Begitu potongan pertama kukunyah, ingatanku langsung terbang ke tepian sebuah sawah yang menghampar sejauh mata.
Lahan luas itu milik PTPN. Tanaman utamanya padi. Tetapi terkadang ditanam tebu, palawija, rami, kacang kedele, atau buah-buahan seperti semangka. Pak Alif, tetangga Mbah yang jadi mandor, bilang pemilihan tanaman yang akan ditanam adalah sesuai "Instruksi Bapak Presiden" kala itu.
Sebagai anak-anak (kampung), kadang aku ikut panen padi, kadang ikut mencuri tebu atau kacang (ups, kenakalan masa kanak-kanak), kadang kami boleh beli semangka dengan harga sangat murah sebelum diangkut ke pengepul.
Rasa semangka yang menjejak lidahku, sore ini menjadi mesin waktu.
Ternyata aroma dan rasa memiliki kemampuan kuat untuk membangkitkan kenangan masa lalu karena keduanya terhubung secara erat dengan sistem otak yang mengatur memori dan emosi. Ketika kita mencium aroma atau merasakan rasa tertentu, impuls saraf dikirim dari reseptor di hidung atau lidah ke otak, khususnya ke dua area penting yang terlibat dalam memori: amigdala dan hipokampus.
Amigdala adalah bagian otak yang berperan dalam memproses emosi dan menghubungkannya dengan ingatan. Aroma atau rasa yang kuat dapat langsung mengaktifkan amigdala, yang kemudian memicu respon emosional yang kuat. Misalnya, jika Anda mencium aroma kue ibu Anda, amigdala dapat segera menghubungkannya dengan rasa bahagia dan kehangatan yang Anda rasakan saat memakan kue tersebut di masa kecil.
Selain amigdala, hipokampus juga sangat terlibat dalam membentuk dan menyimpan ingatan jangka pendek dan jangka panjang. Saat kita mencium aroma atau merasakan rasa yang terkait dengan pengalaman masa lalu, impuls saraf dari reseptor akan sampai ke hipokampus, yang mengaktifkan ingatan yang terkait dengan pengalaman tersebut. Ini menjelaskan mengapa aroma atau rasa tertentu dapat membangkitkan kenangan yang seolah-olah kita sedang kembali ke masa lalu.
Ada banyak penelitian yang telah dilakukan untuk mempelajari hubungan antara rasa, aroma, dan memori. Misalnya, sebuah studi yang diterbitkan dalam jurnal "Neuron" pada tahun 2015 menunjukkan bahwa aroma dapat mempengaruhi pengingatan dan meningkatkan konsolidasi memori saat tidur. Penelitian lain juga telah menunjukkan bahwa aroma tertentu dapat memicu ingatan yang kuat dan mendalam.
Selain itu, neurologis dan ahli neurosains terus melakukan penelitian lebih lanjut untuk memahami secara lebih mendalam bagaimana otak menghubungkan rasa, aroma, dan memori. Teknologi pemindaian otak seperti MRI telah digunakan untuk mempelajari aktivitas otak saat seseorang mengalami pengalaman sensorik, termasuk rasa dan aroma.
Meskipun demikian, tentu setiap individu memiliki respons yang berbeda terhadap sensasi rasa dan aroma, tergantung pada pengalaman dan konteks personal mereka.
0 komentar:
Post a Comment