Di tahun 1980-an, masih jarang perempuan Indonesia berjilbab. Di tahun 1990an mulai banyak perempuan berjilbab terutama dari kalangan mahasiswa dan pelajar yang aktif di Organisasi rohis. Sudah tentu, juga para santriwati.
Mulai tahun 2010an, 90% (ini perhitungan saya sendiri, tanpa sensus tentu) perempuan Indonesia beragama Islam yang saya lihat, saya kenal, saya temui, memakai jilbab. Hanya sedikit sekali yang 'berani' tidak berkerudung.
Saya besar di lingkungan pesantren. Ketika SMA saya tidak berkerudung ke sekolah, saya dianggap mbalelo. Tapi saya nyaman aja, karena siswi di sekolah mayoritas tidak berkerudung. Dari sekitar 20an siswi teman seangkatan, cuma 2 yang berkerudung.
Di tahun 1995, ketika saya memutuskan berkerudung, saya nyaris dipecat. Untung saya karyawan berprestasi. Saya menjadi satu-satunya karyawati Perusahaan Jepang (salah satu produknya Vitamin C hisap) yang berjilbab.
Dari pengalaman pribadi itu, saya meyakini bahwa berkerudung, berjilbab, memakai bergo, atau bercadar adalah suatu proses yang melibatkan keimanan dan keteguhan untuk menjadi lebih baik. Sekaligus dengan berkerudung, saya membawa identitas keagamaan dan memamerkannya ke khalayak.
Di Singapore, saya baru akan masuk ke sebuah restoran, seseorang yang lewat langsung mencolek. Dia tanya saya mau pesan makanan. Setelah saya iyakan, dia ngasih tahu bahwa makanan di restoran itu tidak halal. Lalu dia menunjuk ke restoran yang lain, yang ada logo halal.
Saat ke McD di Liverpool, saya pesan burger dan kentang goreng lewat mesin. Di depan konter untuk ambil makanan, begitu melihat saya, petugasnya ngomong: "Burger ini mengandung ham. Kamu mau ganti menu lain atau uangnya mau direfund?". Tanpa saya berkata bahwa saya seorang muslim.
Sekali lagi, kerudung adalah identitas keagamaan saya. Maka mestinya saya berusaha bersikap yang terbaik untuk nama baik agama saya. Karena kalau saya berengsek di muka umum, orang langsung menilai seorang muslim yang telah berkelakuan berengsek. Kerudung yang terlihat duluan yang dinilai, sebelum mereka melihat nama, alamat, bahkan kebangsaan saya yang tertera di paspor.
Di dalam Islam, bahkan Rasulullah S.A.W. sendiri pernah berkutbah "Demi jiwa Muhammad yang berada di tangan-Nya, seandainya Fatimah puteri Muhammad mencuri, aku akan memotong tangannya.” (HR. Bukhari no. 4304 dan Muslim no. 1688).
Lalu, setiap kali saya melihat pelaku korupsi berjilbab, seperti yang saya lihat pagi ini di koran online, hati saya sakit dua kali.
Pertama, sakit hati karena uang untuk kesejahteraan rakyat dicuri. Yang berarti uang untuk kesejahteraan saya juga.
Kedua, sakit hati karena orang yang berani-beraninya memakai identitas keagamaan yang saya anut melakukan tindakan yang bahkan Rasulullah S.A.W sangat membencinya.
0 komentar:
Post a Comment