Tangan
yang telah melemah setelah kalah terserang stroke.
Tangan
yang dulu berotot dan berwarna tembaga karena sering terpanggang Matahari. Yang
selalu bergerak nyaris tiada henti mengerjakan berbagai hal demi
bisa mendapatkan rupiah-rupiah pembayar uang sekolahku. Sepasang tangan yang
kuat, yang selalu bekerja keras agar bisa menghasilkan uang untuk membeli beras
pengusir lapar anak-anaknya.
Sepasang tangan yang bergerak tak terhadang, meski sesungguhnya pemiliknya pada saat yang sama harus menahan deraan sakit di kepalanya. Rasa sakit itu dengan tangguh diabaikannya demi menjauhkan anak-anaknya dari perihnya lapar. Sepasang tangan itu tanpa putus asa berupya menuntun anak-anaknya menjauh dari jalur kemiskinan.
Sepasang
tangan itulah yang memberi peluang bagi anak-anak Ibu untuk duduk dibangku
sekolah, menyimak setiap pelajaran dan pengetahuan dari para Guru. Pengetahuan
yang akan mengantarkanku pada arah hidup yang lebih baik. Arah hidup yang
memberikan lebih banyak pilihan jalur kehidupan. Bukan jalur tanpa pilihan
selain penderitaan dengan kemiskinan.
Tangan
Ibu adalah tangan yang tak gentar menanggung berbagai resiko yang keras dan
tanpa belas kasihan mendera hidup. Tangan yang kasar, melegam, tetapi penuh belas
kasih menuntun dan berjuang untuk keluarganya.
Ibuku
adalah seorang perempuan yang memiliki ketabahan tidak berkesudahan,
ketangguhan yang tidak tergerus oleh penderitaan apapun dan kasih yang tak
terbatas pada kami, anak-anaknya.
Apakah
Ibu lain memiliki tangan yang serupa tangan Ibuku?
Mungkin.
Bukankah
setiap Ibu selalu mempertaruhkan nyawanya setiap kali melahirkan anak-anaknya.
Maka niscaya juga akan dipertaruhkannya kekuatan tangannya demi anak-anak yang
terlahir itu.
Satu
hal kuyakini, tangan Ibuku adalah tangan tersempurna seorang perempuan. Bagi
anak-anaknya. Bagiku.
Maka
suatu ketika nanti akan kujadikan tanganku serupa tangan Ibu. Tanganku akan
membuka jalan bagi anak-anakku, saudaraku, kerabatku dan siapapun yang teraih
olehku untuk melepaskan diri dari ketidakberdayaan menjalani takdir hidup yang
tanpa pilihan.
Tanganku,
suatu hari nanti akan memiliki kekuatan ketangguhan serupa tangan Ibuku. Tangan
yang berjuang dengan segala daya. Aku tidak akan menjadikan hidupku sia-sia.
Aku akan menjadi seseorang yang tidak biasa.
Aku
tidak akan menyerah dan gentar menghadapi hidup. Sungguh tidak.
Tangan
Ibu telah membantuku mengukir keteguhan dalam perjalanan hidupku.
Tanpa
tangan Ibu, aku tak akan ada. Tanpa tuntunan tangan Ibuku entah akan berada di
mana aku hari ini. Ibu yang menjadikan ini semua untukku dan memperkenan aku,
putrinya, untuk tumbuh dewasa menjadi diriku sendiri.
Aku
akan menjadi seseorang yang berarti, sebagai penebus lelahnya tangan Ibuku.
--------
--------
Fiksi:


1 komentar:
Tangan Ibu, tangan yang kurindu, hingga akhir waktu :-)
Post a Comment