Saya terlahir sebagai anak kedua.
Namun sebagai anak perempuan pertama, maka saya jadi tangan kanan Ibu. Saya jadi lebih sering (sok) mengatur adik-adik saya. Kehidupan masa muda yang
struggle juga membuat saya harus berpikir dan memutuskan sendiri jalan hidup
saya. Sehingga saya merasa mandiri. Ujung-ujungnya tingkat ego saya tinggi.
Belakangan terpikir, saat masih
muda saya memelihara ego "to the max level" adalah sebagai salah satu
bentuk pertahanan diri.
“Naksir gue? Jangan coba-coba nanti lu ngerubah gue. Apalagi
nanti nyuruh gue begini begitu.”
Ini kalimat saya saat dilamar seorang teman dekat.
Ini kalimat saya saat dilamar seorang teman dekat.
“Siapa lu, segitunya ama gue. Gue ngga perlu bergantung ama lu.
Gue bisa 'cari makan' sendiri.” Kalimat saya saat tersinggung masalah uang.
*Sori ye, lu kira gue bego ngga ngerti hal kayak gitu. Lu ngga
perlu deh ngasih tau ke gue.” Beginilah respon saya saat dinasihati.
Dan sederet pernyataan bernada arogan lainnya saat (calon) suami
dan orang lain mengharapkan saya berkelakuan tertentu. Saya merasa tingkah laku
saya sudah benar.
Contoh yang lain adalah ketika saya akan menikah. Buat mas kawin
dan seserahan, saya sih memang ngga minta sepatu dari kulit rusa. Saya juga
ngga minta tas hitam dari kulit buaya. Apalagi selendang dari benang sutera.
Semua itu kutak minta. Yang kuingikan hanya cinta bukanlah harta. Tapi saya
mengajukan syarat pada calon suami,: "Jangan sekali-kali ya menyuruh saya
berhenti bekerja. Saya udah capek sekolah ngapain cuma nganggur doang. Saya
pingin bebas punya duit sendiri."
Untunglah (calon) suami pun sepakat. Kalau saat itu dia pas lagi sebel sama saya, dijamin deh,
masa perjombloan saya akan lebih panjang.
Tapi nyatanya, begitu kami punya anak dua sekaligus, malah dengan suka cita saya ‘angkat bendera’.
Saya berhenti bekerja. Bukan karena
suami yang menyuruh melainkan ‘peringatan’ yang datang dari seekor kucing.
Di suatu senja di musim
yang lalu ketika itu hujan rintik, di halte Cempaka Putih saya melihat seekor induk kucing sedang menyusui anak-anaknya. Saya langsung memutuskan resign saat itu
juga.
"Dalam memperlakukan bayinya, masa gue kalah ama emak kucing!" Begitu pikir saya. Ego saya yang tadinya 'sok bisa cari makan sendiri', saya turunkan levelnya. Saya mengalah, menerima seluruh kebutuhan saya dibiayai oleh penghasilan suami.
"Dalam memperlakukan bayinya, masa gue kalah ama emak kucing!" Begitu pikir saya. Ego saya yang tadinya 'sok bisa cari makan sendiri', saya turunkan levelnya. Saya mengalah, menerima seluruh kebutuhan saya dibiayai oleh penghasilan suami.
(Qadarallah, bertahun-tahun setelah keputusan tersebut, saya
bisa kembali bekerja. Plus bisa kembali sekolah.)
Disamping soal pekerjaan, ada banyak lagi kejadian yang membuat
saya harus menyurutkan ego. Karena jika saya kekeuh, niscaya karamlah biduk rumah tangga ini.
Demi apa?
Demi anak-anak.
Perselisihan kan biasanya akibat ada ketidak sesuaian harapan
dan kenyataan. Kita berharap pasangan bertindak A, eh malah kenyataannya dia
bertindak B. Dan ego kita tak bisa menerima bahwa ia tidak memenuhi harapan
kita. Maka terjadilah perang.
Saya bukan manusia yang tanpa cacat cela. Jadi saya juga ngga
bisa mengharapkan suami adalah seseorang yang sempurna. Menyadari hal itu, sekarang
saya cuek dengan segala daftar kriteria "ciri-ciri suami idaman" yang
ada di artikel tabloid anu, yang sempat menjadi bahan acuan buat saya dulu. Karena
ternyata saya sendiri ngga bisa memenuhi lebih dari 75% ciri-ciri istri
idaman.
Tapi tentu saya juga menetapkan batas toleransi: Saya tidak akan terima segala macam jenis "abuse". Baik secara verbal, emosional apalagi fisik. BIG NO!
Hari ini saya melihat lagi seorang teman yang terjebak
dalam ‘adu tinggi ego’ dengan suaminya. Saya
tidak berani lagi memberi saran begitu-begini padanya, karena malah akan jadi
bertengkar tulisan melalui WA dengannya. Cuma saya koq terlalu sayang padanya untuk
bersikap masa bodoh. Maka saya tulis disini aja ya saran dari saya. Barangkali suatu saat dia pas nyasar ke blog saya ini, jadi dia bisa membaca tulisan ini.
Teman tersayang, plis deh, kurangi level harapan 'kesempurnaan terhadap suami. Juga terhadap anak-anak.
Karena habit tiap
orang kan berbeda. Suamimu itu asal muasalnya kan 'orang lain'. Segala
kebiasaannya, cara berpikirnya berbeda dengan kamu. Dan hal tersebut telah
terbentuk tahunan sejak ia masih bayi. Jadi kamu ngga bisa memintanya berpikir
dan bertindak sama plek dengan kamu. Beri ia kelonggaran waktu untuk
menyesuaikan diri terhadap harapanmu. Dan juga paksa dirimu untuk menyesuiakan
diri dengannya.
Pernikahan kami sih baru 16 tahun, tapi dari situ saya belajar
bahwa upaya kami untuk saling menyesuaikan harus dilakukan terus menerus.
Agar damai di hati. Damai di keluarga. Damai di bumi.
Curhatan saya lainnya:
Curhatan saya lainnya:
3 komentar:
setuju mbak. saling pengertian buat damai di hati..
wow sudah 16 tahun,semoga langgeng terus ya mbak. Ego ini memang paling susah diturunkan jika bukan diri kita sendiri yang menyadari bahwa manusia itu tidak ada yang sempurna.
Cantik tulisannya, mbak. Makasih. Sy belajar hal baru lagi.
Post a Comment