Mau ngga mau aku harus mengakui bahwa aku sering dengan suka rela updating sepak terjang Lucinta Luna. Jujur pula, terkadang aku misuh-misuh dalam hati terhadap perilaku absurd-nya. Cuma dalam hati. Ngga pernah tega untuk menjulid di kolom komentar.
Di luar keputusannya untuk melakukan hal yang aneh-aneh, aku harus mengangkat topi pada ketabahan hati dan kekuatan mentalnya.
Kalau ribuan cacian di medsos bisa diabaikan dengan tidak membacanya. Tetapi kalau ledekan-bahkan hinaan yang diucapkan langsung di hadapannya, mau ngga mau masuk ke panca indra lelaki itu. Telinganya mendengar, otaknya memproses ucapan yang didengar, hormon-hormon pertahanan diri pasti otomatis meruah mengaduk-aduk emosi dan perasaan. Kalau bukan Lucinta Luna, pasti akan berujung pertengkaran bahkan baku pukul.
Kekuatan mental seperti itu hanya dimiliki oleh orang yang punya hati luas menampung bergudang-gudang stok maaf. Hati yang mudah memaafkan bisa jadi sebagai mekanisme pertahanan dirinya. Alih-alih mudah gelut. Neuroplastisitasnya jempolan.👍
Semalam aku nonton podcast Denny Sumargo dengan Lucinta Luna. Di situ dia mengaku berproses menuju tobat.
Apapun alasan LL untuk (nanti) tobat sebagai transgender adalah fitrah manusia. Tanpa dihujat sekalipun, selalu ada kegelisah-kegelisahan dari dalam diri sendiri jika melakukan hal-hal yang tidak normatif.
Hidup seorang koruptor, seorang pembunuh, seorang pemerkosa, atau peselingkuh, tidak akan tenang. Walau tidak ada orang yang tahu tetapi hati nuraninya tahu. Hati nurani adalah segala hal tentang kebaikan ilahiyah di dalam memori paling dasar seorang manusia.
Upaya Lucinta Luna untuk menuju tobat sebagai transgender adalah langkah besar yang seharusnya mendapat dukungan. Ini mencerminkan keinginan untuk hidup sesuai dengan nilai-nilai yang diyakininya, dan kita seharusnya memberikan ruang bagi setiap orang untuk mengejar kebahagiaan mereka tanpa takut dicemooh.
Setiap individu memiliki perjalanan hidupnya sendiri, dan kesalahan yang dibuat di masa lalu tidak selalu mencerminkan siapa mereka saat ini. Memberikan kesempatan untuk berubah adalah tindakan manusiawi yang patut diapresiasi.
0 komentar:
Post a Comment