1.
Pengaruh Sinetron
Kemarin siang salah seorang teman
menuliskan status di dinding Facebooknya : Teman2 Analis Kimia Carnus: Ade Sara yg
tewas dibunuh dan mayatnya di buang di tol Bintara, benarkah anak dari Suroto
dan Elizabeth,
teman sekolah kita?
Status FB tersebut tentu mengejutkan. Saya pun terdorong untuk browsing beritanya lebih intens. Hasilnya potongan berita-berita yang tersaji di beberapa portal berita online membuat perasaan saya teraduk-aduk antara ngeri, sedih dan salut.
Bagaimana perasaan saya
tidak ngeri saat membaca pelaku pembunuhan tersebut adalah sepasang remaja, Ahmad Imam Al Hafitd (20
thn) dan Assyifa Ramadhani (19 thn). Mereka merencanakan
pembunuhan tersebut sejak seminggu sebelumnya. Hafidt, yang merupakan mantan
pacar korban, merasa sakit hati karena korban tidak mau lagi dihubungi.
Sedangkan alasan Syifa, yang merupakan kawan SMA sekaligus pacar baru Hafitd,
merasa cemburu , khawatir jika Hafidt CLBK dengan Sara.
Perasaan dan ketakutan yang
didramatisir ini sanggup menghilangkan akal sehat , sehingga tidak
menimbang efek dan dampak kejahatan tersebut bagi masa depan mereka. Dari mana mereka belajar
tentang kekerasan , balas dendam bahkan
membunuh? Dengan mudah saya akan menunjung hidung :MEDIA MASSA!!!.
Lihatlah yang terhidang di
media massa
sekarang. Portal berita menurunkan
pembunuhan lengkap dengan detail teknik
membunuhnya disampaikan berulang-ulang bagaikan cerita bersambung. Dari
tulisan yang gamblang seperti itu, para remaja galau ini akan mudah menyerap
informasi : Oohh.. kalau mau membunuh, begini toh caranya.
Begitupun sinetron remaja menayangkan hingga puluhan seri kisah balas dendam karena kekasih yang direbut, penganiayaan si Kaya terhadap si Miskin, saling benci antar tetangga, saling caci-maki dalam berita gosip dan sebagainya. Dan tontonan-tontonan tersebut ditayangkan di prime-time. Jika menyaksikan tayangan-tayangan tersebut setiap hari, maka akan menjadi terbiasa dan menganggap seolah-olah begitulah perilaku keseharian kita.
Apakah tidak ada pengaruh
orang tua terhadap perilaku anaknya? Pada
usia remaja ini pengaruh peer
group lebih dominan terhadap
perilaku keseharian, karena dalam grup bersama teman-temannya mereka merasa lebih bebas dan ‘menjadi diri
sendiri’. Bagi remaja yang kemudian ‘terisolasi’ karena telah memiliki pacar,
maka perilaku pacarlah yang menjadi tolok-ukurnya. Pacar yang baik akan
mempengaruhi pasangannya menjadi anak baik.
Dan, pada hubungan Hafidt dan Syifa, Hafidt yang hobi menonton film bergenre psiko-thriller, tampaknya berhasil mempengaruhi Syifa untuk bersedia menjadi partner in crime-nya.
Dan, pada hubungan Hafidt dan Syifa, Hafidt yang hobi menonton film bergenre psiko-thriller, tampaknya berhasil mempengaruhi Syifa untuk bersedia menjadi partner in crime-nya.
Bersambung…

2 komentar:
Saya jg prihatin banget, mbak. Ngeri bayangin masa depan. Smg Allah membantu kita dlm membimbing anak2, khalifah bumi yg amanah dan berbudi pekerti luhur ya mbak... aamiin
aamiinn.. Pengaruh luar bagi anak pengaruhnya lebih masif dibanding jaman kita dulu.
Post a Comment