Pada tanggal 30 November 2014 malam , ada seorang
teman yang mengirimkan pesan ke ponsel bahwa Ia sudah mentransfer sejumlah uang
ke rekening Saya dan minta tolong dibelikan sejumlah #NasiKotak pada kegiatan
#SedekahNasi yang kami motori. Ia juga menitipkan
uang untuk dikirimkan kepada seorang Sahabat yg menderita lupus dan memang
sedang sangat membutuhkan bantuan.
Jadi pagi hari Tanggal 1 Desember, sepulang berenang, Saya membeli beberapa #NasiKotak dan langsung menuju terminal untuk membagikannya kepada para pedagang asongan dan pemulung yang beroperasi diseputaran terminal.
Saat sedang ngobrol sambil sarapan dengan mereka, didepan warung rokok, salah seorang Tukang Koran mendekati,
"Bu, kalau Saya minjem 200 ribu,
ngembaliinnya berapa perhari? Selama berapa hari?"
"Hah? Maksudnya, Bang" Saya merasa kaget mendapat pertanyaan tersebut
"Hah? Maksudnya, Bang" Saya merasa kaget mendapat pertanyaan tersebut
"Gini, Bu, Saya butuh uang buat berobat
anak, jadi Saya mau ngutang ke Ibu 200 ribu. Terus Saya mesti ngembaliin berapa
kalo dicicil tiap hari?"katanya.
"Yeee... Lu kata Ibu ini rentenir?" Protes temen-temennya.
"Yeee... Lu kata Ibu ini rentenir?" Protes temen-temennya.
Si Abang nampak malu.
"Emang buat apa, Bang, uangnya? Bener, buat
berobat anak? Bohong dosa loh." Sahut Saya. Karena Saya sering banget
mendengar keluhan mereka berhutang buat menutup hutang sebelumnya plus bunga.
"Bener, Bu, anak Saya sakit buang-buang air
udah 3 hari. Udah dikasih obat diare masih ngocor aja." Si Abang
berbicara dengan mimik sangat serius.
"Ya udah, Saya percaya saja. Nih, uang buat
ke Puskesmas. Segini cukup”. Saya memberinya sejumlah uang untuk berobat
anaknya.
“Abang-abang, pernah dengar BPJS,?” Tanya Saya
kepada Para Pengasong tersebut.
“Pernah, lah, Bu. Saya kan jualan koran. Jadi sekali-kali ikutan baca”
Kata salah seorang dari mereka yang pedagang koran keliling.
“Daftar aja, Bang, Gratis.” Hehehe, mulai deh
Saya jadi penyuluh BPJS amatiran ,
“Ribet ah, Bu, ngurusnya. Belum lagi nanti pas
sakit kita ditolak Rumah sakit”. Kata si Tukang Koran.”Tuh, ada beritanya di
koran. Ada bayi
yang sampai meninggal”
Mendengar keluhan-keluhan semacam itu, Saya pun
mencoba menjelaskan sesuai pengetahuan Saya yang alakadarnya. Toh, Saya bukan petugas BPJS beneran.
![]() |
| Contoh e-ID Kartu BPJS |
”Begitu, Bang. Jadi ini program Pemerintah biar semua masyarakat yang sakit bisa berobat. Termasuk Abang-abang dan keluarga” Kata Saya “Begini aja deh, Bang. Abang-abang
Dan, pagi itu Saya pun pulang dari terminal dengan membawa 4 KTP untuk Saya bantu mendaftar BPJS. Semoga hal kecil yang Kami lakukan bisa bermanfaat bagi masyarakat marjinal. Walau baru sangat sedikit yang tersentuh tangan kami.

1 komentar:
Kenyataannya, masih aja ada diskriminasi antara orang yang punya duit dan yang gak punya duit, dalam hal pelayanan di rumah sakit..
Post a Comment