Pernah ngga
sih mengalami satu fase kehidupan, dimana saat
itu koq ya rasanya dari pagi ke malam, dari Senin ke Senin, hati selalu
rungsing. Kesal, marah, kecewa, sedih bercampur aduk?
Alhamdulillah,
sampai tulisan ini dibuat, selama 40
tahun sekian (sekiannya rahasia. Haha, padahal banyak juga yang sudah tahu)
sudah saya hidup, saya pernah mengalami belum lebih dari 3 kali. Seingat saya.
Mungkin lebih banyak. Tapi selain yang 3 kali itu, yang lainnya saya sudah lupa
blassss.
3 kali dan
tidak pernah berlarut-larut hingga berbulan-bulan. Karena saya tipe orang yang
tidak tahan berlama-lama berada dalam suatu masalah. Saya selalu bergegas
menyelesaikan masalah. Prinsip saya dalam mengatasi masalah selalu : Aku akan
hadapi apapun resikonya. Resiko maksimal adalah mati. Toh suatu saat, cepat
atau lambat, akan mati juga.
Tapi ada loh
orang yang tahan berbulan-bulan, bahkan bertahan-tahun, berada dalam kondisi
tidak nyaman secara psikologisnya karena mendiamkan sebuah masalah.
Seperti
halnya seorang teman yang beberapa hari lalu menemui saya untuk curhat panjang
lebar.
Padahal jauh
sebelumnya, saya dan seorang sahabat lain telah mencoba mengingatkan. Namun
setiap diingatkan untuk menyelesaikan masalahnya, jawabnya selalu; “Biarin
ajalah. Nanti juga selesai sendiri”.
Sampai
kapan?.
Dia pun
tidak tahu akan sampai kapan masalah tersebut akan terus ada.
Lalu,
masalah tersebut kini telah berkerak.
Pembiaran
yang begitu lama menyebabkan masalah terus membelit dan membelit dirinya.
Ibarat seutas benang, maka benang itu semakin kusut.
Lalu ia pun
menemui kami meminta bantuan untuk mengatasi masalahnya.
Masalah yang
sudah demikian lama tentu perlu treatment tertentu. Seperti halnya upaya dalam
meluruskan benang kusut, diperlukan kesabaran, ketabahan dan kesadaran
melepaskan ego. Sehingga, jika di satu titik ternyata harus menggunting benang
yang sudah benar-benar tidak lagi bisa terurai, usahakan benang yg akan
digunting itu adalah di ujung terjauh. Karena mungkin memang pokok permasalahan
itu ada di situ.
Ada di awal.
Komunikasi
diantara pihak yang terlibat permasalahan tersebut juga perlu dibuka jalurnya.
Karena tidak jarang masalah timbul karena miskomunikasi. Jika terjadi
miskomunikasi, sekali lagi lepaskan EGO.
Miskomunikasi terjadi biasanya karena masing-masing pihak merasa dirinya
benar. Tapi TITIK BENAR diantara keduanya tidak saling bertemu pada titik yang
sama.
Satu hal
lagi yang terpenting, jika merasa hidup selalu menghadapi masalah berat,
masalah berat, masalah berat, maka segeralah bertaubat kepada Allah dan temui
orangtua. Termasuk mertua. (Karena
mertua ya orang tua kita . Titik tanpa ’juga’) Bersimpuh mohon maaf dan minta
ridhonya. Mungkin ada kesalahan -entah kapan dulu- yang menjengkelkan hatinya.
Ridho Allah beserta ridho orang tua. Jika Allah Ridho atas hidup kita maka
masalah apapun akan terasa ringan.
0 komentar:
Post a Comment