Oleh Rinny Mirari Ermiyanti
"Espresso. Extra triple shot. No sugar!" tegas kalimat perempuan itu. "Aku ingin tahu, akankah kopimu sepahit lukaku."
Hanya tiga menit berlalu, barista mengulurkan secangkir kopi pesanannya.
"Kali ini, kau sendiri?"
"Seperti yang kau lihat."
"Kekasihmu?"
Mereka memang kerap bersama saat mengunjungi kafe ini. Perempuan itu menerima cangkir kopinya sambil menggeleng.
"Bukan lagi. Setelah dia menitipkan luka di hati."
"Oh...."
Barista kemudian pergi melayani pesanan lain. Tetapi perempuan itu kembali menghampiri konter.
"Tambahkan lagi extra triple shot! Kopimu belum sepahit lukaku."
"Kau tidak akan bisa tidur malam ini!"
Walau begitu, barista tetap memenuhi permintaannya.
"Bagus," perempuan itu mengangguk. "Aku punya alasan untuk terjaga sambil menisik luka hati."
Barista mengerjakan pekerjaannya dengan cepat dan terlatih. Perempuan itu mengamati dengan saksama hingga barista menghidangkan kembali cangkir kopi di hadapannya.
Perempuan itu mengangkat cangkir ke bibirnya.
Menyesap dengan hati-hati kopi yang masih mengepulkan asap dengan harum khas yang digilai kekasihnya.
Dia pun menghidu aroma itu.
Mata perempuan itu terpejam. Lidahnya mengecap. Hidungnya menarik napas dalam. Seolah hendak menenggelamkan rasa dan aroma kopi ke dalam dadanya.
Ingin memuaskan rasa pahit yang dicarinya, perempuan itu sekali lagi menyesap kopi. Kembali dia memejamkan mata, mencecapkan lidah, dan menarik napas dalam.
Lalu perempuan itu menatap intens ke cangkirnya. Seakan mengamati senyawa-senyawa yang saling larut-melarutkan di dalam cairan hitam pekat. Seolah ia tengah mencari sesuatu.
Ketiga kali ia menyesap kopinya. Kemudian menggeleng putus asa.
"Hei!" Perempuan itu melambai ke konter pesanan. Barista menghampiri.
"Mengapa kopimu belum sepahit lukaku?" tuntut perempuan itu.
"Aku membuatnya sesuai pesananmu." Barista menatap perempuan yang sedang kecewa itu dengan masygul.
"Tidak! Tidak! Kau belum... Ah, aku kecewa! Ternyata kau tidak bisa membuat kopi sepahit lukaku. Sepahit rasa yang kau dan kekasihku jejalkan ke hati, saat kudapati kalian bercinta di balik pintu belakang kafe ini."
Derai airmata perempuan itu pun jatuh ke cangkirnya.
0 komentar:
Post a Comment