
(Kisah Atikah ini akan saya tulis pada Postingan berbeda, dalam bentuk fiksi, tentunya. Biar kalau ada yang meng-sue saya bisa ngeles : Yeee itu kan cerita fiksi...hehehe)
Fiksi lainnya:
2 komentar:
good post mbak
Keren Ka..
Post a Comment