Pendapat saya, jika tanpa Joker, Batman tidak akan menjadi superhero.
Perilaku Joker yang enigmatis dan nihilistik menjadikannya antagonis yang tak terlupakan dan ikonik. Dia memberikan dimensi kompleks dan intensitas yang luar biasa pada film "The Dark Knight.
Mengapa seorang Joker bisa menjadi magnet?
Karena Joker punya segala dimensi kecerdasan kecuali hati nurani.
Dia sangat pandai mempengaruhi sehingga pengikutnya sangat setia. Pidato-pidato Joker terasa sangat masuk akal. Apalagi didukung segala macam data atas ketidakbecusan Batman menjadi warga dan konglomerat yang baik di Gotham City. Joker malah membuat hoax seolah segala kekacauan diakibatkan oleh Batman yang sok jago.
Villain itu sangat pandai mencintai sehingga Poison Ivy selalu tergila-gila dan rela berkorban apa saja. Termasuk membantu Joker melakukan kejahatan.
Dia sangat cerdas sehingga selalu beberapa langkah di depan Batman. Batman seringkali terengah-engah untuk menghalangi langkah Joker.
Dia punya visi yang sangat jelas: yaitu mengacaukan hidup Batman. Joker sebetulnya banyak memiliki kesempatan untuk membunuh Batman. Tetapi tidak dia lakukan karena bukan itu visinya.
Tetapi, sejak awal Joker secara jelas menentukan posisinya: menjadi antitesis Batman. Joker tidak pernah berpura-pura berteman dengan Batman demi mencapai ambisi, lalu menginjak kepala Batman untuk mencapai posisi lebih tinggi.
Cara Joker berbeda dengan Sengkuni.
Sengkuni itu ambivalen. Tindakannya sering bertentangan. Pagi kedele sore tempe. Demi ambisinya menjadi patih di Hastinapura, dia melakukan berbagai upaya konspirasi licik. Diantaranya berpura-pura memihak Pandawa melawan musuh abadi mereka, Kurawa.
Sengkuni menggunakan kepandaiannya dalam diplomasi dan berbicara untuk mendapatkan kepercayaan Pandawa sementara sebenarnya ia tetap setia pada Kurawa dan terus merancang rencana menjatuhkan Pandawa.
Sengkuni memfasilitasi permainan dadu Yudhishthira melawan Duryodhana. Sejak awal, Sengkuni sudah yakin bahwa skill Yudhistira (sebagai perwakilan Pandawa) bermain dadu tidak sejago Duryodhana (salah satu bala Kurawa). Namun untuk meyakinkan kubu Pandawa, Sengkuni justru membisikkan terus-menerus bahwa sudah saatnya Pandawa menaklukkan Kurawa. Dia yang memberi ide taruhan adalah Hastinapura.
"A big fish eat a big bite" katanya. Kemenangan besar membutuhkan pengorbanan besar.
Sengkuni yang menjadi juri dan wasit permainan dadu itu, secara manipulatif memantrai dadu menjadi aksha yang bisa diretas sehingga dapat dikendalikan hasilnya.
Sebagai akibat kekalahan dalam taruhan, Yudhistira dan seluruh Pandawa diasingkan selama 13 tahun. Hastinapura pun jatuh ke tangan Kurawa. Sengkuni naik menjadi patih kerajaan menggantikan Arya Gandamana.
Untuk tujuannya itu, Sengkuni rela membayar mahal. Seluruh raganya rusak akibat digebuki Gandamana yang tahu akal bulus Sengkuni. Ia yang semula gagah dan tampan menjadi penuh bopeng. Ini risiko yang telah diperhitungkan dan ia nyaman menanggungnya selama hayat dikandung badan. Demi mencapai ambisi menjadi patih di kerajaan gemah ripah loh jinawi itu.
0 komentar:
Post a Comment